Manokwari, Suara Mee.com -Rakyat Domberai Sukses Memperingati Hari Kematian Arnord C.Ap

Masyarakat adat wilayah tiga domberai sukses memperingati kembali hari kematian Arnold C.Ap yang ditembak oleh aparat militer Indonesia pada 26 April 1984 di Pantai Pasir Enam Jayapura, yang digelar dalam gedung Dewan Adat Wilayah Domberai, Jalan Pahlawan, Manokwari, Senin (26/4/2021) malam.

Acara memperingati ini dimeriakan oleh puluhan rakyat Bangsa Papua Wilayah Domberai di Manokwari. Kegiatan mulai dengan konser musik akustik, pembakaran lilin, konferensi pers disaksikan bersama perwakilan dari Forom Independen Mahasiswa (FIM) Manokwari, Komite Nasional Papua Barat (KNPB),Anak West Papua (AWP), Kontraks Papua Barat yang bergerak di lembaga kemanusiaan,Antropolog Universitas Papua,Group musik melakukan orasi ilmia, membaca sejarah kematian Arnord C,Ap,membaca puisi, membaca peryataan sikap, pemasangan lilin.

Acara mengenang kematian ini dengan berikan thema; “Merawat harapan” sub tema; “Tex Papua yang dahulu bernyanyi kini mulai mencari jati diri.”

Melalui hari peringatan kematian Arnord C.Ap ini Ketua Dewan Adat Wilayah Domberai Zakarias Horota mengajak kepada anak-anak generasi penerus Papua harus memutar lagu-lagu sejarah,seperti lagu mambesak, lagu perjuangan bangsa Papua, karena kita orang Papua dimainkan dengan sistem kebudayaan Indonesia, melalui jaman teknologi moderen.

“Kita generasi Papua harus belajar mencintai warisan, identitas, jati diri mulai dari budaya dan bahasa ibu sendiri sebagai jatih diri orang Papua, dan lagu-lagu leluhur yang telah menciptakan oleh seorang tokoh kebudayawan Arnord C.Ap itu terus digali serta dikembangkan,” ajaknya.

Selain itu, Sem Awom yang sebagai Kepala Pemerintahan Dewan Adat mengatakan kepada beberapa wartawan saat diwawancarai.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai harga diri dan martabat maka harus mulai kembali membaca perjalanan sejarah bangsa Papua,karena literasi sejarah bangsa Papua itu banyak, salah satu sejarah yang telah diungkap melalui syair dalam group mambesak, jelasnya.

OPM TPNPB bukan kelompok teroris maka saya mengklarifikasi kepada pemerintah Negara Indonesia atas ujaran bawah mereka berjuang diatas tanah adat artinya mereka berjuang diatas kebenaran sejarah bangsa Papua Barat, sama seperti bangsa-bangsa lain yang berjuang untuk pembebasan tanah mereka, maka Indonesia harus berhenti ujaran yang bersifat kekerasaan dan intimidasi,”tegasnya.

Lanjut Awom, kepada mahasiswa Papua adalah agen perubahan sebagai generus penerus bangsa Papua, maka harus terus mengkampanyekan apa yang orang tua berjuang dalam hutan sanah,yang dimana mereka bertahan hidup, menahan lapar dan haus untuk perjuangan demi pembebasan bangsa tanah adat Papua.

Mereka pemilik tanah, “kenapa bangsa-bangsa lain seperti aparat keamanan Indonesia datang untuk menganggu perjuangan murni oleh Bangsa Papua. Indonesia datang bukan karena hal hal lain namun tetapi Indoensia datang membunuh masyarakat Papua hanya karena satu tujuan yaitu untuk mengambil kekayaan milik orang Papua,” tutupnya.

Selain itu melalui pemutaran lagu-lagu berpesan bawah kita menjaga hutan dan alam kita. Syair-syair lagu mambesak juga berpesan kepada generasi penerus untuk menjaga alam Papua,menjaga gunung, sungai dan pesisir di Papua, kata Wilson Wader seorang antropolog mudah.

“Arnord Clemens Ap bernyanyi untuk hidup,hidup untuk bernyanyi orang Papua itu karakteristik kebudayaan,” jelasnya.

“Orang tua kami dulu mereka mau bikin kebun dia menyanyi,dia mau ke laut ada hasil atau tidak dia menyanyi, jadi motto Arnord C.Ap ‘bernyanyi untuk hidup’ itu benar, maka generasi kita hari ini dan seterusnya harus menjaga ekologi dan ekosistem diatas tanah Papua,” jelas Wilson depan Gedung DAP.

menyanyi untuk hidup, lagu-lagu mambesak untuk hidup,kedepan kita penting melakukan di tempat-tempat besar agar semua orang bisa mendengar, karena kita punya suara biasa indonesia tidak dengar,” tambahnya.

Reporter By : Jefry Giay

Editor : Nelles tatogo

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *