Kepala BIN Papua Jadi Tumbal-Jokowi dan semua petinggi negara di Jakarta tidak memiliki kemauan selesaikan konflik West Papua dengan damai.

Mereka masih mau “panen darah”, korbankan kemanusiaan sebagai tumbal kepentingan segelintir elit borjuis birokrat di Jakarta.

Alih-alih “berburu” proyek emas di blok Wabu, Intan Jaya, Jakarta buat West Papu jadi zona militer, bahkan jenderal sekelas Kepala BIN Daerah Papua turun tangan dan di-tewaskan dalam operasi ini. Entah berapa banyak lagi manusia yang akan jadi tumbal kepentingan ekonomi politik penguasa Indonesia di West Papua.

Jakarta masih gunakan pola kolonialisme kuno di West Papua; yang ekspansif, represif dan eksploitasi. Yang Jakarta pusingkan hari ini adalah rekayasa politik Otsus. Pusing dulang legitimasi otsus dari rakyat Papua; yang telah menolak Otsus (110 organisasi masyarakat Papua lewat Petisi Rakyat Papua ) dan menuntut solusi hak penetuan nasib sendiri.

Jakarta benar-benar tidak punya niat baik bagi masa depan Papua. Eks Kepala BIN AM Hendropriyono bilang “mekarkan Papua agar pecah belah dan pindahkan 2 jt orang Papua ke Manado agar Papua diisi orang Pendatang”. Diikuti kata Ketua MPR RI kemarin, “Tumpas habis, urusan HAM bicarakan nanti”. Inilah wujud nyata dari watak kolonialisme.

Saya kira semua orang harus pahami bahwa konflik Papua dilahirkan oleh kontradiksi alamiah antara penjajah dan pihak terjajah. Filsuf Karibia Frantz Fanon katakan: …”akan selalu ada kontradiksi antara kolonialisme yang semakin kokoh menanamkan kuku dan semakin tingginya spirit dekolonisasi dari bangsa yang terjajah”.

Sebagai seorang revolusioner Fanon menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan konflik yang terjadi terus menerus tersebut adalah dengan menghapuskan penjajahan itu sendiri. Sebab, penjajahan adalah akar dari konflik-konflik tersebut.

Jakarta seharusnya berperan aktif sesuai amanat UUD 1945 untuk menghapuskan penjajahan diatas dunia dan ikut menciptakan perdamaian dunia. Seperti dekolonisasi damai Prancis bagi Kanaky dan PNG bagi Bougainville. Jangan hanya jago bicara damai untuk Myanmark sementara mulut dan tangan berlumuran darah di West Papua. Itu bukanlah kemanusiaan yang adil dan beradab tapi biadab.

Orang Papua yang berjuang damai maupun bersenjata itu manusia yang memiliki alasan dan kesadaran politiknya; berjuang karena dan untuk suatu kebenaran tentang sejarah politiknya, kebenaran akan ketertindasannya, kebenaran bahwa tanah dan manusia terancam hancur habis. Fakta (data) membuktikan itu.

Lantas, nurani kemanusiaan kita dimana saat yang terjajah berjuang membela diri (self-defence) untuk membebaskan diri dari segala ancaman. Bangsa Papua butuh tindakan darurat dalan situasi darurat (SOS). Bangsa Papua harus bebas. Manusia harus bebas dahulu, baru damai sejahtera itu bisa terwujud.

Sekali lagi, hentikan konflik bersenjata. Jangan korbankan kemanusiaan demi kekuasaan ekonomi politik segelintir elit birokrat. Segera berikan ruang bagi orang Papua untuk menentukan nasibnya secara damai dan demokratis.

Victor Yeimo

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *