Stop Menjadi Bagian dari Pemeliharan Kesengsaraan di Tanah Papua

Oleh : George Saa

Saya melihat beberapa sesama anak muda AOP ini memperjuangkan eksistensi mereka dengan berpendapat tentang Papua. Ada yang garis keras NKRI (Harga Mati), Merdeka/Independent(Solusi Damai) dan ada yang abu-abu sesuai arah mata angin dan hitung-hitung ombak di Pantai Utara Papua juga hitung-hitung arus balik sungai Digoel.

Ada yang bicara pendapat mereka dengan melabel diri dengan segala prestasi di masa lalu dan janji prestasi masa kini dan masa akan datang.
Ada yang bicara untuk menaikan jumlah subscriber dan jam view online platform mereka dan ada yang sama sekali tidak pikir opini publik tentang apa yang di suarakan.
Disaat yang sama, pemerintah pusat mulai rombak format mereka mempercepat pembangunan Papua dengan berbagai kebijakan baru dan bahkan ada pennulangan kebijakan lama.Disaat yang sama, operasi penuntasan KKB atau Freedom Fighter FWP terus jalan dengan segala taktik yang mungkin mengorbankan orang Papua sebagai bagian collateral damage.

Di saat yang sama Pimpinan Politik di tanag Papua mulai menampik segala tudingan yang dilontarkan ke mereka dari Jakarta tanpa hirau apa yang menjadi pandangan masyarakat asli Papua. Opini masyarakat asli Papua melihat praktik-praktik elit lokal orang Papua tidak dihiraukan atau didiamkan dan tidak perlu di tanggapi karena toh akan tenggelam bersama waktu.
Pendeta hotbah katakan kita orang Papua harus mandiri dan stop jual tanah. Kita harus olah sendiri alam dan tanah kita untuk menghidupi kita. Orang Papua perlu akses tools dan capital untuk mendorong efisiensi waktu dan naikan kapasitas produksi namun susahnya minta ampun untuk dapat modal kerja.
Perlu sekali di cek a pakah sistem ekonomi dan financing modern saat ini sangat susah untuk di akses karena syarat kepemilikan aset penjamin akses modal tidak di miliki orang Papua.

Kita bicara bangun SDM Papua namun lupa menyediakan kemudahan akses lapangan pekerjaan. SDM Papua yang di urus dibatasi tahun kelulusan tidak lebih dari 3 tahun kelulusan sedangan generasi yang putus sekolah karena hidup di wilayah konflik dan hanya bermodal KTP untuk cari kerja. Generasi yang masih muda dan kuat dan beranak istri seperti hilang dari prioritas kebijakan pembanguan pemimpin orang Papua.
Ini kondisi yang miris untuk siapa saja yang ada di tanah Papua. Ada faktor penting yang mati di tanah ini. Kita sudah mati kepedulian kepada nasib sesama kita orang Papua. Dosa yang menjadi suatu kewajaran. Pikir kita, terima kasih Tuhan, hidup saya tidak susah di bandingkan mereka lain. Kondisi terjaga secara naluri karena siapa yang mau menjadi bagian yang susah, terhimpit dan pasrah dengan keadaan hari ini.

Saya hanya bilang begini: apapun pikir kita, hal prinsip yang terjadi adalah kita memelihara kesengsaraan dan melawan kehendak Tuhan yang mau agar kita harus hidup saling tolong menolong dan berbuat kasih. Hanya inilah yang membawa keselamatan bukan?

situs
suarameepago

suaramee

Print Friendly, PDF & Email

admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lapago

Berita Lingkungan Meepago Penkes Tanah Papua

Distrik Tigi Barat Melakukan Penanaman Papan Nama Larangan Perjudian Dan Masalah Sosial

Deiyai, SUARA MEE .com – Pemerintah Distrik Tigi Barat Melakukan Penanaman Papan nama Larangan Perjudian dan Masalah Sosial di Pertabatasan Distrik dan Perempatan Jalan Pada Senin, (06/06/2022). Kepala Distrik Tigi Barat Demianus Badii, Amd.Sos Mengungkapkan Menindak lanjuti Kesepakatan Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan bersama Intelektual Tigi Barat, Pada Tanggal, 19 […]

Print Friendly, PDF & Email
Read More
Berita Perempuan & Anak Tanah Papua

Group Ester akan Gelar Seminar dan KKR Pemulihan Tanah Papua

Jayapura, Suara Mee – Ketua Umum Aliansi Woman Papua Group Ester, Herlina Murib mengatakan, Doa Puasa menjadi target usai melaksanakan seminar sehari dan Kebangkitan Kebangunan Rohani (KKR) untuk Pemulihan Tanah Papua.Tujuan dilaksanakanya kegiatan ini guna pemulihan di Tanah Papua. “Panitia penyelenggara seminar dan KKR pemulihan tanah Papua memasung tema yang diambil dari perikop, (Matius 17:21) […]

Print Friendly, PDF & Email
Read More
Berita Polhukam Tanah Papua

Eksepsi 7 pengibar Bintang Kejora minta dakwaan dinyatakan batal demi hukum

Jayapura, Jubi – Pengadilan Negeri Jayapura pada Selasa (24/05/2022) menggelar sidang lanjutan perkara dugaan makar yang melibatkan tujuh pengibar bendera Bintang Kejora di GOR Cenderawasih. Dalam sidang Selasa, Koalisi Penegak Hukum dan Hak Asasi Manusia Papua selaku penasehat hukum ketujuh pengibar Bintang Kejora menyampaikan eksepsi yang meminta dakwaan Jaksa Penuntut Umum dinyatakan batal demi hukum. […]

Print Friendly, PDF & Email
Read More