Nabire, Suara Mee – Pemerhati Sosial dan Aktiviis Pemuda Steven Payokwa menyoroti perilaku penyimpangan sosial para penjualan Minuman beralkohol (Minol) saat malam hari di Wilayah Kota Jayapura. Maraknya penjualan miras ( minuman keras ) di luar dari jam usaha (pada malam hari) di Kota Jayapura. Adalah bentuk pembiaran oleh Pemerintah Provinsi Papua maupun Pemerintah Kota Jayapura.

“Para penjual miras itu mereka melanggar, instruksi Tokoh Agama dan Tokoh Adat. Bahkan mereka menjual diluar kontrol pemerintah dan aparat keamanan adalah salah satu bentuk pembiaran karena salah satu pemicu konflik di kota Jayapura adalah persoalan miras,” katanya.

Payokwa mengatakan, apabila tidak ada pengawasan yang ketat oleh pemerintah Kota. Bagaimana impian warga Jayapura Kota Jayapura yang aman, tentram bagi aktivitas masyarakat sehari-hari yang hidup di kota ini, dapat terwujud.

“Sebagai pemuda yang hidup di kota Jayapura. Saya harap harus ada langkah-langkah kusus yang perlu di ambil oleh pemangku kebijkan dalam hal ini pemerintah.Pemerintah dan Aparat Keamanan harus berani melarang keras penjualan miras di malam hari. Jika mereka lalalai kami menilai melihat penjualan miras di malam hari seakan akan seperti ada proses pembiaran oleh oknum-oknum tertentu,” ujarnya.

Payokwa menilai, pemerintah tidak pernah melihat serius secara utuh terkait persoalan mitas. Karena dampak dari proses pembiaran ini banyak hal-hal negatif yang terjadi di kota ini.

“Yang pertama kasus pencurian,kasus jambret, KDRT kekerasan terhadap anak bahakan sampai terjadi kecelakaan maut. Selain itu pengendara roda dua atau roda empat mengendarai kendaran dalam keadaan di pengaruhi miras atau mabuk dapat terjadi kecelakaan terjadi bahkan orang yang tidak di pengaruhi miras pun menjadi korban dari ulah orang yang di pengaruhi oleh miras, bahkan sampai bisa berdampak kematian terjadi”, katanya.

Payokwa mengatakan, apabila hal ini terus-menerus di biarkan dampaknya sangat buruk bagi aktivitas masyarakat dan tingkat, kriminalpun tidak akan pernah berkurang di kota Jayapura.

“Kami melihat untuk memutuskan/mencegah kebiasan penjualan miras di malam hari. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri namun perlu juga melibatkan kerja sama antara gereja,toko masyarakat, peguyuban-peguyuban pemuda yang ada di kota ini untuk menyatukan presepsi, untuk melahirkan suatu keputusan terkait penujalan miras yang masih marak terjadi di malam hari yang di lakukan oleh oknum-oknum tersebut,” katanya.

Payokwa menegaskan bahwa usulannya sangat penting untuk di lakukan karena Kota Jayapura adalah ibu Kota Provinsi Papua yang menjadi tolak ukur pembagunan di daerah-daera di Provinsi Papua.

“Jika persoalan ini dibiarkan maka dampak buruk pun masi tetap akan terjadi. Sehingga harus ada langkah-langkah konkrit yang perlu di ambil untuk menindak tegas pelaku-pelaku, nakal yang masi eksis menjual miras di malam hari,” katanya.

Lanjut Payokwa, pihak kepolisian harus bertindak tegas bagi oknum-oknum yang di maksud.

“Pemerintah Kota Jayapura perlu membuat PRDA kusus terkait penjualan miras di malam hari di kota jayapura. Sehingga menjadi dasar hukum yang kuat untuk di gunakan. Setelah ditetapkan Pemerintah perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk di patuhi/di lakukan,”katanya.

Alumnus Universitas Cendrawasih itu mengatakan, hal ini tidak di lakukan dan di pandang sebelah mata atau tidak diseriusi, maka tingkat kriminal akan tetap tumbuh subur di kota ini.

“Dan banyak pemuda potensial yang Papua miliki akan menjadi korban dampak dari penjualan miras ilegal di kota Jayapura yang menjadi rumah kita bersama,” katanya.

Ketua Solidaritas Anti Miras dan Narkoba Provinsi Papua, Anias Lengka mengatakan, pihaknya telah melakukan demonstrasi ke pemerintah kota Jayapura.

“Namun pemerintah kota Jayapura justru tidak menutup. Namun mereka menata saja. Tetapi hasil penataan tidak terlihat jelas karena tokoh tokoh miras masih terbuka begitu saja. Banyak orang yang membelinya. Sehingga saya usul untuk ditutup saja tokoh mirasnya,” Katanya.

Lengka mengatakan, pemerintah Kota juga harus mengikuti imbauan pemerintah provinsi Papua. Terkait dengan perda pelarangan minuman keras.

“Saya yakin kalau pemerintah Kota dan pemerintah Provinsi sevisi terkait penanganan miras di kota Jayapura. Kita sebagai pemuda siap membantu pemerintah untuk membrantas miras tapi juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat di kota Jayapura,” Katanya.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *