Warga Sigapiton menghadap alat berat yang akan melakukan pembukaan jalan menuju kawasan wisata the caldera yang dikelola oleh Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba (BPODT). (Ist/re1)

Oleh : Musa Pekei

Sejak agama belum masuk di seluruh Papua.Orang Papua hidup menggantungkan hidup langsung dengan kekayaan alam. Nelayan, bertani, berkebun, berburuh kontak langsung dengan alam. Tanah Papua saat itu masyarakat masih hidup berpindah-pindah tanpa ada hak milik atas tanah dan wilayahnya. Namun setelah agama masuk di Papua. Masyarakat mulai mengenal konsep Tuhan, kepercayaan dan mulai meniggalkan adat istiadat yang ada.

Selain itu masyarakat mulai mengenal hak, milik atas tanah dan lain sebagainya. Kemudian setelah Belanda masuk di Papua. Belanda membangun sekolah-sekolah rakyat yang tujuannya agar masyarakat mengerti baca, tulis dan mengerti soal pendidikan, ekonomi, juga social. Disitulah letak dari hasil Pendidikan itu menghasilakn masayarakat sadar akan kepemilikan tanah dan wilayahnya. Selain itu Belanda juga membangun pendidikan ala nasionalis (Interest capitalism). Namun tidak mengajarkan pendidikan ala socialist. Disitulah masyarakat mulai mengenal watak kepemilikan, watak penguasaan tanah yang secara langsung maupun tidak langsung diturunkan dari ajaran Belanda. Walaupun Pendidikannya sudah diberikan kepada orang Papua saat itu.

Kadar kapitalisme memang sudah diturunkan dari warisan Belanda kepada orang Papua yaitu adanya rasa kepemilikan atas tanah, rasa kepemilikan atas harta dan rasa kepemilikan atas lahan tanah yang luas. Karakter-karakter kapitalis, borjuasi komprador ini memang sudah menjalar waktu agama masuk sekaligus Pemerintahan Kerajaan Belanda di Papua. Sejak Indonesia masuk 1963, kekuasaan atas tanah terlihat nampak yaitu adanya penempatan tanah berhektar-hekar untuk pembanguan pos militer, relokasi tanah berhektar-hektar untuk transmigrasi dari Jawa. Berhektar-hektar tanah dan hutan di ambil alih oleh kelapa sawit untuk kepentingan kapitalis  bekerja sama dengan pemerintah daerah Papua. Walaupun orang asli Papua yang menjadi gubernur, Bupati, DPR. Namun mereka bekerja dalam system colonial Indonesia. Sekaligus memperpanjang jajahannya atas tanah Papua.

Orang-orang asli Papua ini juga mereka berkarakter feodalisme, kapitalisme, dan colonial. Mereka melakukan praktek penindasan pada rakyatnya sendiri demi untuk mempertahankan kenyamanan dan kepentingan  diri dan keluarganya. Banyak lahan tanah dan hutan sudah mulai habis dikuasai oleh colonial Indonesia bekerjasama dengan kapitalis local Papua, kapitalis birokrat Papua. Mereka inilah jembatan sekaligus penghancur kehidupan tanah dan rakyat Papua saat ini.

Sampai kapanpun rakyat tidak membutuhkan orang asli Papua yang berwatak kolonialis dan kapitalis atas tanah Papua. Namun rakyat saat ini sedang membutuhkan keadilan dan pembebasan tanah dan rakyat Papua berdasarakn platform garis perjuangan yang jelas atas semua bentuk penindasan dan kekerasan yang terjadi dalam hubungan kelas social masayarakat. Kerinduna rakyat Papua saat ini didorong bukan dengan ideology palsu yang dibangun oleh Negara dengan pendekatan pembangunan dan kesejahteraan atas tanah Papua. Namun perjuangan rakyat Papua saat ini membutuhkan perjuangan yang benar-benar demokratis, adil secara politik, berdikari secara ekonomi dan progresif secara minset berpikir dalam melawan system colonial Indonesia di tanah Papua.

Sebab perjuangan pengalaman di dunia mengalami kegagalan, jika perjuangan itu didasarkan pada satu perspektif ras misalnya di Jerman, dibawah pimpinan Adolf Hitler garis politik perjungan berdassrakn ras kemurnian di Jerman dan memusih orang Yahudi. Semua perjuanganya itu gagal. Jadi, perjungan hari ini bukan soal ras, Agama, Suku, budaya dan gender dan lain sebagainya. Esensi hidup manusia di bumi adalah intinya bahagia ,demokratis, adil secara politik dan merata secara ekonomi. Hapuskan kelas social dalam masayarakat dan kembali rapatkan barisan pada satu kelas (Proletar) yang memang seutuhnya membangun manusia seadil adailnya dan seutuh utuhnya.

Penulis adalah Mahasiswa Papua Kuliah Di Jawa Timur Malang,Aktif Di  Anggota Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Malang (AMP KK Malang).

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *