Jayapura, suara mee – Dua tahun lalu, dua kali bentuk panitia pembangunan asrama kedegapo dinilai tidak bekerja serius dan dinyatakan gagal. sehingga mahasiswa kedegapo kembali bentuk panitia pembangunan asrama berlangsung di halaman sekretariat kedegapo kota raja dalam, selasa, (15/12/2020)

pemilihan panitia secara aklamsi sehingga yang jadi panitia Amatus tekege sebagai ketua, Maksimus Pekei sebagai sekretaris, dan thincelin tekege sebagai bendahara.

Perwakilan orang tua, Pdt.Daniel Pekei, S.Th. M.Th mengatakan, kami bosan membentuk dan mendoakan penitia pembangunan sebelumnya karena di dua tahun yang lalu kami sudah bentuk panitia pembagunan tersebut tetapi tidak bekerja serius dan dinyatakan gagal, ‘’ujarnya.

Ia menagatakan, semoga kepanitian yang baru saja terbentuk ini.
semoga ada perubahan untuk asrama, tidak seperti panitia tahun lalu
yang hanya mencari kepentingan, ‘’katanya.

Panitia terpilih, Amatus Tekege mengatakan, pembangunan ini bukan tugas panitia, kami sebagai panitia Cuma mengambil nama
tetapi ini tugas untuk kita semua baik orang tua, senioritas, dan mahasiswa serta Ikb kedegapo se-kota jayapura, ‘’ujarnya.

Ia menagatakan, harapan kami kedepan kita akan jalan sama-sama dan setiap program kerja yang kami jalankan harap orang tua dan senioritas mendukung kami dalam pengglangan dana demi membangun asrama kedegapo kita yang tercinta, ‘’harapnya.

selain itu, badan pengurus IPPMA-KEDEGAPO Abner Douw. menagatakan, tugas dan fungsi sebagai badan pengurus kami siap kontrol dan mengawasi panitia ini sampai asrama ini benar-benar terbangun, ‘’katanya.

Ia menagatakan, kepada panitia ini tetap jaga garis koordinasi antara badan pengurus senioritas dan orang tua bahkan pula keluarga kedegapo di luar kota jayapura, ‘’ujarnya.

harapan kami kepada panitia terpilih, dalam satu tahun kedepan asrama ini sudah jadi karena banyak mahasiswa kedegapo yang tinggal di kost dan sedang terlantar, ‘’Pungkas Douw.

Reporter: Sisko F Pekei/SM

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *