Oleh: Hendrik gobai kadepa

Hidup sebagai manusia tidak berarti mulus dan bahagia yang dialami setiap orang selagi masih memiliki nafas kehidupan di dunia ini. Tetapi setidaknya perlulah mengetahui arti hidup bahagia sejauh mengalami dan menikmati segala inspirasi dalam kehidupan sehari-hari kita. Kendatipun setiap orang tidak selalu hidup dalam makna yang bahagia maupun tidak bahagia sebagaimana kadang mengalami segala hal baik dan hal keburukan.

Tatkala bahagia itu datang kepada pribadi maupun kelompok dalam keluarga terutama yang secara sungguh-sungguh dapat merasakan hidup nyata yang bahagia. Hal itu datang berlangsung ketika pribadi melakukan sesuatu hal yang tepat, artinya perbuatan baik mendatangkan kebahagiaan hidup. Terutama perbuatan baik yang dilakukan antarasesamanya sesuai caranya ataupun adat-istiadat leluhurnya .

Bahagia juga tidak lepas dari menentukan nasibnya sendiri dalam hidupnya sesuai perjuangan yang teguh guna mengetahui dan menemukan kebahagiaan dalam kehidupan subyek bersangkutan. Mengakui bahwa kebahagiaan yang datang hanya jangka waktu tertentu baginya, artinya kebahagiaan datang dan menghilangkan sesuai keadaan orang yang merasa bahagia saat itu.

Menurut Kata Sofian Yoman, untuk memiliki bahagia dalam kehidupannya itu tidak ada selain daripada bersifatnya kasih sayang sesamnya tanpa memandang hanya khusus familisme. Sebelum menemukan dan memiliki makna kebahagiaan dalam kehidupan itu sendiri, maka harus percaya diri dan berjuang tindakan belajar dengan kejam dalam konteks alami empiris yang nyata terjadi di lingkungan sosial itu sendiri. Dan kembali renungkan secara pribadi sesuai nyata yang dapat alami di lingkungan kehidupan bermasyarakat sekitarnya kemudian kembali ungkit lagi etnis sendiri yang sebenarnya sebagai dasar hidup yaitu kasih sayang dari leluhurnya .

Dengan berdasarkan itu, alangka baiknya mencari wajah kebahagiaan ada dimana saja setiap kita tinggal terutama di lingkungan sosial masyarakat. Kita bisa menerima melalui interaksi antar sesama di lingkungan yang kita gabung. Terutama pribadi maupun kelompok yang bergabung dan menjumpai makna bahagia dalam hidupnya sendiri.

Mesti diingat bahwa ketika kita mengalami bahagia, kita melupakan eksistensi dimana artinya kita tidak melupakan asal-muasal atau sikatnya saya adalah diri saya, bukan lagi siapa – siapa. Hal Itu perlu juga menanamkan sebagai prinsip dibalik kehidupan yang bahagia di benak dan hati. Karena perasaan kebahagiaan itu bersifat semua atau dinamis artinya bisa datang dan bisa pergi sili berganti.

Menurut antropologi untuk bahagia dalam kehidupan kita kadang menjadi tidak bahagia, karena dalam kehidupan perjuangannya dirasa tak nyaman. Mungkin karena salah jalan kehidupannya oleh orang tua itu sendiri ataupun pribadi apa yang di perbuat tidak sesuai kehendak kebenaran. Mendapatkan jawaban, perlulah refleksi diri sesuai perbuatan yang salah atau benar. Tetapi kadang juga bisa dipengaruhi oleh perbuatan orang tua daripadanya.

Perbuatan manusia baik dari keluarga maupun dari pribadi juga turut mempengaruhi kebahagiaan seseorang. Hal terutama perbuatan yang membawa nasib pribadi ataupun turunan keluarga yang mewarisi kepada anak-anaknya. Maka perlu berpikir bijak dalam memilih tindakan yang menghasilkan konsekuensi yang menyentuh kebahagiaan tersebut.

Dengan demikian, pandangan kehidupan kita yang pertama dan teruma adalah bagaimana kebijakan yang tepat menuju kebahagian dengan menggunakan akal dan budi kita sehingga sungguh-subgguh memaknai hidup yang bahagia dalam kehidupan pribadi maupun keluarga. Kebahagian keluarga maupun pribadi seseorang perlu dihadirkan. Terutama lagi dalam keluarga sehingga perlu ditelusuri dalam keluarga ditungku api terutama orang Papua yang menjumpai kebahagiaan melalui persetujuan keluarga di tungku api menurut tradisi budaya dan adat istiadat leluhurnya

Oleh karena itu, hidup manusia bahagia
alangka baiknya mesti dihadirkan dalam kehidupan berkeluarga. Terutama mencari kebahagiaan dengan langkah-langkah tradisi budaya yang tentunya melalui tindakan yang baik dan benar. Sehingga kebahagiaan itu boleh hadir dalam kehidupan keluarga. Keluarga perlu menjadi pusat produksi wajah kebahagiaan yang sesungguhnya memupuk kekerabatan, dan cinta kasih intim yang solid. Kendatipun kebahagiaan itu bisa luntur atau hilang sesuai keadaan realitas.

Penulis: Adalah Mahasiswa Uncen Kuliah Di Fisip

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *