Oleh: Silas Edowai

Hari terus berganti. Badai juga akan terus berlalu. Hanya saja senja dan malam akan terus menghampiri. Aku merindukan saat – saat aku dapat melalui semua itu dengan bersama.

Bagaimana aku bisa membuang kenangan, lantas dirimu selalu ada dalam bayang ingatan…

Banyak hal yang harus aku selesaikan, termasuk rasa rindu yang tak ingin diabaikan.

Masih teringat rasa sedih akibat perpisahan yang saling kita ungkapkan. Namun, masih juga teringat masa manis di saat kita berdua masih sangat dekat dan saling mencintai. Masa – masa itu terasa begitu bahagia denganmu.

Apa pun, tentangmu adalah terindah yang pernah ada.

Hujannya deras, rinduku pun bertambah. Sayangnya yang dirindukan tidak pernah merasakan kehadiran rindu.

Sulit sekali untuk dapat menemukan kenyamanan dari orang lain.

Semua kenangan-kenangan itu hadir kembali, tapi kutahu kamu tidak akan pernah mengigat kembali.

Sungguh kamu harus percaya kalau rindu tak bisa dihentikan sebelum ada pertemuan.

Pasangan yang paling hebar adalah yang mampu betahan dari kerasnya ujian. Aku tahu kita bukanlah pasangan yang dimaksudkan itu. Tetapi terkadang ada segelitir rindu yang mengalir saat mencul kerinduan.

Dulu aku pernah menjadi orang yang sangat kau cintai. Hanya saja sekarang cinta tersebut sudah berubah menjadi benci.

Sian ini aku sedang memikirkanmu. Mungkin kamu tidak merasakannya. Biarlah hanya aku saja yang melakukannya dan terus merasakan hadirmu.

Suatu hari nanti, hatiku tak akan sakit saat mendengar namamu.

Hidup harus terus berjalan. Aku tahu bila tidak berjodoh memang tidak dapat dipaksakan. Suatu saat masing-masing kita akan saling membawa kenangan yang mungkin akan kau lupakan suatu saat nanti. Hanya saja aku tidak akan pernah melupakan kenangan yang pernah kita ukir.

Kenanganku begitu mencintaimu, bahkan ia selalu bertanya kepadanya.

Melepaskan belum tentu dapat merelakan, itulah yang aku rasakan saat ini.

Aku tidak akan menyalahkan situasi yang tidak mendukung kita berdua. Hanya saja aku pernah menjadi orang yang berbahagia denganmu. Walaupun saat ini kau tidak lagi dapat berbahagia bersama denganku.

Berpisah begitu menyakitkan ketika cerita belum usai tapi kita harus menutup bukunya.

Aku tahu bila tidak berjodoh memang tidak dapat dipaksakan. Aku tahu kau pasti selalu menganggapku sebagai bagian dari kesalahan yang pernah terjadi di hidupmu. Tapi aku tidak pernah menyesali setiap waktu yang telah kuhabiskan bersama denganmu.

Aku tak akan mampu membencimu karena rasa sayang ini lebih besar dari apa pun.

Bukan tentang bagaimana cara membuat aku sakit, namun tentang bagaimana sakit yang aku rasakan jika aku merindukanmu.

Penulis adalah mahasiswa kuliah di UMP Jayapura.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *