Oleh:  Benny Giay

1.Menjawab pertanyaan ini, menjelang Paskah. Jawabannya ya. AfirMatif. Pasti kita semua ada pikiran tentang masa depan anak-anak kita. Mungkin orang tua dalam seluruh keberadaannya bekerja untuk anak-anaknya. Mungkin juga Gereja. Masyarakat di kampung , juga sebagai manusia diberi Tuhan 10 hukum & Gereja (baik Katolik & Kingmi) yang akan terus  mengingatkan akan tanggung jawab kemnusiaan kita.  Tetapi bagimana para petinggi yang mendapat dana Otsus itu? Apakah mereka juga ada pikir tentang anak-anak Meuwo ke depan agar lebih baik dari sekarang? Saya bicara dari sisi kami, Gereja yang juga ikut hadir awal-awal tahun 2000an beri masukkan agar Otsus akomodir hak-hak rakyat Papua (terima kasih kawan-kawan: Teo van den Broek, Pdt. Herman Saud, Pdt. Wim Rumsarwir dlam hal ini) yang ikut hadir di sana.

2. Saya heran, tidak ada warga atau Pendeta jemaat yang angkat   bicara lawan para Bupati yang jadi Tim Sukses datangkan segala macam penderitaan pada masa depan ke Meuwo lewat program (Pemekaran Provini Pegunungan Tengah) ini. Coba tebak siapa dari para Bupati ini yang (tidak peka terhadap penderitaan bangsa Papua dewasa ini tetapi) punya ambisi jadi Gubernur pertama Provinsi Papua Tengah. Siapa ya. Bupati siapa yang kira-kira usul agenda itu dalam pertemuan mereka itu? Apa kira-kira yang dia (yang mngusung agenda Pemekaran Provinsi itu) akan buat? Warga jemaat atau kampung  mana yg akan mati tertembak pertama kalau nanti POLDA & KODAM Pemekaran Provinsi Papua Tengah terbentuk itu? Apakah Bupati yang usul Priovinsi Papua Tengah ini akan hadir di sana  untuk tolong hibur atau lindungi warga itu pada masa depan?

3.Bulan Oktober 2016 saya menghadiri seminar di Australia. Saya lihat generasi muda dari Kabupaten lain di Tanah Papua yang sedang mengikuti Penidikan di luar negeri tetapi tidak ada dari Kab Paniai, Deiyai, Dogiyài & Nabire. Dari saya ke Selandia Baru. Juga tidak ada mahasiswa dari Kabupaten dari Meuwo. Tetapi Kabupaten yang paling maju dalam hal memajukan generasi muda ini ialah: Kabupaten Jayapura: pak Bupati Habel Suwae & pak Bupati Jayapura sekarang yang (pada waktu itu) kirim sekitar 30 pelajar yang ambil pendidikan S1 & S2 dan S3 di sejumlah Univertitas di Australia. Kami angkat topi bagi mahasiswa Mamta karena Bupatinya berpikir maju.  Coba cek apa yang Bupati-Bupati di Meepago sudah kerjakan 3 tahun lalu:   Bupati Dance Takimai. dan Bupati Hengki Kayame? Atau Bupati Isaias Douw? Apakah mereka sudah  kirim para pelajar orang Mee keluar negeri agar ke depan anak-anak Mee bisa bersaing dengan daerah lain? Apakah mereka pernah ambil waktu merapat ke bapak Bupati Jayapura & berbicara tentang kiat-kitanya untuk siapkan generasi muda Mamta masa depan? Atau jangan-jangan hanya habiskan uang rebut-rebut jabatan Bupati sana sini untuk keluarga atau bikin Provinsi Papua Tengah supaya bisa jadi Gubernur Papua Tengah & puas dengan semua pendatang yang masuk, dengan Kodam & Polda yang dibentuk dan bunuh habis orang Papua? Apakah Bupati demikian wajar didukung?

4. Pertanyaannya: apakah kita masih mendukung Pemekaran Provinsi Papua Tengah? Masih doakan Bupati dan petinggi yang tidak pikir masa masyarakat atau genersi kita ke depan  tetapi hanya urus dirinya sndiri? Selamat menjadi “generasi orang gila  alias gaakuna”. dimibeu  otak mati, Manusia-manusia tanpa hikmat dan kearifan.” (*)

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *