Foto Pribadi Penulis (Fb)

Oleh: Hendrikus Iyai)*

Pada suatu hari sore, malam Minggu, malam panjang bagi anak muda pada umummya, tentu ramai di taman, caffe dan beberapa tempat ngopi. Setelah semuanya sudah tiada disisiku, hampir banyanganku pun tak erat dari tubuh di saat usai matahari terang menderang menyinari hari, aku terasa bosan. Tulang-tukangku sepertinya patah tinggal daging. Jhon Bunai  sudah keluar sejak tadi, kulihat ketika ia start motornya agak rancang itu depan parkiran bagian kiri pojok setelah motornya Robert.

Aku masih duduk di depan asrama. Sunyi. Hanya siulan burung pipit yang mengelengkingkan memuji untuk Tuhan entah dari mana. Aku sadar, mungkin saja memanggil betina, unggas ciptaan Tuhan itu.

Tak bicara apa-apa, telapak tanganku menopang dagu menjepit sebatang rokok lepas-lepas asap menutupi jidatku, segala imajinasi hadir perlahan seperti batu longsor hempas di tubir kali.

Asrama mewah bentuk huruf “U” ke arah timur, aku duduk memang sunyi serupa alam Siriwo yang kaya burung kakak tua putih berkijau sore hari teriak memanggil seluruh arwah pendahuluku, juga menghibur kesunyian alam nun jauh, tempat membesarkan aku. Mau buat apa lagi, aku mengambil hp dan aku berdiri menatap layar hp, tangan kiriku sambil memegang hp aku mulai selfie dalam waktu semenit, di depan dua gedung asrama yang terbentuk dua pintu, ada pintu gerbang depan yang penghuni  masuk keluar dan ada pintu tengah juga seperti kerajaan tak ada raja.

Asrama besar bergedung dua memanjang sebelah kirinya berlantai satu dan sebelah kanan berlantai dua itu pun lantai tengahnya memanjang luas, kadang banyak teman-teman asrama berkumpul menikmati exrajos susu sambil berdiskusi dan janda tawa di lantai tengah yang memanjang luas.

“Hari akan kita main futdsal, di lapangan Merdeka. Semua yang disini akan kesana, pukul 18;00. Maria dan kawan-kawan juga datang dari kontrakan putri,” Fredi mulai ajak bicara. Orang-orang sekitarnya duduk isap rokok.

Pada saat itu, saya pun terkesan mamandang ke belakang, ada seorang gadis genakan baju hita, celana levis biru, gode rambut tapi agak kurus tinggi yang berdiri menatap senja sambil tersenyum mulu seperti orang gila yang tak sadar apa yang ia lakukan, lirikku tertuju pada seakan aku sudah jatuh cinta, tapi hanya sekedar godahi. Khayalanku semenit yang tadi  mungkin si gadis  itu jauh lebih bersyukur dari saya yang selalu menghuni di pintu senja yang hendak mulai pulang ke perduannya menempati lelap tidurku.

Pertemuan pertama kita hari ini. Senyummu membuat aku catu cinta aku pikir kamu juga merasakan hal yang sama, akan tetapi kenyatan tidak selalu sama, hanya aku yang jatuh cinta dan akhirnya aku memilih menyimpan dalam hati saja. Tapi terimah kasih sudah membuatku mengerti indahnya jatuh cinta yang kita guling puing bersama dua insane dalam atu ipian. 

Ketika aku duduk melirik senja itu dan tentang si gadis itu, pada saat itu pun senja terbenam dan gadis itu pun hilang jejak ketikaa sore itu berlalu malam itu aku melewati bersama cerita sore yang aku ikhlaskan lalui begitu saja.

Malam penat hadir tanpa pamit. Ufuk timur purnama hadir polesan cantknya, tapi beberapa helaian awan putih jemput kehadirannya. Aku duduk membisu diatas atap asrama, tiba-tiba seuruh ingatanku kubuka seluas-luasnya, tak lagi aku tenang, seuanya hadir mendidih emosiku. Hampir kubuang heandphone, tapi aku sadar hp pemberian pramuria yang tak bisa kusebut namanya, dia adalah pernah jadi pangeran selama separuh hidupku ketika aku genakan putih berabu-abu di negeri rupung koteka moge, mapia Bomomani yang kaya akan kenal kacang tanah dan jangkrik pada orang-orang sekitar Dogiyai. Kujujur, hidupku ia rebut, cintau ia rampas, hampir nyawakupun kuhampir pasrakan begiyu saja padanya, tapi sayang gadis pujaanku itu, nirwana telah memihaknya menjadi almarhuma.

Keesoknya hari, demikian aku kembali ke depan asrama. Aku duduk memikirkan gadis yang kemaring, seola mawar bergaung duka di Mapia itu, saya lihat  dan senja itu pada saat itu senja sore menyelimuti tubuhku dan aku berdiri menatap senja dalam lima menit seakan setahun bahkan panjang seperti seabad yang berlalu si gadis itu kembali seperti hari kemaring. Iya tiba dengan tertawa yang sekeras-kerasnya dan aku bisa bersyukur karena senyum itu diingatkan lagi seperti duri tajam tertusku dalam telapak kakiku.

Tetapi aku merasakan kau menganggapku sebagai teman biasa, kamu perlakukan aku sama seperti  yang lain. Maka aku simpan rapat-rapat rasa ini sampai akhir kamu pergi tak munjul di tempat senja ini lagi dan aku tidak bisa buat apapun lagi, aku bisa mengutarakan perasaanku melalui tulisan ini untukmu sampai jumpa di kemudian waktu.    

Terkadang kita menjadi lupa apa yang dikehendaki Tuhan, bagi kita hanya kenikmatan hidup bukan apa yang kau punya, yang kamu bahagia, tapi bagimana kamu mensyukuri segala sesuatu itu yang buat kamu bahagia, sebab sesungguhnya kita tak peroleh  apa-apa semuanya bahkan napas hidup  itu pun adalah kepunyaan  sang pencipta.

)*Penulis adalah Mahasiswa Papua yang Kuliah di Semarang. Dirinya juga berhobby minum kopi dan baca Buku.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *