Oleh: Yulianus Magai

Ibu, melahirkan ku, memelihara ku, membina ku. Membiayai hidup ku, ibu Aku adalah pengun beban mu. Dimana pun ibu pergi ibu selalu jadikan aku adalah bayangan mu. Di pasar, saat ibu jualan ibu tetap beta dan perhatian padaku, saat aku berat di saat ibu jualan di pasar yang begitu ramai, ibu malas tahu dengan keadaan yang begitu ramai, ibu lap airbesar ku mengunakan pakaian mu, begitu juga dengan kencing ku.

gereja di kebun dan di mana pun ibu jalan ibu jadikan aku adalah bayangan mu. Ibu Terimakasih atas pengorbanan mu untuk hidup ku. aku tahu rasa terima kasih ku tidak ada artinya bagi mu ibu. karena aku adalah penguan beban mu, ibu engkau selalu ada dalam lubuk hati ku hingga tuhan memanggil ku.

Pagi buta, dingin meliputi seluruh tubuh mu, ibu ke kebun, kebun yang jauh dari rumah kita, siang teriknya matahari ibu merasakan panasnya matahari itu, namun itu bukan ukuran bagi ibu. dalam perjuangan untuk ibu demi untuk saya sukses di mata ibu.

Ketika hasil kerja mu tiba di masa panen, hasil itu ibu menjual ke pasar, pasar yang jauh dari dusun kita, dari dusun menuju ke pasar sekitar 15 meter namun itu bukan ukuran bagi ibu.
Di pasar hasil kerja ibu jual di pasar namun jualan ibu kadang tak laku tapi ibu tak lelah untuk jatuh namun ibu jadikan itu adalah ujian bagi ibu.

Saat ibu jualan di pasar aku berak aku kencing namun ibu lap mengunakan tangan mu di depan banyak orang teman teman penjual lainnya. Hal keramaian kota ibu malas tahu ibu penting ku, karena aku adalah penguan beban mu.

itu bukan ikuran bagi ibu, siang teriknya matahari, ibu merasakan panasnya Matahari di pasar, namun itu bukan ukuran bagi ibu.
Jualan ibu tak berlaku, namun itu ujian bagi ibu;di tengah keramaian kota di pinggir jalan raya di mana ibu menjual’ sayuran ibu keladi pisang singkon dan lainya di sana aku selalu bersama mu aku adalah bayangan mu di mana ibu pergi aku harus ibuku surga ku.
Ibu suatu hari nanti kita akan bebas; setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap perjuangan pasti ada keberhasilan. Setiap
waktu pasti kita hidup di mana hari yang tuhan menentukan untuk kita hidup di situlah kita akan hidup dengan aman dan damai.

Di dalam bingkai NKRI kita tak akan Pernah merasakan bahagia namun banyak ada luka dan sakit.

Ibu……. Ibu…. Aku tahu semua pengorbanan mu, semoga aku jadi orang yang bisa membawa ibu ke ruang Bahagia.
I love you ‘Amai”

Penulis: Adalah siswa SMK negeri 3 Jayapura

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *