Oleh: Amison Agapa

Kali ini aku memaraimu Sang penguasa dunia jahat disebut
Tuba dan kego yang menghuni dikalangan masyarakat maupun disedunia tanpa memikirkan rasa kemanusiaan Karenanya pemikiranmu
Aku memulai hidup baru tanpa suara merdu Ibu dibawah Pertiwi Honai

Tiada lagi Nyanyian merdu yang mengantarkan aku tidur tanpa kegelisahan Aku membisu, mono kesendirian Di Honai Temani sepi, rindupun datang

Honaipun tidak berkarya dengan kehilangan suara merdu seseorang orang wanita terhebat sepanjang masa yang kuharap bersamaku
Begitu tinggalkan suara merdu siulannya Akupun mulai Gelisa tidak ada kehiasaan melihat Honai tanpa suara siulan

Rindupun mulai berkarya melihat Honai dan bekas bekasnya yang dulu masih tersimpan
Di sudut Honai masih ada kebahuhan susu keenakan di hidungku
Diatap Honai masih tergantung jagun kering

Pintu Honai masih terbuka tidak ikhlas dengan kehilangan
Menunggu suara merdu yang mengantarkan aku tidur
Tapi tidak ada kedatangan
Percuma meluangkan waktu untuk menunggu
Menunggupun akan begitu,

Sunset pun masih berkeliaran diluar sana Aku didalam Honai pintu masih terbuka, menunggu tak ada Respon
Matapun berkarya seperti pancuran air

Membuatku Gelisah
Tak ada keterangan bagiku tanpa suara merdu Ibu kebahagiaanku mengisi dengan air mata Itulah Hidup Tanpa Ibu

Penulis adalah Mahasiswa Papua kuliah di Uncen

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *