Foto Ist: Beny Giyai

 

Oleh: Pdt Dr Benny Giyai

Ada yang bilang, kita juga harus bahas Pemekaran Gereja karena kita sudah bicara Pemekaran Prov Papua. Saya kira itu baik. Berikut sumbangan saya tentang soal pemekaran Gereja ini.

Saya kira tidak soal, bahas pemekaran Gereja sama dengan pemekaran dalam arti berikut.

 

Pertama pemekaran Gereja haruslah dalam rangka perlindungan dan pemajuan masa depan/kepentingan jemaat-jemat kita karena kalau tidak dimekarkan nanti berakibat buruk bagi jemaat itu. Jadi pemekaran Gereja pertimbangannya: penyelamatan dan  kebutuhan pastoral warga. Demikian juga dengan Pemekaran Provinsi Papua Tengah. Apakah pemekaran Provinsi Papua Tengah sudah mempertimbangkan aspek pemajuan warga masyakat Meuwo masa depan?

 

Kedua, pemekaran Gereja harus mengacu kepada atau mengikuti mekanisme aturan Gereja, harus ada usulan dari jemaat di akar rumput. Setelah usulan pemekaran maka pimpinan Gereja beberapa tingkatan di atasnya harus duduk bersama dan ambil keputusan bersama. Apakah usulan pemekaran Provinsi Papua Tengah yang Bapak dorang bicarakan itu datang dari masysrakat? sudah diseminarkan? Sudah lewat Sidang DPRD? atau keluar tiba-tiba di rapat 4 orang Bupati dan wakilnya begitu saja.

 

Ketiga, Bupati dan kepala-kepala dinas DPR atau KPU itu menurut kami, Gereja ialah mitra Tuhan, kawan sekerja Allah, kaki, mata, tangan Tuhan, yang Tuhan tempatkan di jabatan-jabatan itu untuk mengangkat yang tertindas, yang menderita, dan yang paling hina dari yang terhina, dengan membuat PERDA & kebijakan yang pro rakyat kecil. Ini yang kami Gereja suarakan selama ini di mimbar-mimbar, baik Katolik maupun Kingmi. Tetapi Pendeta & Pastor yurisdiksinya hanya terbatas di mimbar, di wacana, pihak yang bisa “idaa awii” konkritkan itu pak Bupati, Dewan, Kepala Dinas. Apakah dengan Pemekaran Prov itu Bapak dorang nanti bisa menjadi alat Tuhan untuk kasih maju orang Meuwo atau Papua atau Prov Papua yang Bapak dorang 4 mekarkan itu akan di pakai Iblis alias malaikat maut untuk bunuh-bunuh dan lahap masyrakat ?

 

Keempat penolakan pemekaran itu kemarin kita bicara karena membaca disemangati oleh buku yang ditulis pak Bupati Dogiyai (waktu bpk Bupati duduk sebagai MRP) seperti: hidup & karya Martin Luther King, Dom Helder Camara, Oscar Romero,dll) jadi kalau bapak Bupati memang yang menulis buku-buku (kalau saya tidak salah) pak Bupati seharusnya sejiwa dan searah dengan kita, Gereja dan sama-sama kita arahkan para Bupati lain. Tidak harus bicara mengalihkan pembicaraan lewat bahasa sana sini. Ikuti bimbingan dan spiritualitas Tokoh-tokoh Gereja itu yang (bapa tulis) yang kami Gereja akui sebagai anugerah Tuhan sepanjang masa. Tuhan kiranya perkenankan Bapak Bupati & kita Gereja mencegah kematian & krisis ketidak- berdayaan yang sedang menggerogoti Papua. Selamat berkarya. Selamat menjadi tangan Tuhan bagi masyarakat Meuwo.

Penulis adalah: Ketua Sinode Kemah Injil Gereja Masehi (KINGMI) Di Tanah Papua.

 

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *