Memasuki tahun 2018-2021 semakin meningkat pesoalan mengenai kemanusian. Hal demikian terjadi karena dihadapakan atas satu sologan yakni slogan “HARGA MATI”. Sologan “HARGA MATI” muncul dari dua kelompok. Kedua kelompok tersbut ialah Para penguasa Indonesia dengan mempertahankan slogan “NKRI HARGA MATI”. Sedangkan sebagian besar rakyat papua dan OPM-TPNPB, menuntut hak dan keadilan atas peristiwa pepera New York Egree man 1969 yang tidak adil. Peristiwa pepera yang tidak aidil memberikan luka bagi orang papua. Dengan demikian, orang papua dan OPM-TPNPB berpikir untuk menuntut hak kemerekaanya dengan semangat perjuangan melalui slogan “PAPUA MERDEKA HARGA MATI”

Berikut ini merupakan berita fakta mengenai problematiaka di tanah Papua, dalam BBC NEWS INDONESIA, 14 Agustus 2019, Jhon Jonga angota tim kemanisiaan, menyatakan, “pengungsi yang meninggal sebagian besar perempuan, berjumlah 113 orang akibat kedinginan, lapar dan sakit. Anak-anak ini tidak bisa tahan dingin, dan juga ya makan rumput. Makan daun kayu. Segala macam yang bisa dimakan, mereka makan. Ini sudah tingkat pelanggaran kemanusiaan terlalu dahsyat. Ini bencana besar untuk Indonesia sebenarnya tapi di Jakarta santai-santai saja”. Bukan hanya itu, banyak perempuan yang terpaksa melahirkan dalam hutan, dengan demikian perempuan menjadi taruhan nyawa.

Dalam trito.id, 30 desember 2019 memuat berita mengenai 241 orang tewas akibat pengungsian. Berita BBC NEWS INDONESIA, 10 Pebruari 2021, sekitar 600 Warga yang berasal dari kampung Bilogai, Kumlagupa dan Puyagiya itu mengungsi kesebuah gereja katolik setelah kelompok KKB (OPM) pimpinan Undius Kogoya menyerang seorang warga berinisial R yang diduga sebagai mata-mata aparat keamanan. Melalui berita Jubi, Terjadi penembakan terhadap Gembala gereja terjadi di Intan Jaya, papua pada Rabu, (7/10/2020). Kali ini menyasar Agustinus Duwitau, pewarta gereja katolik Roma di atase Emondi, kampung Emondi distrik Sugapa.

Sebelunya juga terjadi penembakan terhadap seorang pendeta Yeremias Zanambani di intan jaya oleh TNI, pada hari Sabtu, (19/9/2020). Peristiwa tersebut terjadi ketika pendeta Yeremias memberikan makan kepada ternak babi peliharaanya di kebun. Melalui berita jubi, Setelah penembakan yang menewaskan seorang anggota TNI yang terjadi pada senin, (15/2/2021) terjadi tiga warga intan jaya tewas diduga akibat kekerasan anggota TNI”.

Problematika yang terjadi diatas tanah Papua melalui berita-berita fakta diatas hanya karena sologan “NKRI HARGA MATI”. Hemat penulis, Negara Republik Indonesia belum mengerti dan memahami secara sungguh-sungguh mengenai slogan “NKRI HARGA MATI”. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan para penguasa Negara Indonesia dalam menangani masalah politik papua justru tidak ideal dengan slogan “NKRI HARGA MATI”. Hemat penulis, para penguasa memahami arti dan magna slogan NKRI harga mati, hanya dalam perfektif “KEKERASAN”. Dengan pemahaman yang minim terhadap slogan “NKRI HARGA MATI” telah melahirkan berbagai macam masalah baru. Dengan melahirkan masalah baru persoalan mengenai papua semakin kompleks dan sulit untuk diselesaikan.

Hemat penulis, pemahaman ideal mengenai slogan “NKRI HARGA MATI” memiliki magna yang jauh lebih mendalam. Ideal slogan “NKRI HARGA MATI” bukan merupakan magna yang memberikan tindakan kekerasan terhadap rakyat papua, tetapi memberikan suatu magna yang dapat mewarnai kedamaian, kebahagiaan, kenyamanan, ketenangan dan sukacita yang dapat dialami oleh rakyat Papua dan rakyat Indonesia seluruhnya dengan kebijakan-kebijakan yang bijaksana oleh para penguasa negara dan bukan dengan kebijakan-kebijakan yang dapat menindas rakyatnya.

Melalui pemikiran ini, Sesungguhnya penulis mau mengungkapkan bahwa slogan NKRI harga mati harus dirasakan oleh rakyat, terlebih rakyat papua. Penguasa tidak harus memaksakan rakyat untuk merasakan dan mengungkapkan NKRI harga mati.

Jika pemerintah memaksakan untuk merasakan dan mengungkapkan NKRI harga mati terhadap rakyat papua, dengan kebijakan-kebijakan yang tidak bijaksana maka akan menimbulkan masalah baru serta mempersulit proses penyelesaian masalah politik papua.

Fakta yang terjadi, bahwa rakyat papua tidak nyaman dengan kebijakan dan hukum Indonesia yang tidak bijaksana. Ketidaknyamanan yang dialami oleh rakyat papua memunculkan pemikiran baru untuk harus berpisah dengan negara Indonesia sekaligus memulihkan negara papua yang sudah merdeka sejak tahun 1961.

Pemikiran demikian merupakan hal yang wajar. Namun sangat tidak masuk diakal bilah warga papua berpikir untuk tetap tinggal dalam negara Indonesia yang selalu dan terus menerus menindas, baik terhadap manusia maupun keru terhadap sumber daya alam papua.

Penindasan yang dialami oleh bangsa Papua dari negara Indonesia menjadi sebua memoria passions (setiap penderitaan yang dialami oleh bangsa papua diceritakan terus menerus dari generasi ke generasi). Sehingga, memoria pasonis menjadi luka yang tidak dapat disembuhkan karena luka masa silam berpindah dari generasi ke generasi berikutnya. Akibat dari luka memoria pasionis serta luka yang terus bertumbuh dengan berbagai macam problematika baru menjadi bahan refleksi yang mendalam bagi orang papua untuk membebaskan dirinya dari kekerasan dan penindasan.

Dengan adanya refleksi yang mendalam bagi generasi mudah papua munculah para kaum intelektual papua untuk mencoba menyelesaikan persoalan yang terus menerus terjadi. Toko-toko intelektual seperti, pendeta Socratez Sofyan Yoman, Tuan Markus Haluk, pastor almarhum Neles Tebay, Pastor Jhon Bunai, Tuan Natalis Pigai dan beberapa kaum intelektual lainya. Mereka semua berusaha untuk mencari jalan damai dan mencoba untuk menyembuhkan luka dan derita orang papua yang sudah bertumbuh subur dalam tubuh negara republik Indonesia.

Perjuangan mereka hanya berfokus pada bagaimana menghadirkan kedamaian, keharmonisan, suka cita, kenyamanan dan kebahagiaan dapat dirasakan oleh setiap orang yang tinggal diatas tanah papua.

Tokoh-tokoh intelektual papua ini tidak berpihak kepada siapa-siapa, baik pemerintah Indonesia maupun rakyat papua tetapi mereka sungguh-sungguh berpihak pada “KEBENARAN”. Artinya, tokoh-tokoh intelektual ini, menjadi penyangga antara bangsa Indonesia dan rakyat papua agar kebenaran dan keadilan diatas tanah papua dapat dirasakan oleh setiap manusia.

Salah satu pergerakan yang dirintis oleh almarhum pastor Neles Tebay ialah “DIALOG” antara Jakarta dan Papua. Tujuan daripada lahirnya pergerakan ini ialah pemerintah Indonesia dan rakyat papua dapat duduk bersama dan mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan di tanah Papua dengan penuh bermartabat.

Dalam dialog antara Jakarta dan papua harus berbicara dengan penuh keterbukaan tanpa ada perdebatan dalam mempertahankan pendapat masing-masing. Jika dalam dialog tersebut terjadi perdebatan dengan mempertahankan pendapat masing-masing maka penyelesaian konflik Papua tidak dapat terselesaikan.

Demi mencegah perdebatan dalam mempertahankan pendapat, pastor Neles Tebay menawarkan, yang menjadi moderator dalam pembicaraan ialah bukan orang papua dan bukan pemerintah Indonesia namun yang menjadi moderator dalam dialog ialah warga negara asing. Dengan demikian dialog atas konflik tanah papua dapat terselesaikan dengan baik dan bermartabat.

Dengan penyelesaian konflik papua dalam dialog tersebut dapat melahirkan idealnya hidup damai dan harmoni. Idealnya hidup damai dan harmoni ialah terjadinya relasi anata sesama manusia yang dilandasi oleh kasih dan cinta diatas tanah papua.

Dengan adanya kasih dan cinta. kebencian dan permusuhan bukan lagi menjadi bagian dari cinta dan kasih. Sehingga Damai akan melahirkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kebahagiaan dan kedamaian itulah yang didambakan oleh setiap manusia yang hidup diatas tanah papua.

Oleh; Antonius Tebai

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *