Oleh: Arika Papua

Menjadi menarik untuk disimak sikap ormas-ormas Islam di Indonesia, ketika gerakan Wahabi dinyatakan oleh mantan Ketua BIN HP sebagai sumber pemasok terorisme global. Memang Gerakan wahabi adalah salahsatu gerakan islam ultranasionalis, dan selalu menjadi diskursus opini dunia global, sehingga ibarat magnit yang mampu menarik perhatian publik ketika membicarakan tentang Wahabiyah ini.

Hal ini menurut kami sangat terkait dengan semakin berkembangnya terorisme global sebelum peristiwa pemboman gedung WTC dan ketika terjadi peristiwa berdarah di gedung WTC tersebut, alamat itu disematkan pada islam fundamentalis, dan islam fundamentalis itu streotipekan adalah wahabi. Apalagi fenomena Gerakan Wahabi semakin terus berkembang di Indonesia. Sehingga muncul streotype dan opini bahwa wahabi adalah gerakan sempalan Islam yang membahayakan negara-negara didunia. Bahkan ada partai islam yang dengan latahnya, sangat ketakutan di cap Wahabi karena menolak tahlilan, mereka buru-buru menyatakan bahwa mereka tidak anti tahlilan.

Kalau cara pandang Muhammadiyah lain. Muhammadiyah tidak mudah dipengaruhi oleh opini dunia. Sejak dahulu Muhammadiyah tidak mau mempermasalahkan urusan organisasi lain termasuk Wahabiyah dan salafiyah. Selama mereka tidak menyinggung dan mengkafirkan Muhammadiyah. Karena muhammadiyah fokus pada kerja-kerja dakwah dan tajdidnya. Ada ribuan amal usaha muhammadiyah yang harus diperhatikan manajerialnya. Muhammadiyah tak terpengaruh apalagi terseret-seret arus kebencian dan rasa takut atau paranoid dengan kata “wahabi”.

Malah Muhammadiyyah selalu menyatakan bahwa Wahabi bukan organisasi terorisme global, tetapi gerakan purifikasi atau gerakan pemurnian Islam. Dan memang dalam fakta kesejarahan tidak diragukan lagi, KHA Dahlan sebelum mendirikan persyarikatan Muhammadiyah, selama kurang lebih 8 tahun di Arab saudi, banyak dipengaruhi ide-ide Muhammad bin Abdul Wahab, khususnya dalam bidang akidah. Hal ini nampaknya akan memberi pengaruh pada gerakan Muhammadiyah yang didirikannya. Namun begitu, faktanya ketika Muhammadiyah didirikan, tidak berafiliasi mazhab kepada Abdul Wahab (baca: Wahabi/Salafi). Banyak gerakan pemikiran islam dan tokoh-tokoh besar islam yang mempengaruhi dan memberi inspirasi KHA Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah di Indonesia sebagai gerakan islam Lokal Indonesia, sedang pemikiran Abdul Wahab hanya salah satunya.

Perbedaan Muhammadiyah dengan Wahabi dalam hal dakwah islam, Wahabi bergandeng tangan dengan penguasa untuk menghancurkan tempat-tempat yang digunakan untuk melakukan perbuatan syirik secara frontal. Sementara Muhammadiyah dalam beramar makruf nahi munkar lebih mengedepankan prinsip tausiyah, menyampaikan nasehat kebenaran”.

Ada Ormas Islam Indonesia yg bersikap sebaliknya dan sangat berlebihan dalam menyikapi wacana terorisme global dan posisi Wahabiyah/salafiyah, sangat antipati dan antisipasi terhadap wahabi. Di mata mereka gambaran wahabi, seperti monster dan mesin pembunuh paham-paham yang tidak sejalan dengan wahabiyah/salafiyah. Dengan gelap mata dan langka seribu mereka sangat reaktif menebang dan membendung arus pemikiran “wahabi”, bahkan karena kebencian, mereka yang biasanya sangat ta’dhim pada para ulama, menjadi liar dan tidak santun menyikapi wahabi. Sepertinya kata “ulama” itu hanya milik kelompok merak saja, sehingga selain mereka tak pantas disebut ulama atau lkyai. Masya Allah… Semoga Allah menyatukan ormas-ormas islam yang ada di Indonesia, sehingga menjadi modal dasar dalam membangun bangsa ini kedepan dan jauh dari pengaruh paham yang selalu memecahbelah bangsa seperti Komunisme dan kapitalisme.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *