Jayapura,suarameepago.com – Mahasiswa yang tergabung dalam Perempuan Papua Revolusioner dibubarkan paksa oleh aparat kepolisian karena tak mengantongi izin pada, jumat, 8 Maret 2019. Aparat menembakkan gas air mata ke arah masa aksi. Dan sempat terjadi bentrokan antara masa aksi dan Aparat Kepolisihan Resor Kota Jayapura.

Hal itu dikatakan Penanggung jawab aksi Rurans kepada media ini, Jumat, (8/3/2019). Rurans menceritakan sepintas kronologi bentrok tersebut.”Bentrok ini terjadi ketika Mahasiswa/I melangsungkan aksi kesehatan di Papua guna memperingati, Internasional Women Say sedunia yang berbau (STOP SEKSISME) Perempuan Bukan Budak Seks,” katanya.

Ruranas mengatakan, kepolisihan Resor Abepura dan Sektor Waena membubarkan masa aksi secara paksa.

“Aparat keamanan juga lepaskan kontak senjata, tiga butir peluru ke arah langit dan dua Gas Air Mata ke arah masa aksi. Kemudian Rurans dan rekan-rekan yang lain-Nya protes kepolisian dengan Okmun Lembaga Kampus tetapi polisi terpaksa serobot masuk,” katanya.

Ruranas mengatakan, tindakan aparat kepolisian resort kota Jayapura tidak terpuji dan melanggar otonom kampus.

“Hal ini membuat mahasiswa Universitas Cendrawasih (UNCEN) merasa diremehkan dan mereka menilai polisi dan pihak lembaga membungkam ruang Demokrasi bagi mereka,” katanya.

Ruranas dalam orasinya mengatakan, Pemerintah Provinsi Papua hendak soroti persoalan kesehatan bagi masyarakat terpencil.

“Hal ini digalakkan agar meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di berbagai pelosok yang daerah yang tidak terjangkau,” tagasnya.

Untuk di ketahui bahwa aksi damai tersebut di bubarkan paksa oleh aparat kepolisian resort kota Jayapura. Namun mahasiswa tersebut berhasil membacakan stetmennya. (LM/SM).

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *