Foto dok. Pribadi Julian Howai

 

Oleh: Julian Howai

Sesudah 51 Tahun (1967-2018), Freeport McMoran, suatu perusahaan tambang raksasa yg bermarkas di Downtown Phoenix Arizona, AS, tak lagi menjadi pemilik (bahasa lain, penguasa/penjajah) mayoritas saham PT. Freeport Indonesia, setelah Pemerintah Indonesia mengakuisi 51 persen saham pada Desember 2018 lalu.

Meski saham sisanya sebesar 55,8 persen masih digenggam kuat Freeport McMoran, eksploitasi yg dilakukan perusahaan pencuri/perampok sumber daya alam (SDA) Bangsa Papua ini pun telah meninggalkan luka borok. Hal ini berupa kerusakan lingkungan yg sangat parah akibat limbah tailing beracun yg menghancurkan sungai, hutan, lahan sagu, hingga ekosistem laut beserta  keanekaragaman hayati  di sekitar perairan laut Timika, Tanah Papua.

Menurut hasil investigasi Majalah Tempo dan Tabloid Jubi selama 6 bulan di lokasi, potensi kerusakan lingkungan ini diperkirakan setara dengan angka 185 triliun rupiah. Angka yg demikian besar. Dampak lingkungan ini pun menimbulkan masalah sosial yg amat menyedihkan terhadap penduduk asli, terutama Orang Amungme dan Kamoro.

Mereka telah tercerabut dari sumber-sumber mata pencaharian hidup secara tradisional, termasuk proses eksploitasi dan kerusakan lingkungan telah mengisolasi penduduk asli di 4 (empat) distrik dari wilayah tempat hidup mereka sejak turun temurun.

Selama setengah abad Kapitalis Freeport McMoran dan Neo Kolonial Indonesia bercokol dan menggarong bumi Papua, selama itu pula penduduk asli Timika yg adalah bagian dari entitas bangsa Papua telah mengecap pahitnya konflik berdarah. Spiral kekerasan pun seakan menjadi siklus kehidupan yg tak pernah usai. Seakan bumi dan manusia Papua yang diumpamakan seperti daging segar yang empuk telah tercabik-cabik oleh taring-taring kekar sejumlah binatang buas liar yang rakus dan saling berebut daging.

Eksploitasi sumber daya alam (SDA) Papua yang terus terjadi (terutama dilakukan oleh Freeport), kerusakan lingkungan yang demikian parah, kemiskinan terstruktur dan marginalisasi penduduk asli hingga ancaman depopulasi/kepunahan orang asli Papua, semuanya telah menempatkan Bangsa Papua sebagai pihak yang kalah dan masih terjajah.

Secara umum, kondisi ini menyebabkan orang Papua, terutama mereka yang berdomisili di sekitar area eksploitasi Freeport sudah tidak lagi saling percaya diantara mereka sendiri. Dong sekarang mudah saling curiga satu sama lain. Saling berebut kuasa atas sisa-sisa sumber daya ekonomi-politik (ekopol) yg tersedia, bahkan tak jarang harus baku bunuh untuk semua itu. Lalu yang kuat lah yang akan tampil sebagai pemenang dengan bermetamorfosis menjadi elit-elit lokal. Yang kalah dan kecil sudah pasti tersingkir. Begitu seterusnya !

Di Timika, konflik dan saling baku bunuh untuk memperebutkan sumber daya ekonomi-politik kini masih terus terjadi. Antara orang Papua sendiri (gunung vs gunung atau gunung vs pantai), maupun antara orang Papua vs pendatang hingga orang Papua vs TNI/Polri.

Secara psikologis, bagi orang Papua, kaum pendatang (orang luar/Orang Indonesia) adalah mereka yg datang lalu mengambil kesempatan dengan mencuri dan merebut sumber daya ekonomi-politik milik orang Papua. Mereka ini biasanya dipandang sebagai kaum benalu, pencari untung, musuh, pencuri, perampok, dan penjajah !

Sementara orang Papua memandang aparat bersenjata (TNI/Polri) sebagai alat negara Neo Kolonial Indonesia karena telah menindas bahkan membunuh mereka. Aparat bersenjata (TNI/Polri) juga dipandang sebagai anjing penjaga ketidak adilan proses eksploitasi/perampokan dan akumulasi kapital dari perusahaan-perusahaan perampok SDA Papua semisal Freeport. Mereka tentu dipandang sebagai musuh, penjajah, penindas, pembunuh dan bukan pengayom !

Kapitalisme Freeport McMoran yg selama 51 tahun berkolaborasi dengan Pemerintah Neo Kolonial Indonesia memang sangat jahat dan tentu saja bangsat ! Mereka memang benar-benar keterlaluan !

Kolaborasi ini ibarat gurita raksasa dengan tentakel-tentakel penghisap yang tanpa henti terus menghisap sumber daya alam (SDA) Papua dan memiskinkan bangsa Papua. Nasib dan masa depan bangsa Papua untuk dapat menikmati kekayaan alam, susu dan madu di atas tanah airnya sendiri seakan sirna.

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *