Oleh: Surya Anta

Kau tak perna tau pada siapa, kapan, dimanana dan bagaimana cinta akan jatuh
Seperti itu pula pertemuan dan perpisahan
Kau tak perna tau akan kah pertemuan berujung perpisahan?
Apakah perpisahan membuka “pintu” bagi perjumpahan baru?
Aku pun tak pernah tau apakah kelak seorang manusia mungil akan menjadi revolusioner atau renegat?
Menjadi penindasan atau pembebas?
Menjadi pribadi tertindas yang adaftatif pada penindasan atau pelopor yang tegu, milintan, penuh dedikasidan pengorbanan?
Aku tak pernah tau.
Aku tak pernah mengerti.
Yang aku tau bahwa realitas sosial dan pengetahuan memberikan syarat materialnya
Kau hanya punya kuasa atas pilihan:
Apakah memperjuangkan atau melepaskan
Lalu menanti pada ruang dan waktu yang entah kapan itu
Pada rupa yang sama atau berbeda pada seseorang yang tidak atau terlarang untuk di cintai
Pada tujuan yang pantas untuk di perjuangkan dengan darah, keringat dan air mata atau hanya bualan semua
Pada penindasan atau pembebasan?
Pada kapitalisme atau sosialisme?
Kita hidup dalam dunia kepalsuan
Dunia masyarakat ber-kelas
Dunia yang menawarkan kemewahan, bagi yang berpunya maupun tidak, tak tergapai bagi si miskin
Dunia yang mengaburkan harapan, menjadi impian-impian kosong tak bermakna

Kita hidup dari satu kesalahan ke kesalahan
Dari satu kebodohan ke bodohan lainnya
Dari kebohongan dan kemunafikan yang satu dan lainnya
Di sadar atau pun tidak
Besar atau pun kecil
Itu lah hidup
Sebab tak ada suntikan formula agar tak melakukan satu kesalahan, kebodohan, kemunafikan atau pun kebohongan.

Hidup mencari makna.
Menggapai tujuhan dan asa.
Pengetahuan, organisasi dan perjuangan mengkikis kotorang itu.
Mengancurkan nilai dan kebudayahan boyak yang mengerogoti tubuh dan jiwa lapuk-layu.

Kita mengubah dunia sebagaimana perjuangan mengubah kita
Menjadi lebih baik dan bermakna
Revolusi tak terinterupsi membebaskan kelas
Menyegarkan hidup dan kehidupan
Memanusiakan manusia seutuhnya.
Tak hanya mengasihi dan di kasihi
Seringkali menyakiti atau pun di sakiti
Di tinggalkan atau pun meninggalkan
Tapi hidup tanpa cinta bukan lah hidup
Sebagaimana hidup tanpa perjuangan adalah kematian

Masa depan adalah misteri mari ini adalah kenyatahan
Mimpih tak boleh padam
Hiduplah tanpa kesia-siaan
Kita hanya bisa berharap bahwa:
Cinta memagut rindu, perjuangan memeluk kemenangan, hidup di hujani makna, dan dunia di hiasi kehidupan revolusi

Karna itu, cintai lah dirimu dan perjuanganmu sebelum siapa pun dan apa pun

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *