Omong sembarang, Negera Indonesia telah kehilangan akal sehat

Suara, Mee. com – Negara Republik Indonesia melalui Menteri Koordinator Polhukam RI, Mahfud”. MD TPN-PB atau sebutan lainnya adalah KKB sebagai organisasi teroris justru mendapat tamparan keras dari Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua [PGBWP], Pdt. Dr. Socratez sofyan Yoman bahwa penguasa Indonesia telah kehilangan akal sehat [hikmat] untuk menyelesaikan tragedi kemanusiaan terpanjang di tanah Papua.

Menurut Gembala Socratez Sofyan Yoman, penguasa Indonesia telah melakukan blunder poliitk dengan mitoskan atau labelkan TPN-PB sebagai teroris. Tujuannya, kata dia, untuk mengkriminalisasi dan menghilangkan akar permasalahan Papua yaitu persoalan pelanggaran HAM berat, rasisme, ketidakadilan dan hak politik yanhg diperjuangkan rakyat dan bangsa Papua.

“Jadi Indonesia anggap label teroris ini bias selesaikan masalah, pernyataan ini tidak jelas dan kabur karena syarat-syarat kategori teroris tidak terlihat dalam perjuangan TPN-PB. Penguasa Indonesia kelihatannya tidak mengerti define teroris yang sesungguhnya. Karena asal omong tanpa menggunakan hikmat. Maka keputusan ini menjadi blunder,murka dan malapetaka bagi penguasa Indonesia,” ungkap Pdt. Dr. Socratez sofyan Yoman, Sabtu, [8/5/2021].

Ia menegaskan, Pemerintah Indonesia, TNI dan Polri berpikir label teroris lebih membangun atau menarik simpati dan meraih dukungan rakyat Indonesia dan komunitas internasional terutama pemerintah Amerika Serikat unutk melawan rakyat Papua karan ada kebun emas dan uranium di bumi Papua.

“Itu mereka (penguasa Indonesia) ngomongnya sembarangan, karena mereka [penguasan Indonesia] sudah kehilangan akal sehat. Blunder karena penguasa Indonesia telah membukan gelombang perlawanan solidaritas rakyat Indonesia dan komunitas internasional. Mereka juga membuka peluang intervensi PPB masalah kemanusian, Mereka juga justru membuat persoalan baru yang lebih rumit dan berat,” katanya jelas.

Menurut dia, label lain yang diproduksi oleh penguasa Indonesia sebagai mitor dan hoax sejak 1 Mei 1963 meliputi gerakan pengacau keamanan [GPK], gerakan pengacau liar [GPL], separatis, makar dam hal itu benar-benar merendahkan martabat kemanusiaan rakyat dan bangsa Papua juga tidak pernah menjadi solusi, sebaliknya menjadi masalah semakin spiral yang sangat berat.

Selain itu, mitos baru lainnya adalah kelompok criminal sipil bersenjata [KKSB] yang diproduksi oleh TNI dan kelompok criminal bersenjata [KKB] yang dimitoskan oleh Polri.

“Kami pahami tujuan mereka terhadap TPN-PB untuk mengkriminalisasi TPN_PB. Dan juga TNI, Polri dan pemerintah Indonesia berpikir mudah dengan mitos dan stigma itu akan berhasil menekan rakyat Indonesia dan komunitas internasional supaya tidak mendukung perjuangan rakyat Papua untuk menyelesaikan empat akar masalah utama yang ditemukan oleh LIPI,” katanya.
Reporter: Suaramee

Print Friendly, PDF & Email

admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *