end rasis

Oleh :Musa Pekei

Situasi rasisme pada 15 Agutus 2019 yang di pimpian oleh kawan-kawan solidaritas Front Rakyat Indonesia Untuk West papua (FRI-WP) dan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)  di Malang  dengan aksi tuntutan hari New York Agreement yang berimnbas pada pengepungan  Asrama Kamasan Mahasiswa Papua di Surabaya .dengan jumlah 43 Mahasiswa papua (akses 19/08/2019 cnnindonesia.com). Pengepungan ini awalnya adalah emosional dari kelompok Ormas reaksioner ,Polisi dan TNI yang berusaha mengahalangi dan merepresif aksi tuntutan Mahasiswa Papua yang berpuncak pada pelampiasan amarahnya kapada kawan -kawan mahasiswa papua di Surabaya dengan memanipulasi atau menarasikan  bahwa  adanya indikasi melepaskan bendera merah putih dan membuang ke dalam parit samping asrama mahasiswa Papua.

Situasi ini menjadi opini dan pembenaran dalam kalangan aparat keamanan Oramas, Polisi, TNi, Pemuda Pancasila, FKKP. Kemudian didukung oleh Birokrat pemerintahan daerah Gubenur,walikota dan camat.Pada pukul 16.00 WIB pihak keamanan datang berkordinasi dengan team pasukann anti teror masuk lokasi asramama dan membuang gas air mata ke dalam asarama dan mengancam akan di bunuh,jika tidak keluar dari asrama.

Reaksi dari ancaman dan pembungkaman demokrasi ini ,mengakibatkan Rakyat Papua tidak terima dengan tindakan ini dan banyak massa aksi protes di lakukan di Jawa, Sulawesi dan Papua. Keadaan ini masyarakat Papua tidak menerima secara  kenyataan dan melakukan aksi protes di beberapa titik kota. Baik di Papua dan Papua barat.Pembakaran tokoh, kantor dan ruas  jalan di kuasai oleh aksi massa. Merespon dari aksi spontant tersebut, Polda, Kodam  Provinsi papua dan Papua  Barat, Negara langsung  menjabat putra daerah Papua sebagai pejabat aparat Keamanan.

Negara di bawa kepemimpian rezim Jokowi  &  Maa’aruf  mengambil kebijakan yang lebih rasis, Fasis  terhadap rakyat kelas tertindas.Pasca rasis itu  banyak Mahasiwa dari organisasi cipayung seperti GMNI, HMI mengambil keutungan dengan mengajak beberapa Mahasiswa Papua  ikut kegiatan Walikota Malang  dan kegiatan merajut multikultutralisme di Semalang. Ternyata pemerintah kota Malang, Aparat Kepolisian  dan Dandim sudah berkodinasi dengan organisasi cipayung ini untuk menjebak Mahasiswa Papua  dalam kegiatan tersebut. Selain itu Kebijakan itu terlihat  juga pada pasca saat rasis bagaimana Jokowi memerintahkan Panglima dan Polri untuk cepat melakukan restruktur pejabat Kodam dan Polda di Papua, Papua Barat dan Jawa Timur. Sementara  itu, pada 03 mei 2020 atas nama  Kombes Pol Jhonny Edison dilantik menjadi Kapolrestabes Surabaya. Pelantikan putra daerah Papua ini juga atas anjuran presiden, sekaligus dalam penanganan pemulihan situasi pasca rasisme Papua di Surabya. Tindakan ini dilakukan guna merangkul mahasiswa mahasiswi Papua yang berkuliah di Jawa Timur dengan pendekatan cultural kepapuan. Sebab tensi politik dan gerakan perjuangan Papua merdeka di kalangan mahasiswa Papua semakin naik di Jawa Timur.

Selain itu ada Kapolresta  Malang juga pasca pengusiran secretariat mahasiswa Papua di Dinoyo Malang, Polresta Malang tidak bertanggung jawab atas insiden yang dialami mahasiswa Papua, dan saat itu juga Polda Jawa Timur memindahkan tugas ke satuan Kepolisian ke kabupaten  lain dan Polda Jawa timur berkorinasi ke Polri dan kebijakannya saat itu adalah adanya pemindahan tugas baru dari Kapolres Jayawijaya ke Malang. Karena Polres Malang ini orang yang pernah bertugas lama di Wamena, maka pendekatan penyelesaiaan  masalahnya pernah di lakukan dengan dialog anatar Walikota, DPRD, Kodam dan Polres. Namun metode ini sama saja dilakukan oleh pelaku dan pelaku pula yang berusaha berunding atau  memediasi. Sama halnya dengan apa yang  perna pahlawan Indonesia Tan Malaka katakana bahwa, “Tuan  Rumah Tidak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”.

Dalam situasi tensi politik Perjuangan mahasiswa Papua di Malang, Jawa Timur, pada tahun 2018 ketika ada pertandingan sepak bola di bumi Arema, pernah  ada  kasus berita  upaya provokasi oleh salah satu media local Radar Malang pernah mencetak Koran dengan  jendela depan, berjudul Arema FC vs  Persipura “Ker” Artinya pemojokan nama Persipura dengan kalimat kera/kete atau monyet. Koran atau media ini yang setiap kali aksi atau kalrifikasi mahasiswa Papua. Selalu isi beritanya memojokan isi berita mahasiwa papua se -malang Raya. lInk berita ini juga yang selalu  di pake oleh aparat kemanan polisi dan TNI dalam upaya pemojokan setiap pergerakan mahasiwa Papua. Dalam berita  soldiratis perangi covid 19 yang di libatkan aparat bersama mahasiwa Papua itu juga di liput beritanya oleh www.radarmalangpost.com .

Karakter punguasa kepada kaum minoritas selalu menang dengan alat propaganda media dan membangun opini yang berupaya menggiring pandangan masayarakat Malang Raya untuk tidak terlibat atau bersimpati dengan mahasisawa Papua di se-malang raya. Sisi lain Penguasa Negara hari ini berusaha menciptakan pengkondisian di structural birokrasi keamanan maupun pemerintahan dalam  mengadvokasi pergerakan mahasiswa maupun rakyat dalam melawan sytem Kolonial Indonesia di Jawa Timur. Mereka yang di tempati di struktual keamanan militer maupun kepolisian juga di tempati oleh  mereka yang berlatar belakang  pengalaman bertugas di Papua maupun asli putra daerah papua. Cara pengambilan kebijakan rezim Jokowi hari ini dalam  menghadapi situasi pergerakan mahasiswa Papua, lebih condong dengan penempatan putra daera Papua atau orang yang berpengalaman tugas di Papua. Mengapa demikian, karena situasi Jawa Timur khsusnya Malang dan Surabaya dalam pergerakan mahasiswa lebih kuat baik dalam konteks persatuan maupun  bersolidaritas dengan rakyat Indonesia dalam melakukan kampanye politik dan demokrasi hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa bagi bangsa  West Papua.

Pergerakan ini menjadi ancaman dan pencegahan buat resim hari ini dalam mengendalikan situasi pergerakan mahasiswa Papua. Belum lagi adanya anggota aktif intelkam asli Papua yang juga pendukung atau pembina dari organisasi tandingan yang sudah terbentuk dengan nama, Ikatan keluarga besar Papua Surabya (IKBPS) organisasi ini adalah organisasi tandingan dari ikatan mahasiswa Papua (IPMAPA) Surabaya. Tujuan dari organisasi tandingan ini  untuk menghancurkan persatuan dan pergerkan mahasiswa papua dalam menyikapi berbagai persolan terutama tuntutan hak penetuan nasib sendiri. Pembina dari organisain IKBPS adalah salah satu Polisi aktif, ada intel asli papua  sudah di pindahkan tugasnya di Malang. Selama bertugas di Malang, Intel ini melakukan konsolidasi dengan mahasiswa Papua mengajak bermain futsal bersama,konsolidasi dengan PRD, dan merangkul mahasiswa Papua di Malang, melakukan kegiatan bersolidaritas dengan pihak Kodam, Polres Malang   melakukan pembagian masker dan bama kepada mahasiswa Papua. Kegiatan ini juga tidak berkordinasi dengan ikatan Pelajar  mahasiswa Papua (IPMAPA) Malang. Yang selama ini menjadi payung dalam memproteksi persatuan mahasiswa Papua se-Malang Raya di Jawa Timur. Negara hari ini focus membangun pendekatan dengan mahasiswa Papua di Jawa Timur Surabaya –Malang. Pendekatan  yang mereka lakukan hari ini adalah bagaimana dengan melibatkan senioritas-senioritas yang tidak bisa baca situasi politik pergerakan mahasiwa Papua se-Malang Raya. Mengambil hati mereka dan menganjak main futsal bersama dan memberikan bantuan bama ke kontrakan kontrakan Papua tanpa ada koordinasi dengan ikatan pelajar  Mahasiwa Papua (IPMAPA) Se-Malang Raya. Situasi ini aparat kemanan memanfatkan situasi covid 19 sebagai alasanya dalam peran pembagain Masker dan Bama.

Resim jokowi – Maaruf ini sedang mengambil simpati rakyat Papua dengan pendekatan humanis dan menempatkan posisi strategis dengan orang orang yang sudah secara pendekatan budaya sudah bisa mengambil simpati dan merangkul orang Papua. Pasca rasisme 15 Agustus 2019, dalam satu bulan itu juga aparat berusaha mendekati mahasiswa papua dengan meberi bantuan dan juga ada uang 500-1 miliar di tawarkan kepada  BADAN PENGURUS HARIAN IPMAPA dengan tujuan tidak IPMAPA tidak memprovokasi mahasiswa Papua se-Jawa Timur. Keputusan itu biasanya di bawa control dan masih pada prinsip musyawarah  dan satu dalam menyikapi itu, maka saat itu juga mahasiswa Papua semalang raya menolak  segala bentuk bantuan dalam bentuk apapun. Belajar dari pengalaman itu, maka negara hari ini sedang membangun dan mendekati  orang Papua dengan pendekatan humanis, penempatan jabatan orang asli Papua atau menempatkan posisi mereka yang sudah berpengalaman bertugas di papua. Contohnya penunjukan putra daerah terbaik Irjen.Pol.Drs.Paulus Waterpauw, Polda Papua dan Mayor Jendral Herman Asaribab  Kodam Papua dan sebelumnya Letnan Jendral Joppie Onesimus Wayangkau dan diganti lagi oleh  Mayor Jendral Ali Hamdan Bogra,S.IP Kodam Papua Barat. Mereka ini semua adalah putra daerah terbaik Papua yang sebelumnya belum  perna mengalami kenaikan pangkat. Namun pasca rasis di Surabaya, mereka semua mendapatkan posisi yang strategis dan memimpin institusi kemanan di Papua maupun Papua Barat. Selain itu di Jawa Timnur sendiri juga ada ada perubahan dan penempatan jabatan baru di Kapolrestabes Surabaya yang dipimpin oleh Kobes Pol Jhonny Edison Isir (2/06/20,jatim.www.akuratnews.com). Penempatan ini juga dipengaruhi oleh pergerakan politik hak penentuan nasib sendiri yang selalu di gerakan oleh  mahasiswa Papua di Jawa Timur (Surabaya -Malang). Kerja  kerja politik dan propaganda yang sedang di lakukan oleh  Birokrasi pemerintahan  provinsi Jawa Timur  adalah menempatkan posisi orang asli papua sendiri sebagai subyek dalam merangkul mahasiswa papua. Metode nya memanfaatkan situasi covid -19 dengan menjebak mahasiswa Papua ikut bersolidaritas membagikan masker dan pembagian bama. (Baca : Ini Nasib Mahasiswa D I asrama Papua kota Malang saat pendemi covid 19 di akses pada radar malang,Jawapos.com.1 Mei 2020 pukul 09:32 Pm). Kondisi ini Negara berusaha menggiring isu atau opini public dengan mengikut sertakan mahasiswa papua dalam aktivitas pembagian masker atas nama NKRI harga mati atau pacasila. Negara hari ini berupaya membangun isu melalui media online mapun cetak. Sementara mahasiswa Papua di Jawa Timur masih terkonsolidasi dalam satu payung IPMAPA dalam berserikat, berkumpul dan menyikapi persolan secara bersama.

Negara hari ini berupaya melakukan merombakan jabatanng structural dalam aparat kemananan polisi dan TNI di wilayah Jawa Timur. Kebijakan ini guna mempersempit dan memecah belahkan persatuan dan solidaritas Mahasiswa Papua di Jawa Timur. Sesudah rasime pada awal januari 2020 gabungan aparat keamanan sudah memantau semua aktivitas mahasiswa dan mulai memastikan setiap paguyuan, komunitas dan mencari kesenangan Mahasiswa Papua. Aktivitas nampak awal mulai  Mei dengan melibatkan mahasiwa dalam pembagain masker dan semprot Distenfikasi ke rumah-rumah warga bersama TNI/Polisi. Seniortitas mahasiwa papua yang sudah tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD), mereka bekerjasama  dengan pihak TNI/Polisi  dan memaksa adik adik juniornya untuk ikut ambil bagian dalam pembagian masker selama Covid –19, sekitar Kecamatan Lowokwaru Kabupaten Malang Jawa Timur.

Situasi perpolitikan Indonesia hari ini mereka lakukan kepada mahasiwa Papua adalah metode penjajahan lama yang pernah belanda perlakukan kepada rakyat pribumi Indonesia. Politik pecah belah ini perna berhasil belanda lakuka  pada rakyat Indonesia. Bagaimana upaya Belanda membangun narasi bahwa kaum priyayi, bangsawan, petani, intelektual, gunung  dan pesisir. Konsep ini Belanda berhasil memecah belahkan Rakyat Indonesia di zaman colonial. Metode penjajahan ini pernah di praktekan oleh orang-orang inggris dalam upaya menguasaan tanah di Australia dari suku bangsa Oborigin. Selain itu berhasil di praktekan di suku bangsa Mauri Newzealand. Kini dua suku bangsa ini hanya ada nama dan seluruh tanah dan pengambil kebijakan politk di kuasai oleh orang-orang Inggris dan system pemerintahannya  juga masih di bawa control  Gubenur jendral persemakmuran Inggris.

Dengan demikian kaum terpelajara,seharusnya lebih peka terhadap situasi politik perjuangan pembebasan bangsa West Papua. Perbanyak baca buku, diskusi dan mengikuti perkembangan dinamika social dan politik di tanah papua. Agar jangan terlalu terlalu terjebak dengan segala macam iming-iming yang pada akhirnya mengorbankan kepentingan dan nama baik Papua.

Penulisa adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Malang Jawa Timur, Aktif  di  Anggota Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Malang (AMP KK Malang).

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *