Foto Dok. Pribadi Amoye Pekey

 

Oleh : Amoye Pekei

Jika ada masalah terkait  pekerja seks Komersial ( PSK ) di daerah, solusinya bukan “merendam” karena sanksi merendam terkesan diskriminasi dan melanggar HAM. Pemerintah perlu mengevaluasi kelemahkan pengawasan pemerintah terkait kebijakan pelayanan pemerintah selama ini, yang berhubungan dengan tugas utama rehabilitasi pekerja seks komersial (PSK). Karena PSK juga merupakan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) maka mereka perlu dilayani dengan pelayanan yang professional.

 

Penanganan PSK seharusnya menjadi tanggung jawab dinas kesejahteraan sosial dalam standar pelayanan mimimal (SPM) bidang sosial yang berkolaborasi dengan sektor yang terkait. Lokalisasi ini mucul, dilatarbelakangi dengan tingginya prostitusi didaerah.  Sesuai dengan namanya, Lokalisasi artinya diasingkan atau daerah yang dikhususkan. Hal ini sesuai dengan definisinya menurut Kartono, lokalisasi adalah komplek yang terisolir atau tepisah dari komplek penduduk lainya, yang pada umumnya terdiri atas rumah-rumah kecil yang bisa dikenal sebagai “daerah merah” yang dikelola oleh mucikari atau germo.

 

Tujuan dari lokalisasi adalah untuk menjauhkan masyarakat umum, terutama anak- anak dari pengaruh pengaruh immoral dari praktek pelacuran. Menghindarkan ganguan-ganguan kaum pria hidung belang terhadap wanita-wanita baik. Memudahkan pengawasan para pekerja seks komersial, terutama mengenai kesehatan dan keamananya. Memudahkan tindakan preventif dan kuartif tehadap penyakit kelamin. Mencegah pemerasan yang keterlaluan tehadap para pelacur, yang pada umumnya selalu menjadi pihak yang paling lemah. Memudahkan bimbingan mental bagi para pelacur, dalam usaha rehabilitasi dan resosialisasi. Kadang kala juga diberikan pendidikan keterampilan dan latihan-latihan kerja, sebagai persiapan untuk kembali ke dalam masyarakat biasa. Khususnya diberikan pelajaran agama guna memperkuat iman, agar bisa tabah dalam penderitaan. Kalau mungkin diusahakan pasangan hidup bagi para PSK yang benar-benar bertanggung jawab, dan mampu mambawa ke jalan yang benar.

 

Pada umunya tujuannya adalah memudahakan proses resosialisasi untuk keberfungsian sosial PSK di masyarakat. Hal ini dapat terjadi jika fungsi pelayanan kesejahteraan sosial itu berjalan maksimal melalui upaya pemberdayaan, perlindungan, jaminan sosial, dan rehabilitas PMKS PSK di lokalisaso.

 

Kebijakan pemerintah membangun tempat rehabilitasi suda cukup baik untuk mencegah masalah sosial ( prostitusi ) dan masalah kesehatan (IMS, dan HIV) ini menyebar kepada kelompok anak dan penularannya kepada populasi yang tidak beresiko. Hanya saja mungkin upaya pelayanan sosial untuk resosialisasi itu yang belum berjalan maksimal dan menyeluruh di lokalisasi.

 

Dampak prostitusi antara lain penularan IMS, HIV dan memicu timbulnya kelompok prostitusi baru. Mungkin hal ini yang menjadi alasan bagi kabu untuk menutup lokalisasi. Dibandingkan dengan prostitusi ditahun 1990an, dengan kasat mata kondisi prostitusi pada saat ini labih tinggi karena kegiatannya telah menjelma dengan prostitusi yang “berkedok” seperti warung makan, cave, salon, tempat pijit dan lain-lain.

 

Dengan demikian dari sisi jumlahnya sebaiknya pemerintah harus berpikir lokalisasi (tempat rehabilitasi PSK)  agar muda dikontrol dan diberdayakan untuk proses resosialisasi untuk mengurangi PSK tidak bekerja lagi di tempat-tempat yang illegal yang “berkedok”. Kebijakan pemerintah harus mengarah pada upaya untuk menurunkan tingginya angka pertumbuhan prostitusi dan penularan HIV.

 

Tulisan ini mengingatkan kita ketika kita menganggab merendam PSK adalah tindakan yang tepat, mungkin seketika ya tetapi tidak menyelesaikan masalah sosial PSK di daerah. Kita belum melihat dan mengontrol PSK jalanan atau PSK Penggilan yang tidak bisa dikontrol. Semoga tulisan ini menambah referesi pemeribtah daerah dalam menangani PSK dengan manusiawi dan lebih profesional lagi. Tuhan Memberkati.

 

Penulis adalaha: Ketua DPD Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia Papua.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *