ilustrasi

Oleh: Hendrikus Iyai)*

Ketika aku di dalam kandungan ibu, aku dipikul  dan membawa menghilangkan  rasa sakit, letih, resah,  air mata pun selalu meluluh  selama sembilan bulan seakan aku dalam sangkar saran yang tak punya rasa. Disana surag pertamaku.

Tak bisa bergerak perjalanan, hidupun hati selalu menjadi hampa. Aku masih dalam kandungan, aktivitas bundaku seakan berada dalam ruang penjara. Di saat itu  penderitaan ibu semakin tertekan, bimbang pun  penuh berhati-hati, sambil memikirkan aku yag masih dalam kadungan, hanya karena takut menyesakkan aku yang di kehendaki Tuhan titipkan melalui ibu dan ayahku ke dalam dunia ini.

Sejauh ini aku sadar, betapa beratnya pengorbanan ibu demi aku yang masih di dalam kandungannya bundaku tersayang. Aktivitas sehari – haari seakan  menjadi halangan dengan menjaga aku yang lemah yang terbaring dalam noken rajutan serat genemo yang hampir saja kusam rapuh sebagian ikat karena terputus tali mengalas koba-koba kecil seukur badanku. Begitu sekilas cerita bunda padaku.

Seusai sembilan bulan di dalam kandungan ibu, aku dilahirkan dari rahim ibu ke dunia  ini. Ibuku juga memberi air susu yang di ciptakan oleh Tuhan.  Selama usia berjalan dua tahun kemudian kasih sayang ibu  dan ayah tak pernah ada habisanya huntuk melengkapi seluruh kebutuhan keluarga. Seakan aku menjadi pangeran bintang di pandang dari kedua orangtuaku.

Hari berganti hari umurku pun semakin tambah. Ayah selalu membuat tersenyum dalam pertumbuhan aku dan dalam keluarga, aku bangga  selalu aku menjadi anak manja dari ibu tapi itu menatap arti kebahagiaan ibu ketika anaknya tersenyum. Kemana ibu berjalan, aku selalu di pundak ibu. Aku tak ingin lagi berpisah denagan ibu, kasi dan setia yang selalu ibu berikan, rasanya aku selalu merasa happy, begitupun rasanya aku tak bisa lupa entah lenyap kian redup.

Setelah tiga tahun kemudian. Aku di ajak oleh ayah untuk bersekolah,  di SD Negeri Inpres Epomanida , Ugida. Ibuku sudah sejak tadi pergi ke kebun, Tabeukunu.

Akupun selesai mendaftarkan nama di sekolah. Esok harinya pukul 06; 30 WIT. Usai kubangun, mukaku murung, air liur masih basai wajahku, ibuju senyum ketika melihatku entah lucu atau bahagia.

“Nak, mandi dulu, mama siapkan air di loyan kuning,” suruh bundaku yang hendak masak nota sebagai santapan sehari keluarga. Sementara ayahku sedang keluar dari dapur bawah handuk miliknya.

“Mungkin saja ayahku ke pancuran,” pikirku singkat.

“Ia ma, akan saya mandi,” balasku. Dalam hati tak ingin kumandi karena sekitar kampungku sudah kuasai kabut menutupi juga tetes-tetes curah jujan menetih bumi.

Bunda balik memandangku lalu balik wajah, geleng kepala, garuk entah kenapa. Aku menyekah air. Mandi.

Santapan pagi terasa kenyang. Aku berangkat ke sekolah. Tiba di sekolah, banyak siswa-siswi gemuruh di halaman sekolah. Pak guru Butu sedang berloncen, bunyi berdering mendeang jauh memantul bali sekitar gunung, tandanya untuk siswa menerima apel pagi.

Setelah tiga menit kemudian, Butu juga perintahkan aku untuk berdoa besama teman- teman yang sedang baris. Ketika pak Butu arahkan untuk masuk ke kelas masing- masing  aku masuk di ruang kelas satu. Di sampin aku ada teman se-kelas  yang menjabat tangan sambil tersunyum mulus  dan kami dua hendak berdiri saling memperkenalkan, “namaku  Hendrik”, “aku Natalis,” katanya. Paguru Butu sedang masuk ruangan untuk mengajarkan abjad. Seusai menerima pelajaran, pukul 10 kami pulang ke rumah masing-masing.

Seterusnya  

Dalam pertumbuhanku, enam tahun kemudian aku duduk di bangku SD, kelas (III) tiga. Ibuku sedang sakit berat. Napas akhir pun kini hampir hembuskan terakhir kalinya, melihat kondisi bundaku yang lemah terbaring di panggung ayahku hampir , lagi-lagi disaat itu jantugku seakan duri yang menusuk – nusuk. Matahari yang menerangi dunia menjadi gelap- gulita, kunang-kungan lintasi depanku, hilang akalku.  Malam pun telah terlewati digodahi kuasa pikiran yang tak tentu arah dalam kepanikan yang diombang- abing seperti ombak lautan yang terbuag kembali.

Begitu aku tak berdaya, memikirkan kasih sayang ibu yang telah mengorbankan tenaga sampai lupa mati, demi untuk melahirkan aku yang begitu besar dan tampan ini.

Keesokan harinya, tepat pada pukul 10 siang.  nirwana telah memihak bundaku, pisau takdir memisakan, akhirnya mama telah pulang meningal dunia.

Seusai kepergian mama, akupun begitu tak sabar menanti di kampung halaman sangat membosankan bagiku, ketika aku mimikirkan kisah hidup bersama mama yang selalu menjadi perhatian terhadap diriku, kemana harus aku pergi. Aku tak tenang dengan kesepian, aku mencoba membunuh heningnya sepi tapi, bayang- bayangnya tak pernah pudar dari pandanganku. Di kala sore, sang surya mulai menempatan diri ke peraduannya, gunung Takai yang menjulang tinggi pun seakan tak kelihataan, pepohonan yang tinggi besar itu pun seakan layu terbuai dalam rubuh akibat longsor, hanya terjun Mogi Aiyaimaga yang jadi saksi bisu.

Ibu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku, kisah yang telah kulalui bersamamu akan kusimpan tertata rapi di dalam cerita hidupku. Karena kisahku begitu banyak, namun semua kerinduanku akan  ku tulis surat, janjiku aku akan tulis sepujuk surat sekaligus  akan kuhaturkan doa terbaikku uuntuk bundaku disana, di tanah yang tadapat kita jumpa, semoga mama mendengarkan ungkapan doa hati kecilku. Isi surat itu kukirmkan 19 tahun yang lalu, isi surat itu aku kirimkan untuk mengobati rasa kerinduanku bersama ibu yang telah menjadi beda alam.

Aku tidak mau menghiraukannya, deraian air mata kembali membasahi pipiku. aku tidak mau wajahmu pun kembali membayang di pandanganku, aku tak mau memdung air mata di kelopak mataku, aku menangis meronta- ronta, dalam hati lubuk yagg pling dalam,  begitu sakit bila  tidak mengeluarkan suara tangisannya, ketika aku merasa kesepian. Jelas Bundaku pasti bahagia bersama para malaikat dan orang-orang kudus di Sorga. Amin.

)*Penulis adalah Mahasiswa Papua yang kuliah di Semarang. Dirinya juga berhobby Baca buku dan Minum Kopi.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *