Penulis: Danil*

Di tengah kemegahan kota dan keramaian dari para pengendara yang melintasi jalan beraspal, terlihat senyuman mereka yang selalu menghiasi wajah, sebagai suatu bentuk ekspresi menikmati kedamaian hidup yang diaggapnya bahwa harapan mereka sudah dikabulkan oleh orang-orang yang menguasai Republik Indonesia.

Dalam setiap hari, tempat-tempat (perbelanjaan, cafe, bar, dan tempat hiburan lainnya) di kota-kota besar yang sudah ditetapkan sebagai sentral akumulasi ekonomi selalu dipenuhi oleh berbagai kalangan manusia, mulai dari kaum tua hingga anak-anak muda bergerombolan mencari barang-barang (komoditas) baru yang telah dipersiapkan untuk dikonsumsi.

Barang-barang (Komoditas) yang dipersiapkan untuk diperdagangkan tentu saja bukan hanya barang-barang yang diproduksi oleh buruh dalam pabrik-pabrik (kapitalis), namun juga (tubuh) manusia yang sudah dikomodifikasi sedemikian rupa oleh pemilik tenaga kerja untuk menjadi sebuah objek penghasil kekayaan.

Tak banyak dari kalangan intelektual yang menyadari hal tersebut, meskipun mereka sudah sadar akan kondisi itu juga belum tentu memiliki inisiatif untuk menyelamatkan mereka (perempuan) yang tubuhnya sedang diobral oleh para (tuan majikan) pemberi upah murahan. Namun, kondisi riil kebanyakan kaum intelektual muda, (mahasiswa dan para aktivis) yang mengaku pro-demokrasi dan memiliki sisi kemanusiaan malah menikmati rekonstruksi sosial tersebut untuk pemenuhan kebutuhan finansial dan nafsu birahi dengan alasan menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

Meluasnya kemiskinan yang diciptakan oleh kekuatan modal (kapitalis) di negara-negara adikuasa membuat para petani miskin kehilangan sawah sebagai alat produksi untuk memenuhi kebutuhan hidup, lewat otoritas kekuasaan (negara) borjuasi dan (dinasti) feodal yang tak segan-segan bertindak represif dan premanisme diberbagai desa.

Keserakahan pemimpin (negara) dalam menerima modal dari negara-negara dunia pertama membuat utang negara semakin menumpuk, sumber daya alam semakin terkuras habis sedangkan sumber daya manusia tak pernah berkembang maju.

Malapetaka pun dialami juga oleh rakyat miskin, seperti warga kota di Negara Republik Indonesia (Negara Dunia Ketiga) yang masih terbelakang digusur paksa tempat pemukimannya untuk dibangun berbagai macam pembangunan, pedagang kaki lima yang dipaksa menjadi pengemis hanya karena tak memiliki modal yang cukup untuk bersaing dengan (retail modern) industri-industri kecil dalam sirkulasi perdagangan, anak-anak miskin yang dalam setiap harinya terancam tidak mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena dunia pendidikan dijadikan sebagai ajang (komersialisasi) bisnis oleh para fasis burjuasi-aristokrat, dan pertumbuhan pekerja seks komersial yang semakin bertambah dalam setiap tahun hingga menjerat anak-anak di bawah umur.

Yang lebih parah lagi adalah nasib para buruh yang bekerja dalam industri, dimana mereka bisa saja bekerja melebihi 8 jam kerja perhari dan 25-27 hari dalam sebulan tak mendapatkan upah yang mampu menutupi kebutuhan hidup yang begitu mahal dikondisi negara yang masih dilanda pandemi Covid-19 (katanya).

Dengan begitu mudahnya para pemilik korporasi multi-nasional melakukan PHK secara sepihak terhadap ribuan tenaga buruh tanpa memberikan uang pesangon dengan alasan kondisi perusahaan sedang kolaps, belum lagi buruh perempuan yang bekerja di PT AICE yang sedang hamil mengalami keguguran akibat bekerja tanpa berhenti (cuti hamil), dan (buruh perempuan) anggota aktif dari F-Sebumi yang (ditahan oleh kepolisian) dikriminalisasi hanya karena menyampaikan aspirasi lewat aksi pergerakan untuk menuntut (keadilan) hak.

Tidak hanya itu, sekitar 6.658 orang aktivis yang sampai sekarang masih ditahan karena terlibat dalam aksi penolakan UU Omnibus Law belum saja dibebaskan. Keberpihakan Penguasa (Negara) terhadap para Investor asing yang telah menanamkan modal ke dalam Negara Republik Indonesia demi memperkuat dominasi ekonomi-politik, mengakibatkan aktivitas pertambangan semakin lama menciptakan kerusakan terhadap lingkungan dan ekosistem laut; pencemaran udara, tanah longsor, rusaknya terumbu karang dan banyaknya anak-anak yang tenggelam akibat lubang pertambangan yang tidak ditutup.

Lewat UU Minerba dan UU Omnibus Law yang disahkan pada tahun 2020, membuat Wilayah (Bumi Manusia) Ibu Pertiwi semakin banyak dipenuhi oleh berbagai jenis korporasi-korporasi dan pertambangan (dikuasai asing). Tanpa melihat dampak yang akan diterima oleh rakyat adat dan nelayan-nelayan miskin, buruh tani yang transisi menjadi buruh kelapa sawit dan pengangguran semakin bertambah akibat tenaga manusia digantikan oleh tenaga mesin-komputer yang begitu canggih, dengan riang gembiranya para elit birokrat menikmati hasil penjualan aset-aset negara. Seperti yang dipaparkan oleh “Dandy Dwi Laksono” lewat video-video dokumentasinya.

Belum lagi berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu, tindakan represif dan fasisme dalam setiap aksi gerakan yang dilakukan oleh aktivis dan mahasiswa hingga sekarang di berbagai daerah tak pernah terselesaikan secara tuntas, begitupun dengan kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan yang semakin lama semakin bertambah dalam setiap tahunnya.

Para pelaku bebas berkeliaran di tengah tangisan keluarga korban yang setiap hari berharap dan berdo’a agar penguasa negara bisa berbaik hati, sangatlah munafik ketika kaum muda hari ini berkata bahwa kehidupan ini indah dan damai. Sia-sia jika keindahan dan kedamaian negeri ini tidak dinikmati dengan baik sambil minum kopi di kedai-kedai dan angkringan, suara dari para hewan ternak peliharaan fasis borjuasi (SAMPAH).

Aku sering mendengar celotehan anak-anak ingusan di berbagai tempat disaat mereka demoral, seperti “bagaimana kita bisa berjuang jikalau rakyat sendiri masih banyak yang belum sadar, masih terhegemoni oleh deteminisme ekonomi kawan? Minimal kita harus memiliki usaha dan modal dulu (kemapanan) sendiri baru bisa berjuang”, dasar sampah.

Akupun menjawab, Apakah harus menunggu rakyat menderita dan mati dulu baru kita bisa melawan? Merekapun menjawab dengan rasa tak bersalah, “tentu saja, karena kondisi yang menentukan kesadaran kawan”. Sudah sejauh mana kita membangun kesadaran politik rakyat? Sudah sejauh mana kita mengorganisir massa-rakyat?

Sejauh ini kita hanya melakukan aksi-aksi sesama mahasiswa dan pemuda secara sektarian. Jarang sekali turun bersama buruh dan tani miskin.Maka, apa yang harus dilakukan para pemuda dan mahasiswa yang mengaku diri sebagai kaum intelektual muda? Sebagai tulang punggung bangsa yang tertindas? Sebagai pejuang rakyat hari ini? Apa yang bisa kau lakukan jika kau berjuang sendirian, tanpa organisasi dan partai alternatif yang jelas?

Revolusi itu tidak jatuh dari langit. Tanpa kita menyicil pra-syarat revolusi tersebut, jangan harap rakyat akan sadar dengan sendirinya dan kehidupan rakyat akan sejahtera. Kesadaran rakyat tentu harus dibentuk lewat penyebaran ide-ide kritis, propaganda dan radikalisasi rakyat lewat aksi mimbar bebas, membangun pendidikan politik di berbagai tempat sesuai dengan program-program perjuangan pembebasan kaum tertindas.

Sisipkan agenda bedah buku, diskusi dan pembacaan situasi kondisi Daerah (Regional), Nasional, hingga Internasional ketika ada waktu luang.Organisasikan dirimu dalam berbagai organisasi revolusioner, bangun front dan federasi dengan berbagai organisasi tanpa melihat perbedaan agar terwujudnya persatuan nasional, serta bangun kerja sama dengan YLBHI atau LBH untuk menyelesaikan permasalahan yang dianggap rumit. Dan sangatlah perlu untuk membangun Partai Alternatif, karena bicara revolusi dan perebutan kekuasaan tentu harus dengan alat politik yang bersifat revolusioner (Partai Alternatif), agar mampu mewujudkan negara yang “SOSIALISME”. Bukan dengan berjuang (sektarian) sendiri-sendiri, nanti jadi barisan oportunis.

Tanpa mengorganisirkan rakyat dalam serikat dan organisasi yang memiliki program revolusioner sesuai dengan kebutuhan rakyat hingga pembangunan partai alternatif, sudah barang tentu kesadaran rakyat tidak akan terbentuk ataupun ikut terlibat dalam setiap aksi-aksi protes, meskipun kita telah melakukan berbagai aksi gerakan moralitas atas isu-isu ekonomis dan politis tentu rakyat tak akan mau terlibat, melainkan mereka hanya bisa memberikan dukungan lewat ucapan dan do’a.

Apalagi kekuatan alat pemaksa dan hegemoni negara semakin kuat, dan kita masih saja duduk santai seolah-oleh tak memiliki beban hidup. Sedangkan elit birokrat sedang menikmati anggaran yang diambil paksa dari pajak rakyat, partai-partai politik borjuasi yang semakin leluasa menipu rakyat dengan berbagai apologi lewat demokrasi liberal, dan akhirnya orang-orang yang mengaku aktivis semuanya berganti haluan untuk hidup di bawah ketiak penguasa seperti barisan semut dengan alasan merubah sistem dari dalam. Namun, sebenarnya mereka takut kehilangan status dan popularitas. Hingga akhirnya menghianati perjuangan itu sendiri.

Ingat, kapitalisme tidak akan pernah memenuhi kebutuhan hidup kaum buruh, petani miskin di desa, perempuan, suku, ras minoritas, kaum muda, anak terlantar, orang tua yang miskin dan kelompok difabel, bahkan kita semua. Kitalah yang mampu melakukannya, kitalah yang mempunyai kekuatan untuk merubah kehidupan rakyat. Kita tentu bisa membangun kesadaran kolektif rakyat tani dan kesadaran buruh yang melakukan kerja pokok dalam proses produksi, yang memiliki kekuatan untuk menghentikan proses produksi dan distribusi komoditi. Namun, semua itu butuh kerja kolektif dan kesabaran.

Salam Pembebasan Nasional.

*Danil merupakan salah satu aktivis mahasiswa yang kini aktif berjuang dengan mengorganisir diri dan teman-temannya dalam Lembaga Studi untuk Perubahan (LSiP)

Kepada Kaum Muda: Kita Butuh Organisasi yang Revolusioner

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *