Foto: dok. pribadi Julain Howai

 

Oleh: Julian Howai

Tiga pekan setelah pembunuhan Pdt. Dr. Marthin Luther King,Jr, pada 4 April 1968, dewan kota Mainz di Jerman, memasang nama sang aktivis hak-hak sipil ini di salah satu jalan kota. Keputusan itu diambil hanya dalam beberapa hari.

Sementara kota kelahiran King, Atlanta, yang menjadi ibu kota negara bagian Georgia, AS, membutuhkan waktu delapan tahun. Sedangkan kota Memphis, Tennessee, tempat King dibunuh juga memasang namanya di salah satu jalan kota.

Tapi itu dilakukan setelah lebih dari 40 tahun sejak dia wafat. Kini lebih dari 1000 (seribu) ruas jalan di dunia menyandang nama MLK atau Marthin Luther King,Jr. Sedangkan di Amerika Serikat, setidaknya terdapat 955 ruas jalan yang menyandang nama King.

Dari sejarahnya, King dan ayahnya yang juga seorang pendeta Gereja Baptis Dexter di Atlanta, Georgia, AS, sejak awal sesungguhnya bernama Michael King,Sr dan Michael King,Jr.

Sang ayah Michael King,Sr dalam kunjungannya ke Berlin Jerman di tahun 1934 lantaran sangat terkesan dan terinspirasi dengan sejarah perjuangan sosok tokoh reformasi Protestan Marthin Luther, setelah kembali ke Atlanta, dia mengubah namanya dan nama anaknya yang saat itu berumur 5 tahun.

Pada 28 Maret 1968, King memimpin ribuan pengunjuk rasa berpawai dari Linden Avenue, Memphis, Tennessee, hingga balai kota untuk memprotes wali kota Henry Loeb, yang mendukung kebijakan anti penyatuan dan segregasionis (pemisahan berdasarkan warna kulit/ras).

Loeb sebelumnya telah menolak bernegosiasi dengan para buruh sanitasi berkulit hitam yang tengah melakukan aksi mogok. Namun pawai ini pun berujung rusuh. Banyak orang terluka dan ditangkap !

Untuk membuktikan bahwa King dapat memimpin aksi damai, dia kembali pada 3 April di tahun yang sama. Malam itu dia membawakan pidato “I have been to the Mountain top,” suatu pidato lain selain “I have a dream.” Sayangnya, keesokan harinya di pagi hari saat ia sedang berjalan di balkon sebuah motel tempat dia menginap di Memphis, dia ditembak orang tak dikenal hingga tewas.

Puluhan tahun sejak kematiannya di kota itu, pada musim panas tahun lalu (2018), dewan Kota Memphis telah sepakat untuk memberikan santunan kepada 29 tukang sampah (pekerja drainase) berkulit hitam yang pernah terlibat dalam aksi unjuk rasa bersama King dan saat ini masih hidup.

Pemberian santunan dimaksudkan untuk mengatasi kondisi yang mengakibatkan terpangkasnya nilai pensiun mereka. Sebab setelah dipotong pajak, nilai pendapatan yang mereka terima sejak kematian King hanya sekitar 14 juta rupiah per tahun. Jumlah yang sangat kecil sehingga bagi sebagian dari mereka yang saat itu masih mengoperasikan truk sampah, uang sebanyak itu tak cukup untuk masa pensiun dan menghabiskan hari tua saat ini.

Akhirnya, Pdt. Dr. Marthin Luther King, selalu dikenang dengan cita-citanya yang sederhana: “anak-anak kulit hitan dan kulit putih, suatu saat akan bergandengan tangan, seakan bersaudara,”. Ucapan King yang lebih sering terlupakan mengandung jauh lebih banyak tuntutan, yakni “untuk menciptakan keadilan, diperlukan redistribusi radikal kekuatan politik dan ekonomi.”

Kata-kata penuh makna yang lain saat ia berpidato setahun sebelum terbunuh adalah “Di seluruh dunia, manusia memberontak melawan sistem eksploitasi dan penindasan yang telah ketinggalan zaman, dan dari luka dunia yang rapuh, sistem keadilan dan kesetaraan baru terlahir.”

Pdt. Dr. Marthin Luther King,Jr, yang terlahir dengan nama Michael King Jr, lahir di Atlanta, Georgia, pada 15 Januari 1929.  Ia terbunuh dan wafat sehari setelah memimimpin aksi protes di Kota Memphis, Tennessee pada 4 April 1968 pada usia 39 tahun.

Makam tempat peristirahatan terakhir King dan istrinya Coretta disemayamkan di kompleks Historical Area, Downtown Atlanta, Georgia. Lokasi ini kini menjadi tempat bersejarah yang selalu dikunjungi ribuan peziarah, baik warga AS sendiri maupun dari luar negeri yang datang untuk mengenang sejarah perjuangan tokoh pejuang hak-hak sipil itu.

Pada lokasi sekitar makam King dan istrinya, juga berdiri patung-patung Mahatma Gandhi, tokoh kharismatik dan pejuang kemerdekaan India untuk membebaskan diri dari kolonialisme Inggris. Sosok Gandhi telah memberikan pengaruh besar terhadap visi dan arah perjuangan King dalam memperjuangan hak-hak sipil dengan cara aksi damai tanpa kekerasan (non violence).

Pada lokasi “Historical Area’ di Downtown Atlanta, Georgia, AS, makam King dan istrinya ditempatkan di tengah kolam air yang jernih. Di sisinya terdapat berbagai foto King semasa hidup dan juga dibuat sebuah tungku dengan api abadi bernama “eternal fire” yang tidak pernah padam selama makam King dibangun. Api ini mencerminkan semangat perjuangan King yg tak pernah padam.

Di sekitar lokasi ini juga terdapat Seminary Theology Baptist dan Gereja Baptis tempat King biasanya mengajar dan berkhotbah dalam pelayanannya. Juga terdapat beraneka model patung yg indah, selain patung sosok Mahatma Gandhi.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *