oleh : Jefry Giyai

Ditengah kekelapan bangunan pemekaran daerah otonomi baru dan sibuk urus otonomi kusus hanya bukulah yang bisa menerangi dunia yang gelap agar isi buku ingatkan kepada elit politikus walaupun tidak mau bertobat
Ditengah kesibukan sampaikan sejumlah program yang pasti bisa mempersoalkan namun melalui pembaca bukulah mengatakan kepada dunia bahwa kami tidak mau dipersoalkan demi peduli generasi penerus
Ditengah diskriminasi terhadap Jurnalis yang tak bersalah yang bisa menyimpan hanya bukulah dan itu akan menjadi saksi sejarah pelaku teroris kepada generasi berikut

Ketika menyentuh perputakaan membaca buku adalah “membuka jendela dunia” sebab sumber google hanya salingan yang benar adalah buku yang tak punya referensi atau pustaka
Dunia bersma manusia dari berbagai ras mereka semakin gelap saksikan lewat pandangan mata, maka angkatlah lampu yaitu buku dan nyalankah ditengah sibuk “otsus dan dob ” agar menyimak betapa jumlah penderitaan
Buku yang bisa semangatkan terhadap aktivis pemikiran revolisomer yang berdiri tegak ditengah diskrimisasi walaupun orang tak kenal menteror dengan tujuan gagalkan mimpi dalam basis perlawanan
Melalui hari buku merefleksi kata teror bukanlah untuk takuti namun untuk berani berdiri melawan kata diskrimians yang hanya mencoba psiologi menulis dan baca buku
Melalui hari buku agar kita lebih aktif untuk masuk habiskan waktu dalam ruang perpustakaan karena melalui baca temukan berjuta ilmu seperti revolusi kuba

Melalui baca buku maka bisa kita menemui sejarah injil masuk, sejarah perang dunia pertama kedua dan kita bukukan semua pokitik kemerdekaan Bangsa Papua bersama ULMWP masuk di MSG.
Setiap manusia berani berdiri dan sampaikan pendapat karena adanya buku sejarah baik Amerika, Belanda, Indonesia maupun Papua, sebab tanpa buku sejarah kepada siapa saja memiliki gelar banyak tidak bisa ungkap dalam ruang demokrasi tentang asal usulnya

Yang menolak ruang demokrasi dimana saja dia adalah tak punya buku sejarah, pada hari senin (19/04/21) yang menolak aksi mimbar bebas di Kabupaten Deiyai walaupun kesalahan mereka baku tunjuk-menunjuk antara mereka namun mereka pada dasarnya tak punya buku sejarah, maka kemudian hari mereka tercacat dalam buku sejarah.
Melalui hari buku sedunia ini, sebagai calon generasi penerus diatas Tanah Papua yang penuh dengan diskriminasi dan pebohongan, maka penting membaca situasi dan kondisi saat ini.

Bukan hanya melihat dan membiarkan begitu saja realita yang terus terjadi namun kita duduk bersama, membuka ruang diskusi, mennonton film sejarah dan fakta dan kemudian membukukan semua realita itu, karena yang berani berdiri untuk memotong ruang demokrasi dan kemajuan kita, mereka sedang diskusi bersama.
Sekalilagi melalui hari buku sedunia menjagak kita anak-anak generasi penerus harus menghabiskan waktu dengan hal-hal yang bisa membangun dan menharahkan generasi penerus kepada jalan yang benar, menulis dan membaca buku sampai puas ketika mimpi dan cita-cita kita tergenapi.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *