Oleh : Julianus Boma

  1. Latar Belakang
    Suku mee atau lebih khusus manusia mee adalah manusia sejati, ”tidak ada lagi di telinga kita Mengapa manusia Mee adalah manusia sejati? Kesejatian manusia Mee ada di mana? Apakah kesejatian manusia Mee masih dipertahankan hingga saat ini (milenial) ? dan Apakah manusia Mee sudah memiliki dewasa (meeibo) ?. Sebagai moto hidup Suku Mee adalah dewasa dalam Melihat (Dou), Berpikir (Gaii), dan Bertindak (keitai atau ekowai).

Pernyataan dan pertanyaan tersebut masih merupakan pertanyaan yang belum terjawab dan bahkan tetap akan memisteri dalam sanubari manusia Mee. Jika Manusia Mee dikatakan manusia, maka orang-orang manusiawi yang lain: kita memiliki tubuh, jiwa dan roh. Manusia dari segi tubuh (maa atau epo) berfungsi sekali pakai, sekaligus cara pemakaiannya juga,  ma doutou ( jaga tubuh supaya tidak mengalami gangguan fisik dan psikis), maa bonai(sembunyikan badan dari hal yang tak diinginkan secara pikiran manusiawi), maa muni (piara tubuh agar tetap sehat dalam beraktifitas , ma kaa keitai atau ma kaa ekowai ( tubuh bergerak semua aktifitas akan terselesaikan dengan cepat dan tepat). Demikian juga dengan jiwa (aya) yang berkaitan dengan kejiwaan, sifat, sikap, karakter dan aklak atau kognitif. Selanjutnya perkataan dengan roh (ebe puu / dimi puu) lebih berhubungan dengan yang ilahi. Kemudian, Manusia Mee memikiki Dewasa (Meibo). Disini penulis mengulas tentang Manusia Mee adalah Manusia Dewasa dalam semua aspek kehidupan Manusia.

  1. Apakah Manusia Mee Dewasa?
    Manusia Mee adalah Manusia dewasa (Meeibo) tanpa memandang aneka dayanya seseorang baik ditingkat umur, pengalaman, pendidikan, pengetahuan (kemampuan) dan kekayaan barang dan jasa. Ketika seseorang menampilkan karakter pembicaraan dan tindakan yang akurat dengan keberadaan dan keadaan saat kejadiannya sesuatu permasalahan. Seseorang kalau pandai posisikan dirinya dalam kondisi dan situasi yang sedang terjadi sebab itu, manusia memandang arti dewasa (Meibo).
    Suku Mee di masa milenial ini sangat terpengaruh dengan budaya modern dan kurang memahami makna budaya Mee yang sudah ada oleh sebab itu kemampuan-kemampuan yang selalu ada secara turun-temurun pula mulai menghindar dari pemilik. Lestarikan dan merestorasi kembali keadaan dan kebiasaan yang semula atau zaman tete nenek moyang kami yang pernah menjadi kebiasaan murni yang tak pernah hidup lari dari budaya dan adat isti adat Suku Mee di Meeuwodide.
    Manusia Mee sendiri memiliki beberapa kemampuan dan kemampuan-kemapuan itu menjadi pembantu dalam kehidupan sehari-hari. Manusia Mee juga memiliki karakter kedewasan yang tanguh dan mampu memaknai arti hidup dalam kebisaan sepanjang hidup. Sisi kedewasan terbentuk saat usia muda ketika orang muda mee terus bergaul dengan mereka yang telah memiliki pemikiran dewasa. Jika mencapai usia dewasa pastinya terbentuk kedewasaannya yang diharapkan tersebut . Manusia Mee memiliki kedewasan dalam aspek kehidupan dengan gaya dan tindakan yang musti dilakukan dalam mejalani hidup.Tuhan telah diberikan nilai atau kebiasaan kedewasan melalui para leluhur sejak manusia Mee ada. Kedewasan itu mendara daging, karena ajaran dan doktrin yang dimaksudkan, suku mee menjadikan cerita bersifat regenerasi (yang harus disampai pada gerasi lama ke generasi baru). Tidak mematakan api kedewasan dalam tetap menyala dan tidak akan pernah ada yang mematikan kebiasan kedewasan dalam kenikmatan hidup Suku Mee.
    Pemanfaatan arti kedewasan Suku Mee itu sendiri mengajarkan manusia terbentuk kedewasan sebelum dan sesudah menghadapi berbagai masalah, baik Internal maupun eksternal. Para orang tua Mee ajarkan kedeawsan yang hakiki, dengan kata-kata bijak seperti: Melihat / Memandang masalah (Mana douu), berfikir (Dimigai), Berbicara (Mana wegai) dan Bertindak, bekerja (Keitai / ekowai), Masalah kehidupan manusia (Umiitou Manaa) , dan kata-kata bijak yang diwariskan oleh para leluhur dari nene moyang suku Mee. 
    Dengan demikian, aspek karakter dewasa (Meeibo) suku Mee mendukung kemampuan-kemampuan yang ada pada Individu yang unik dalam golongan, generasi tua, generasi muda, laki-laki dan perempuan. Sehingga penulis menjelaskan sebatas pengetahuan yang telah menerima melalui bertanya dan hasil baca buku . Bagaimana cara melihat, memahami dan melakukan manusia Mee di sisi dewasa yang mampu mengartikan nilai-nilai adat dan budaya yang ada pada manusia Mee yang diwariskan oleh Tuhan (Ugatame) kepada Manusia Mee.

Berikut Penulis Menguraikan Beberapa Aspek /Pandangan Yang Manusia Mee Miliki:

Aspek Memandang Sebuah Permasalahan (Manadou)
Suku Mee berprinsip dewasa tanpa memandang umur, pengalaman, dan pengetahuan pada prinsipnya Mee bicarakan pada kebiasaan (kemampuan) melihat suatu persoalan yang dihadapinya.  Menurut suku Mee walaupun memiliki kekurangan dalam suatu hal jika seseorang pandai memisah-pisahkan atau memilah-pilahkan salah satu masalah dengan baik, benar, dan tepat pada sasaran atau berbicaranya terarah dengan masalah yang sedang disinggung. Hal itu manusia mee biasa dibilang bahwa yoka atau ewoo mee kidiya mana dou epii, ( umurnya masih kecil atau kurang tahu dalam suatu hal tetapi untuk melihat salah satu masalah pintar mencari letak masalahnya.
Kesetian dan kefokusan pada suatu pembicaraan membentuk kemampuan seseorang kemudian dirinya dewasa dalam segala hal yang lebih khusus di sisi melihat sebuah masalah. Sebab demikian anak dibawah umur dan orang tidak tahu yang dinyatakan diatas lebih dewasa dalam hal tersebut .

Aspek Berfikir (Dimii Gaii) Dewasa 
Manusia menganggap seseorang dewasa kalau, seseorang mengirah suatu masalah bisa dibereskan berdasarkan pada logika yang positif, berpikir sosial dan berpikir secara dewasa, hasil pengamatan sebuah masalah dan didukung oleh langkah-langka yang tepat pada sasaran “meibo ka dimii daiga gayake manaa wegai danaa keitai” (Berpikir secara dewasa, sistematis dan teratur kemudian berbicara dan bertindak). Menanggapi seseorang dan menyelesaikan masalah yang dapat dipersoalkan oleh, keluarga, dan masyarakat setempat dengan detail atau sesuai akar masalah yang sedang dibahas dan menggunakan langkah-langkah yang bisa dipersoalkan dalam penyelesaian masalah yang dimaksudkan.
Hal itu, manusia Mee menganggap bahwa ( dimii gaii epii mee) orang yang pandai aspek berpikir  artinya, orang yang memiliki kemampuan berpikir (pemikir) hal yang berguna bagi banyak orang atau berpikirnya juga lebih menyenangkan bagi banyak orang.
“Kegiatan dimi gaiii adalah sebuah tugas dan kewajiban yang mau tidak mau harus dilakukan oleh setiap orang selama kehidupan di dunia ini, karena itu merupakan sebuah tugas kehidupan Manusia Mee. Dimi Gaii   pada hakikatnya adalah yang harus dilakukan oleh manusia terhadap dirinya sendiri yakni terhadap dirinya sendiri akal budi, hati nurani, kehendak bebas, jiwa dan Rohnya “.
Dimi Gaii , perlu mempersoalkan dalam kehidupan manusia karena segala hal yang berkaitan dengan hidup manusia terangkul dalam Dimi Gaii   itu sendiri. Baik itu penentuan suatu kegiatan atau suatu program dalam hidup, dan mengambil keputusan dalam hidup, melakukan suatu pekerjaan dalam hidup dan mendapatkan nafkah hidup seseorang, keluarga, pada umumnya masyarakat.
Berpikirnya lebih banyak menyenangkan atau menguntungkan dalam hidup. Prinsipnya berpikir hidup bersosial perlu diwujudkan dalam kehidupan manusia. Berpikir sosial dengan sesama dalam menjalin hubungan yang baik atau berpikir dan bekerja menolong orang lain yang sedang membutuhkan bantuan dari pihak yang mampu atau telah terdaya untuk dilakukan pertolongan kepada orang atau mereka yang lemah atau yang kurang mampu dalam menjalani hidup melalui organisasi sosialnya atau melakukan kegiatan lainnya.

Ada beberapa kegunaan logika, yaitu dengan belajar logika dapat :
Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tepat, tertib, metodis, dan koheren;
Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat dan objektif;
Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri;
Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan serta kesesatan. ( jan hendrik rapar, 1996).

Dari beberapa kegunaan logika diatas, penulis menyimpulkan bahwa berlogika memberikan kemudahan bagi pembaca dan penulis untuk berpikir bagimana menyelesaikan suatu persoalan dengan cepat,tepat dan pada sasaran yang diharapkan bersama dalam suatu penyelesaian.

Dewasa Aspek Berbicara ( Mana Wegai )
Menurut suku Mee, dewasa dapat diartikan dengan orang yang memiliki kemampuan berbicara yang baik benar dan menggunakan etika berbicara dalam penyampaian yaitu saling mendengarkan saat orang lain berbicara, penilaian dalam proses penyelesaian sebuah masalah yang harus ada solusinya, diambil kesimpulan masalah sesuai dengan perkara yang sedang ada dan juga tidak dapat berasaskan belah -membelah kepada satu pihak saja.
Namun ia berjiwa netral dalam menghilangkan sebuah (kontraversial) yang terjadi antara kedua orang kemudian bermaksud memuaskan bagi pihak A dan B. Hal ini dinamakan penyelesaian masalah sesuai dengan akar pembicaraan. Orang mee biasa dikatakan dewasa kalau seseorang tahu dalam hal berbicara yaitu penyampaiannya nyambung dan dapat dimengertikan bagi orang lain (publik) tanpa membingingkan orang-orang yang berada disekitarnya . Hal ini manusia Mee sering menanggapi dengan pengertian bahwa menunjukkan seseorang bobot dalam penyampaian atau penyelesian satu perkara(kii mee kike mana wegai epime) menunjukkan bahwa orang tersebut pandai menyelesaikan masalah yang sedang berlangsung . tandanya bahwa seorang tersebut sedang menyelesaikan suatu masalah dengan baik dan benar.

Aspek Bekerja / Bertindak (keitai/Ekowai)
Perspektif manusia Mee terhadap Dewasa (Meeibo) tanpa beralaskan umur, pengalaman hidup dan pengetahuan. Semenjak manusia Mee melihat apa yang saya harus lakukan atau kerjakan dan apa hasil yang saya dapatkan sebab itu akan menuju pada (keitipeko naine danaa doune) kemudian (tekeitipeko tenaine danaa tedoune) artinya jika seseorang berkerja, bertindak, dan berusaha tentunya akan mendapatkan hasil yang dicarinya kemudian kalau seseorang tidak melakukan kegiatan berusaha atau bekerja untuk mendapatkan sesuatu, tentunya tidak akan dapatkan atau menemukan hal yang dicarinya. Hal yang dimaksudkan diatas Manusia Mee biasa dikatakan dengan maksud (keitai epii mee keitetai mee”doune danaa naine) keitai ewoo mee tedoune danaa tenaine” hal ini dinamakan dengan orang yang rajin dan pandai bekerja dalam pekerjaan apapun pasti punya hasilnya jika malas melakukan hal-hal yang bisa memenuhi hidup tidak akan dapatkan dan tidak berhasil.

Aspek Kehidupan (Umiitou)
Kacamata manusia Mee terhadap Dewasa (meibo) tanpa menggambarkan umur, pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki atau terada pada manusia Mee itu sendiri bahwa, jika siapa dia yang ingin bertahan hidup lama di dunia ini maka jelasnya diperlukan usaha yang matang dalam mendapatkan kesejahteraan hidup sebab itu, membutuhkan proses pengadaan hidup yang akan memunculkan pada perubahan – perubahan kehidupan baik perubahan berdampak negatif maupun positif.
Perubahan tersebut berdampak positif bila mengarah pada kehidupan yang berdaya dalam pertahanan umii tou ( hidup ) yang nyaman dan sejahtera.
Menurut manusia Mee (ubapeko doune danaa keitipeko naine dan teubapeko tenaine dan tedoune ), artinya kalau seseorang melakukan tindakan untuk mendapatkan nafkah hidup jelasnya akan ditemukan atau mendapatkan jika seseorang bekerja hasil kerja pasti ada dan menggunakan untuk kebutuhan hidupnya demi mencegah kelaparan dan kekurangan dalam kehidupan manusia sebagai bagaian dari proses dalam kehidupan dan kalau seseorang tidak bergerak untuk mendapatkan sesuatu maka kehidupnya tidak akan sejahtera karena tidak mencari kekurangan hidupnya .

Apek Bahasa Turunan (wado maki-maki mana)
Manusia Mee dalam kehidupan musti beralaskan dengan ajaran-ajaran dengan bahasa-bahasa lokal yang di wariskan pada setiap suku. Manusia Mee individu memiliki bahasa (manaa/Managimo), bahasa Mee sebagai pegangan dalam hidup seseorang maupun keluarga dan suku Mee. Bahasa ini bersifat turunan yang telah dijadikan kebiasaan sejak tete nenek moyang yang mendahului kami maupun orangtua yang masih hidup pada jaman kami, kami pula harus mengangkat, melestarikan dan merestorasi bahasa-bahasa yang ada.
Tete nenek moyang suku mee telah mewariskan ajaran bahasa Mee sepertinya, umii touu dubaa mee be tee ewii (dalam menikmati hidup janganlah lakukan hal yang tidak diinginkan oleh orang lain) mee kaa agiyo omaa teyamoti (jangan, mencuri barang yang telah dimiliki orang lain) maksud ini mengandung arti bahwa (akiya agiyoko akiya danaa okeiya akigiyoko okeiya) barang yang kita punya itu milik kita kemudian barang milik orang lain itu orang punya sebab jangan berharap untuk miliki itu hanya sebatas khayal. Kata-kata bijak suku Mee bersifat larangan itu dalam kehidupan seseorang, keluarga, atau manusia mee musti adakan perjuangan atau pencarian demi menjaga bahasa lokal yang ada pada manusia Mee dan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak menginginkan bagi kami semua sebagai mahkluk yang harus berusaha keras agar agar sejahtera dalam kehidupannya.
Disisi lain, orangtua suku mee persampai secara turunan bahwa (ubayake douyaa dana naiya). Hal itu mengandung arti bahwa dalam menjangkau mutu hidup yang baik, seseorang musti berusaha demi kesejahteraan dan kemampuan dalam hidup. Tercipta kehidupan sejahtera, aman, dan damai karena sudah memiliki apa yang diperlukan dalam hidup seseorang . 

Sebagai suku Mee penulis menyarankan bahwa, perlu memiliki kemampuan- kemampuan yang harus dimiliki oleh orang Mee yang telah ada, kemudian dalam kehidupan masyarakat suku Mee perlu adakan atau pengimplementasian pandangan hidup (filosofi) Mee dalam mengangkat dan melestarikan pegangan hidup Mee yang diharapkan Seseorang, sekeluarga, dan masyarakat suku Mee mestinya pegang teguh / kuat tanpa kepedulian lelah demi mempertahankan eksistensi orang Mee itu sendiri hal ini bermaksud untuk mengangkat kehidupan manusia Mee yang sejati dan berbudi.

Aspek Filosofi Manusia Mee
Filosofi manusia Mee menjadi patokan fundamental dalam kehidupan manusia Mee yang sejati dan berakal budi. Filosofi Manusia Mee yang dimaksud adalah sebagai berikut: Melihat (Douu), berpikir (Gaii), bertindak / kerja (Keitai / ekowai) hal demikian sebagai eksistensi orang mee. Mengapa filosofi suku Mee perlu ada dalam kehidupan pada zaman milenial ini ? apa yang harus kami lakukan agar hidup dan filosofi tetap nyaman dan terlestari ?
Dalam kehidupan semua manusia didunia pasti punya pegangan hidup. Maka manusia Mee juga mempunyai filosofi hidup yang sebagaimana dijelaskan secara detail seperti berikut:

Melihat, berpikir, bertindak atau bekerja (Dou, Gaii Keitai / Ekowai) merupakan pegangan yang harus dipelihara dan dipegang terus-menerus oleh suku mee yang sejati atau seutuhnya orde kami (generasi milenial) terus mengangkat hal demikian secara berkesinambungan dalam kehidupan khususnya suku Mee itu sendiri agar tidak terjadi kepunahan kebiasaan kami yang sudah lama ada sejak tete nenek moyang, sedang ada bersama generasi kami , dan akan ada pada generasi yang akan datang untuk hidup bersama suku Mee selama manusia itu hidup dan beraktifitas .
Filosofi itu menjadi kewajiban atau keharusan orang mee yang lebih tahu tentang hal yang dimaksudkan untuk menceritan bersifat regenerasi agar tidak kabur dan buram dari kita sebagai pemakai (pemiliknya). Melihat, berpikir, dan bertindak Memaknai bahwa Melihat hal yang baik dan buruk, berpikir sesuatu yang baik dan buruk kemudian bertindak atau bekerja yang positif (baik) untuk menguntungkan bagi manusia Mee dan orang Papua pada umumnya (selain suku mee).

Penulis Adalah Anak Asli Suku Mee, yang Sedang Menempuh Pendidikan Di UNCEN, Jurusan IKS Semester V Tinggal Di Jayapura, Papua.
 
Sumber:
Manfred Chrisantus Mote, S, Fil TOUYE Pegangan Hidup Bersama Gai, Dimi Gai, Dan Touye Dalam Kehidupan Suku Mee Papua Hlmn 102
Drs.Surajiyo Dasar-Dasar Logika Pada Jakarta, Pada Mei 2005 Hlmn 15
Drs. Sugeng Astanto, M.Si
Dra. Sri Andiani

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *