Jayapura, Suara Mee – Mahasiswa Papua di Kalimantan Tengah menilai Otonomi khusus (Otsus) yang telah berjalan selama 20 tahun telah terbukti tidak membawah perubahan apapun, khususnya bagi rakyat Papua, kondisi objektif yang dialami rakyat Papua sangat jauh dari kata sejahtera, menurut UNICEF pada tahun 2019-2020 angka kematian Ibu dan Anak di Papua paling tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 305 per 1000 kelahiran, hamper 30% dari 1000 ibu yang melahirkan di Papua meninggal di Rumah Sakit setiap tahun, itu terjadi pada saat proses mengandung. Hal ini dikatakan mahasiswa Papua dalam keterangan tertulis yang di terima Suara Mee Sabtu (27/02/2021) “Pada tahun 2002 jumlah angka kematian bayi (Invant Mortality Ratio) berdasarkan SKDI 56 bayi meninggal per 1000 kelahiran, namun pada tahun 2017-2020 justru mengalami kenaikan menjadi 257 kematian per 1000 kelahiran, ditamba beberapa kasus kematian massal di asmat dan yahukimo yang sengaja disembunyikan oleh negara dan media mainstream. Menurut mahasiswa, tidak sampai disitu, pemerintah Indonesia berencana untuk membelah wilayah Papua menjadi 5 provinsi baru, yang dimana keinginan itu sangat ditantang oleh seluruh masyarakat akar rumput di Papua bahkan seluruh elit politik di Tanah Papua,” Katanya. “Penolakan ini sangat jelas bertentangan dengan syarat-syarat pembentukan DOB yang dimana faktor jumlah penduduk Papua yang telah menjadi minoritas di tanah sendiri, cara membagi wilayah Papua yang hanya berdasarkan informasi intelijen yang dikemukakan oleh Tito Karnavian sangat tidak mendasar dan bertentangan dengan keinginan rakyat Papua itu sendiri. Selain itu kata Mahasiswa, berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masih terus terjadi, hak-hak dasar orang asli Papua (OAP) dirampas, dan kondisi dunia pendidikan yang begitu buruk, itu terbukti dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua yang terendah se-Indonesia, dan itu menjadi barometer bahwa dimasa keberlangsungan otsus selama 20 tahun di atas Tanah Papua, tidak membawa perubahan dan nilai positif bagi peradaban manusia Papua, itu menjadi bukti kuat bahwa otonomi khusus telah GAGAL di Papua,” katanya. Maka dengan ini kami yang tergabung di dalam himpunan Mahasiswa Papua Kalimantan Tengah menuntut : 1.Kami mahasiswa Papua dengan tegas menolak perpanjangan OTONOMI KHUSUS JILID II di Papua dan Papua Barat karena OTSUS telah gagal total. 2.Menolak segala macam bentuk tawaran DOB (Daerah Otonomi Baru) di tanah Papua. 3.Menolak pembangunan Kodim dan Negara Segera tarik militer organik dan non-organik dari seluruh tanah Papua. 4.Segera Hentikan & Tutup eksploitasi hutan, Penanaman Kelapa Sawit (Manokwari Selatan, Merauke,Boven Digoel) PT.Freeport, LNG tangguh (Bintuni), Petrocina dan british petroleum di Sorong. Segera hentikan penambang ilegal dan mendesak Gubernur Papua untuk segera mencabut izin pengelolaan Blok Wabu di Intan Jaya. 5.Kami mahasiswa Papua di kota studi Palangka Raya mengutuk keras tindakan parah elit politik Papua yang mengatasnamakan rakyat Papua untuk mendukung Otsus dan meminta DOB. Reporter : Awiwiyai Agapa
Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *