Oleh: Sepi S. Boma

Ayah, bundaku.
Ada sejuta rindu untuk hasrat bersamanya. Andai, aku bisa terbang telusuri ayah-bundaku dimana kalian berada.

Ayah, bundaku.
Aku terlanjur mencintai kalian berdua.
Entah, kupergi merantau di negeri orang sekalipun, percayalah Tuhan selalu ada bersamamu.

Ayah, bundaku.
Kasih sayang kalian sedang kurasakan.
Pelukan hangat selalu menggetarkan jiwa.
Lantas aku mencintai ayah-bundaku.

Ayah, bundaku.
Bangkitkan spirit dan antusias untuk menyikapi harapan hidup bagiku.
Kepedihan dan keraguan singkirkan sedetik dari pundaknya.
Walau dunia memandangmu bodoh sejenak.

Ayah, bundaku.
Aku berjanji suatu kelak nanti, akan kubahagikan kalian berdua.
Dengan harapan dan komitmen yang besar untuk mengejar cita-cita demi masa depanku.

Ayah, bundaku.
Terima kasih atas semua kebaikannya.
Dedikasi dan pengorbanan kalian tak sia-sia.
Demi untuk ketiga belas anak-anaknya.
Yang kian hidup berdampingan.

Ayah.
Kau adalah pangeran pertama yang kukenal. Aku anak kandungmu dari antara tiga belas saudaraku.

Ayah
Kau pahlawan tanpa tanda jasa.
Tiada apapun yang kugantikan atas semua kebaikanmu.
Ayah kau menahkodai keluarga ke tempat evakuasi yang serasi.

Ayah
Aku bangga jadi anak’Mu.
Sebab, cara proteksi dan perhatianmu sangat sungguh luar biasa.

Ayah
Kau seorang yang patut dihargai.
Walau orang lain tak apatis dengamu, bapa.
Sungguh aku kagumi perbuatan dan karya baikmu di setiap saat.

Ayah
Apakah aku layak jadi seorang literatur untuk konsep sesuatu hal dengan caraku?
Ya, “Anda pandai jadi seorang literatur yang serasi untuk mengkonsep sesuatu hal dengan cara dan katamu sendiri.” tutur ayah.

Ibu
Kau adalah bidadari terindah yang kukenal.
Kau cinta pertama dalam lembaran hidupku.
Kukagum dalam dekapan cintaku.

Ibu
Kau mengandung aku selama sembilan bulan dalam kandunganmu.
Melahirkan dengan pertaruhan nyawamu.
Hingga merawat dan membesarkanku dengan sekuat tenagamu.

Ibu
Kasih sayangmu tak sebanding bintang di langit dan pasir di lautan.
Sungguh aku bangga jadi anak’Mu.
Sebab, kau karim dan perhatian.

Ibu
Kau idola tercinta yang kusanjungkan.
Tiada orang yang dapat kugantikan, entahlah.
Engkau tetap yang terbaik dalam hidupku.

Esensinya!
Ayah-bundaku adalah pelengkap hidupku.
“Hidupku adalah pilihanku” Tuhan adalah penentu hidup kami.

Nabire, 28/10/2020

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *