Oleh; Hendrik Gobai Kadepa

Sejak integrasi 1963, budaya orang asli Papua (OAP) semakin hari semakin berubah bahkan
hilang ketika Budaya luar mulai menyusup Papua dan Papua Barat.  Penyebabnya karena
terjadinya arus integrasi, transmingrasi, pemekaran dan Otonomi Khusus yang terus
berlangsung sehingga budaya OAP menjadi terganggu di seantero Papua.

Kebudayaan luar ini boleh dikatakan kebudayaan moderen. Fakta ini, tak bisa dipungkiri dan tak bisa dibatasi oleh siapapun. Kebudayaan luar telah berada di Papua dan pengaruhnya sangat kuat terhadap budaya orang Papua. Contohnya, kita bisa melihat dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak sesama OAP di bagian pesisir khususnya di Port Numbay.
Sebagian besar anak-anak mereka tak mengenal bahasa aslinya, Port Numbay dibanding anak anak kita dataran tinggi (pengunungan) tengah Papua. Di sana, mereka masih bisa berbahasa lokal dari pada anak-anak Port Numbay sehingga budaya orang Papua gunung masih eksis.

Tak hanya soal bahasa, tapi juga soal budaya dan cara memakai pakaian budaya luar.
Kondisi ini memang sangat disayangkan jika budaya Papua tidak dipertahankan dalam
kehidupan. Karena, budaya merupakan kodrat dan darah daging dalam kehidupan yang
sesungguhnya tak boleh dihilangkan dalam kehidupan. Oleh sebab itu, orang lain tidak bisa mengganggu gugat budaya setempat khususnya budaya OAP. Sayangnya, anak-anak generasi muda Papua saat ini cepat mendapatkan pengaruh budaya luar dan sering melupakan budaya
aslinya.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan: (1) faktor kelalaian orangtua; (2) faktor
pendidikan di sekolah-sekolah; (3) faktor lingkungan dan pergaulan; (4) faktor perlindungan, pemberdayaan dan keberpihakan oleh pemerintah pusat dan daerah serta (5) faktor kesadaran
diri.

Faktor pertama ini disebabkan oleh kurangnya peran dan kontrol orangtua terhadap anak-anak sehingga anak-anak menjadi lupa dan terpengaruh dengan budaya luar.

Faktor kedua adalah  karena adanya model pelajaran dan proses pendidikan di sekolahnya yang masih menerapkan kurikulum nasional dan tidak lagi menerapkan kurikulum lokal berbasis kearifan lokal sehingga ini menyebabkan anak-anak orang asli Papua menjadi korban dan melupakan budayanya, disebabkan oleh arus globalisasi di bidang pendidikan apalagi saat ini model pendidikan yang diterapkan sistem online. Ini juga bisa menyebabkan orang Papua semakin
lupa akan budayanya.

Faktor ketiga ialah pengaruh lingkungan dan pergaulan karena OAP banyak bergaul, berbicara, berteman dan makan minum dengan orang-orang pendatang sehingga untuk mempertahankan budaya OAP menjadi berkurang.

Faktor keempat ialah ketidakpedulian pemerintah pusat dan daerah yang terkadang melakukan antipati dan masa bodoh terhadap keadaan.  Setidaknya, mereka harus bisa ambil langkah antisipasi atas tumbuh kembangnya budaya luar terhadap budaya OAP dengan cara membuat sejumlah peraturan sebagai payung hukum seperti  Perdasi) dan Perdasus) sebagai satu-satunya solusi untuk bisa melindungi, memihak dan  memberdayakan masyarakat OAP di erah otonomi khusus ini sesuai amanat Pasal 26 Undang undang Otonomi Khusus (UU Otsus) bagi Provindi Papua.

Lalu, terakhir ialah faktor kesadaran. Apabila setiap OAP tidak menyadari diri terhadap budaya luar maka OAP bisa kehilangan jati diri dan budayanya atas budaya luar. Karena budaya moderen adalah suatu budaya yang bisa mematikan budaya setempat, budaya OAP. Beberapa faktor tersebut diatas, seandainya, OAP tidak segera antisipati dan mengendus maka dalam mempertahan jati diri dan budaya OAP kelak menjadi lebih parah dibanding saat ini.

Sebagai orang asli Papua, diharapkan agar tetap bercermin dan mempertahankan budaya kita sebagaimana orangtua kita pernah lestarikan budaya asli papua masa lalu ketika berada di bawah pemerintah Belanda dan di masa pemeritah Belanda, budaya dan kelangsungan hidup orang asli Papua (OAP) belum pernah terganggu bahkan orang Belanda sendiri tak pernah mendekradasi budaya terhadap kebudayaan dan kehidupan OAP dengan menerapkan budaya
barat.

Mengapa?,  Karena orang Belanda sangat paham dan benar-benar menghormati dan menjunjung terhadap budaya asli Papua ketika menduduki di Papua tapi selama itu mereka tidak menerapkan budaya barat (budaya moderen) di Tanah Papua. Selain itu, budaya mereka juga cepat menyesuaikan diri dengan budaya dan kehidupan OAP. Bahkan orang Papua sendiri justru dimanja dan diberdayakan orang Belanda dalam berbagai bidang yaitu pendidikan, kesehatan, kepolisian, pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pertukangan serta bongkar pasang mobil, pesawat dan kapal laut ketimbang orang Papua berada dan menjadi warga negara Indonesia saat ini justru banyak mengalami tindakan diskriminasi dan rasis
terhadap orang Papua adalah suatu kelalaian orang Indonesia kepada OAP.

Orang Belanda cukup berhasil di Papua. Mereka melindungi, membina, memberdayaan serta mendidik dan mengangkat harkat martabat OAP lewat berbagai kebijakan dan program strategisnya. Berbagai kebijakan dan program jitu ini diterapkan pemerintah Belanda tanpa
memaksa dan menyuruh OAP mengadopsi kebudayaan yang dibawa orang Eropa. Terutama Belanda.

Hal inilah yang membuat OAP masih berkesan terhadap orang Belanda sampai saat ini. Meski, orang Belanda juga pernah memperkenalkan kehidupan moderen di Papua tapi Belanda sama sekali tidak membuat OAP melupakan budaya setempat. Dua bentuk program, kebijakan dan perlakukan antara pemerintah Belanda dan pemerintah Indonesia amat berbeda. Orang Belanda lebih menghormati budaya dan kehidupan OAP dibandingkan orang Indonesia
saat ini. 

Kehadiran budaya luar justru membawa petakah terhadap budaya dan kehidupan OAP  sehingga eksistensi budaya dan kehidupan OAP menjadi terdekradasi dan kelak bisa hilang  berlalu jika orang Papua tidak lagi memepertahan budayanya dari budaya moderen.  Apa lagi saat ini, seiring adanya program dan kebijakan perintah pusat yang memprioritaskan pembangunan transmingrasi, pemekaran provinsi, kabupaten, distrik, dan kampung-kampung.
Termasuk pendirian kantor Babinsa, Koramil, Kodim, Korem dan Kodam serta Pos, Polsek,
Polres, Polda dan program serta kebijakan lainnya yang akhirnya bisa kehilangan budaya
Papua.

Sungguh sangat disayangkan bahwasannya dengan adanya program dan kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang justru akan mendatangkan banyak penduduk non-Papua sehingga OAP mau mempertahankan budayanya itu akan menjadi sukar karena lajunya arus mobilisasi warga luar melalui pendekatan pembangunan. Khususnya di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Selain itu, orang pendatang juga sering memperkosa budaya dan adat OAP.  Salah satunya ialah penggunaan mahkota burung Cenderawasih yang adalah bukan budaya dan pakaian adat luar tapi mereka sering menciderai budaya dan pakain adat Papua ketika ada acara resmi yang sebenarnya harus mendapatkan persetujuan dari tokoh-tokoh masyarakat Papua.  Dan banyak hal lainnya sering dilanggar orang-orang pandatang terhadap budaya dan adat Papua sehingga semakin hari semakin lama budaya dan kehidupan OAP menjadi tersisi dari modernisasi kehidupan yang bisa menyepak penduduk pribumi asli Papua jika pihak
pemerintah dan pemerintah daeran menyikapi terkait persoalan perlindungan, keberpihakan dan pemberdayaan orang Papua ini tidak diseriusi pihak pemereintah dengan melibatkan pihak Agama.

Akhirnya, penulis dapat menyimpulkan bahwa dengan adanya laju pertumbuhan penduduk dan proses pembangunan yang tidak memperhatikan dan menghormati terhadap nilai-nilai budaya dan kehidupan masyarakat setempat khususnya OAP maka kelangsungan hidup OAP dari sisi  mempertahankan budaya semakin dikwatirkan karena prinsip hidup OAP itu suka mandiri.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universiatas Cenderawasih

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *