Pemkab Deiyai Penting Membahas Dampak Dari Peluapan Air Danau Tigi

Oleh : Jefry Giay
Keadaan dan situasi saat peluapan air danau tigi puluhan perkebunan dan beberapa luas jalan trans sering mengalami krisis akses mengambil hasil perkebunan maupun melalui kendarahan sekitar itu. Peluapan itu saat naik juga akses jalan terganggu baik itu dari masyarakat maupun pemerintah setempat. Selain jalan, sektor pertanian masyarakat seperti perkebunan makin sangat berdampak negatif saat itu. Oleh karena dengan adanya mata air danau yang terus naik melalui aliran kali dan got kecil seperti got perkebunan masyarakat dekat kali. Penyebabnya yang selalu sering terjadi ketika air hujan turung. Membuat air danau sering meluap di sekeliling pingiran danau Tigi Kabupaten Deiyai. Penyebab itu penting sangat memperdulikan dan mencari solusi bersama masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Deiyai Provinsi Papua. Sebab peluapan air danau tigi itu tidak seorangpun yang biasa menemukan solusinya sebabnya.

Selanjutnya solusinya yang sering masyarakat sekitar itu pernah menemukan, namun solusi yang bagus demi penyelesaian peluapan itu selalu abaikan oleh pemerintah daerah. Lebih lanjut sering masyarakat setempat pengumpulkan sebuah pendapat dari sekian orang untuk timbun jalan yang selalu naik air danau. Lebih lagi banyak aspirasi yang sering ditemukan oleh masyarakat setempat, pendapat itu harusnya tanggapi lansung dari pemerintah. Masyarakat yang tinggal di pingiran danau Tigi yang pernah membahas soal peluapan air danau Tigi. Masyarakat yang ada di Deiyai terdiri dari 36 marga itu biasa membahas soal peluapan. Namun sampai ini menjadi persoalan untuk kedepan adalah antara masyarakat dan pemerintah belum bahas secara transparan bersama. Mereka bahas dari kampung masing-masing. Menurut masyarakat soal meluap air ini sangat perhatikan pemerintah kabupaten Deiyai. Namun ide-ide tersebut selalu menjadi sebuah bahan cerita sama seperti cerita biasa-biasa saja. Bahas ide atau pendapat seperti bagaimana pemerintah bentuk tim untuk bersihkan sampah-sampah yang biasa terssumbat dalam aliran penyeluaran air danau dalam goa kali Oneibo.

Selainjutnya solusi terbaik yang saya temukan disini adalah pemerintah melihat kampung yang sering mengalami peluapan air danau. Penting mendatakan bersama masyarakat setempat kampung apa saja yang selalu mengalami dampak berbahaya terhadap sektor perkebunan dan atau perumahan. Dalam media sosial maupun pandangan pemerintah sendiri telah atau sering biasa melihat kampung itu menjadi perhatian serius seperti ini. Kampung yang bisa menanam bibit pohon boleh tanam pohon pingiran jalan agar tanah yang belum kuat menjadi kuat dan tanah rendah menjadi naik dengan akar pepohonan. Lalu selanjutnya pekerjaan pembangunan pemerintah Deiyai mudah untuk timbun jalan sekitar kampung yang selalu peluapa air. Tentu kampung yang selalu lonsor itu juga boleh menanam bibit pohon agar tidak terjadi pelonsoran tanah. Pohon bambu itu boleh namun pohon banbu susah untuk mendapatnya dan pohon banbu itu bisa terganggu alam setempat. Kalau pohon cemarah dan koperasus (uwaa iyo ma too iyo ma) itu sangat cocok untuk menahan pergesekan tanah atau peloncoran tanah.

Selanjutnya tanah untuk cocok menanam bibit pohon adalah seluruh daerah Deiyai. Setiap kampung yang selalu lonsor itu solusi terbaik adalah tanam bibit pohon untuk antisipasi peloncoran tanah. Pingiran jalan raya bagian kiri dan kanan itu bisa tanam bibit pohon. Untuk menanam bibit pohon tentu ijin dengan masyarakat setempat yang punya lokasi sebelum tanam dari program pemerintah. Tidak hanya pinggiran jalan raya saja namun boleh ditanam halaman sekolah dan halaman gereja atau balai gereja. Masyarakat lebih senang dan tenang duduk dibawah naugun sombar pohon. Apalagi pelajar anak-anak sekolah lebih penting dan mengerti cepat ketika belajar kerjakan tugas dibawah pohon sambil melihat gambar pemandangan sekitar sekolah. Guru dan murid bergembira ketika halaman sekolah ada sombar pohon untuk mengambil angin.

Selanjutnya selesaikan persolan ini jika ada perjanjian pemerintah dengan masyarakat untuk membangun jalan aspal dari dan ke tujuan utama. Kemungkinan besar ada tujuan yang telah bahas atau direncanakan demi menjaga peluapan air danau. Sebab janji adalah utang dan tidak mungkin tertipu terhadap alam dan masyarakat setempat. Sehingga mengatasi peluapan air tidak hanya menanam pohon saja namun timbunan batu ulang di jalan yang sangat rendah. Jalan sekelilingi kabupaten Deiyai ini kampung yang selalu meluap ialah jalan yang sangat rendah. Seperti bagian momaikagoo (kampung bobata), kedua di bagian mulai dari ujung mata tanjung ukagoo (kampung Dedutei). Bukan hanya kedua kampung itu saja, namun ada juga bagian kampung Yagu sebelum masuk kamung Ibodiyo atau sebelum tanjung tipakagouda. Kampung ini juga menjadi perhatian ketika air danau meluap.

Sehingga dengan adanya meluap air danau maka membatasi akases jalan. Seperti saat bulan desember itu masyarakat dari kota naik ke kampung bagian Tigi barat menjadi hambatan di jalan sekitar itu. Sering mobil yang angkut penumbang dari Nabire sering kasih turung secara paksa di tengah jalan. Turungkan lansung penumpan di ujung matan jalan sampai peluapan air yaitu bagian Bobataa dekat tanjung Momaikagouda. Sehingga masyarakat dari kota itu tunggu perahu yang dari mama-mama asli setempat dan angkut lalu kasih turung sampai di kampung Dedutei. Diatas itu ada terdapat kampung yaitu kampung Puduu namun bagian air danau meluap bagian antara Ukagouda dan kampung Dedoutei. Saat ini sudah bisa akses jalan darat lewat bagian selatan yaitu bagian Oneibo karena jembatan sudah bangun dari pemerintah. Tetapi untuk melalui jalan darat sebelah bagian barat sampai bagian utara itu yang masih bekum timbung batuan. Untuk menjaga peluapan air danau yang selalu naik peluapan yang sering terjadi depan mata masyarakat dan pemerintah setempat.

Ketika suatu pagi ketika saya naik belakos bersama masyarakat dari Tigi Barat menuju ke kota Wagete itu kami pernah bercerita seperti ini. Pemerintah itu lebih baik satu atau dua kali harus tumpah batu diatas jalan mulai dari tanjung Ukagoo sampai kampung Dedoutei. Timbul ulang itu mantap. Kalau hal itu dilakukan maka pasti air danau tidak bisa lewat mengeberangi sepanjang jalan ini dari sana kesini yaitu dari Ukagouda hingga pertikaan ke arah jalan bawah menuju ke kampung Aiyatei. Seharusnya pemerintah harus timbun batu ulang kembali. Kalau bisa berusaha dua meter keatas pondasi dari yang ada sekarang, hanya timbun kembali. Ini tugas pemerintah dari masyarakat setempat pada umumnya masyarakat Deiyai. Tidak hanya kampung Dedoutei saja namun tetapi kampung Bobataa juga harus pemerintah Deiyai timbun ulang. Turungkan batu sekitar beberapa terek bisa cukup sampai jalan bagian Bobataa itu kelihatan sedikit naik keatas. Pas lurus dengan tanjung goa sebelum masuk tikungan Bobataa yang selalu airnya menyeberangi jalan aspal.

Untuk sementara ini pemerintah Deiyai harus berfokus itu untuk melihat kondisi jalan yang sampai saat ini masih rusak-rusak total. Dinas pekerjaan umum (PU) harus turung di lapangan untuk melihat kondisi jalan. Sebab ada beberapa kampung terdapat banyak jalan atau tikungan masih berbahaya melewati kendaraan. Maka bisa korban masyarakat setempat ketika mereka lewat jalan yang rusak itu. Apalagi kendaraan yang selalu membalap ketika lewat bagian itu lebih berbahaya. Oleh sebab itu sebaiknya fungsikan motto pemerintah Deiyai yaitu Melihat, Berpikir, Bekerja (Dou, Gai, Ekowai). Kumpulkan dan satukan masukan dan saran atau pendapat masyarakat setempat. Penting mensatukan sebelum pemerintah menjalan program perioritas dalam setahun skali untuk membangun daerah Kabupaten Deiyai.

Print Friendly, PDF & Email

admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *