Foto dok. Pribadi, Samuel Tabuni

 

Oleh: Samuel Tabuni

( Upaya merajut Kebinekaan NKRI diatas Tanah Papua)

Kepercayaan masyarakat Papua terhadap TNI/POLRI diatas Tanah Papua menurut saya kurang dari 10%, saya siap dikoreksi jika ada penelitian tentang situasi ini.

 

Kondisi ini akibat keterlibatan militer yg berlebihan dalam konflik panjang sejarah integrasi Papua ke NKRI sejak 1962 dan konflik-konflik ikutannya yang terus terjadi diatas Tanah Papua akhir-akhir ini.

 

Orang Papua akan merasa nyaman dalam rumah NKRI dan menjaganya kalau jajaran pimpinan TNI/POLRI di Papua semua orang asli Papua.

 

Terbukti Mayor Jenderal Inf. Jenderal O. Joppy Wayangkau Panglima Kodam Kasuari. Beliau sudah 4 tahun bertugas di Kodam Kasuari dan Pangdam terlama di Papua. Beliau dicintai oleh masyarakatnya, banyak pemuda /i Papua yg terinspirasi untuk menjadi anggota TNI. Kehadirannya sebagi seorang Kakak, berpangkat Jenderal asli Papua dan Panglima bagi masyarakat Papua. Sangat Membanggakan!

 

Inspektur Jenderal Polisi Paulus Waterpauw sejak pangkat perwira muda hingga jenderal bintang dua diraihnya diatas Tanah Papua. Karena warganya menjaganya, mencintainya dan tidak sedikit anak-anak muda Papua yg terinspirasi menjadi anggota Polisi. Sangat Membanggakan!

 

Saya masih ingat, waktu kasus penyanderaan tahun 1996-1998 para prajurit TNI asli Papua lebih merakyat dari pada saudaranya yg bukan Papua. Ada perbedaan rasa dan pandangan melihat situasi disaat itu. Pada saat itu pasukan 752 dari Sorong yg dipimpin oleh Sersan Satu (Sertu) Marsamel Makanuay. Beliau sering pakai koteka dalam acara budaya, jika masuk hutan beliau pakai koteka tanpa bawa senjata. Beliau ajak anggotanya untuk menjadi guru dan mengajar kami di SD. Beliau ajak anggotanya bangun gereja termegah di distrik Mbuwa (Gereja ini masih ada). Beliau ajar kami cara main bola kaki dan volly yang benar karena beliau adalah atlit dan pelatih. Beliau sangat menginspirasi kami anak-anak kampung Mbuwa. Saat ini beliau berpangkat Kapten dan mengemban tugas dan menjabat KAUR TRASAT MUSMONTRA BINTALDAM XVII/CENDRAWASIH. Sangat apreasi tinggi kepada Kakanda Kapten Inf. Marsamel Makanuay. Seorang Kaka yg mengisi mimpi-mimpi besar anak-anak kampung waktu itu, termasuk saya sendiri.

 

Institusi TNI/POLRI sangat penting bagi ketahanan Indonesia di Tanah Papua sebagai Tanah Damai untuk semua warga negara Indonesia. Keterlibatan orang Papua dalam kedua institusi ini akan menunjukan kestabilan konflik panjang bersejarah secara signifikan dengan cara kedepankan rekrutment, pendidikan, promosi pangkat dan jabatan putra/putri asli Papua dalam kedua institusi ini. Ini sangat urgent!

 

Harus selalu diingat dikepala bahwa integrasi Papua kedalam bangsa Indonesia itu belum selesai secara 100%. Dibutuhkan kerja keras dan kebijaksanaan dalam mengelolah Papua. Institusi terdepan dan terutama di Indonesia yg kita cintai institusi TNI/POLRI harus memainkan peran penting, dengan cara kita harus terjemahkan dalam kondisi dan kultur masing-masing daerah di Indonesia, termasuk kita di Tanah Papua. Dengan demikian Institusi TNI/Polri di Tanah Papua menjadi milik dan tanggungjawab rakyat Papua untuk menjaga, mengangkat, promosi dan dijalankan oleh orang Papua. Kepercayaan penuh kepada orang asli Papua membangun negerinya didalam institusi-institusi ini tentunya sangat tepat dalam rangka memelihara dan merajut ke-Bhineka Tunggal Ika-an Indonesia di Tanah Papua.

 

Beberapa waktu yang lalu, Bapak Danrem Kolonel Inf. Jonathan Binsar P, Sianipar telah menghubungi saya dan meminta putra/putri Papua dari suku Nduga, karena suku Nduga minim anggota TNI. Saya sudah hubungi beberapa kepala distrik di Nduga untuk rekrut adik-adik saya yang telah tamat SLTP dan SLTA untuk melamar anggota TNI. Namun, kata mereka, tidak banyak pemuda/i asal Nduga yg menginginkan untuk menjadi anggota TNI atau POLRI. Saya juga ke Merauke, tanya beberapa orang tua dan adik-adik saya ternyata kondisinya hampir sama di Nduga.

Disini terlihat bahwa tidak hanya di Nduga, ada beberapa daerah Papua sama situasinya. Kebanyakan pemuda/i Papua belum tertarik pada TNI/Polri. Kepercayaan para pemuda milenial Papua terhadap kedua institusi masih sangat kurang. Kondisi ini tidak saja urgent tetapi berbahaya bagi bangsa Indonesia terkait keberlangsungan masa depan kedua institusi diatas Tanah Papua. Karena, kedua institusi ini idealnya harus lahir dari rakyat untuk membela bangsa dan rakyatnya.

 

Kita harus cari format, solusi dari letak persoalan diatas. Solusinya pertama adalah orang Papua yang berpangkat jenderal dikirim ke Papua, jangan tahan di jawa. Mereka adalah sumber inspirasi utama bagi pemuda/i Papua untuk promosi, berkampanye dan berjuang di Papua. Seperti Pak Jenderal Joppy Wayangkau. Beliau ke kampung-kampung pegunungan arfak untuk mencari anak-anak Papua asli untuk menjadikan mereka anggota TNI, beliau melakukan promosi Institusi TNI. Beliau setelah kumpulkan adik-adik dari kampung Arfak, beliau perintahkan kaka-kaka mereka (anggota TNI) yg sesama Papua latih mereka, bina mental dan spiritual mereka selama 3 bulan pra-pendidikan, sebelum aktual test dan pendidikan mulai. Ini cara cerdas yg telah dimulai oleh Pak Jenderal Joppy. Beliau perlihatkan kemanunggalan TNI dan TNI menjadi bagian dari diri orang Papua.

 

Berdasarkan pengalaman diatas, saya kira untuk menjaga Papua dari ancaman disintegrasi bangsa, semua putra/i Papua yang berpangkat Jenderal dipulangkan ke Tanah mereka “Papua” untuk membantu menstabilkan ketidak percayaan masyarakat Papua terhadap institusi TNI/POLRI. Kondisi ini bagi saya sangat serius dan penting di Tanah Papua yang mana harus disikapi oleh Panglima TNI dan Kapolri di Jakarta. Kondisi ini hanya berubah dengan tindakan dan pendekatan yang persuasif, professional dan extra- preventif berdasarkan koridor dan tatanan budaya asli Papua.

 

Saya salah satu yang ikut bangga dan sekaligus kecewa setelah membaca berita Bapak Mayor Jenderal Herman Asaribab ditunjuk sebagai Panglima Kodam XII/Tanjungpura. Bangga karena beliau mencapai Jenderal bintang dua, dan dapat dipercaya sebagai panglima. Kecewa karena dimasa akhir pensiunannya harus dihabiskan di daerah yang jauh dari kami (Papua). Terlepas dari mekanisme mutasi jabatan internal institusi TNI. Kami masyarakat Papua sangat membutuhkan sosok pemimpin yang berkarakter dan professional seperti beliau untuk berkampanye dan promosikan insititusi TNI di Tanah Papua. Membangun kembali kepercayaan dan mengobati luka lama hanya dengan melihat putra/putri kami mengambil posisi penting dan mengambil kebijakan-bebijakan yg berpihak kepada kami, didepan mata kami dengan tetap memperhatikan peraturan dan perundang-an yang berlaku didalam negara kita.

 

Sama halnya, dengan Institusi POLRI. Kami butuh para jenderal Polisi dan komisaris besar polisi asli Papua seperti Brigadir Jenderal Polisi Pietrus Waine agar dipulangkan mengabdi dan mendidik kami, menjadi contoh dan teladan bagi kami. Mereka adalah sumber inspirasi utama bagi pemuda/i Papua disaat masa krisis kepercayaan terhadap kedua institusi di Tanah Papua. Upaya ini lebih cerdas dan lebih kontesktual melengkapi usaha kita selama ini dengan pasang bendera “Merah Putih” dihutan-hutan, dibelantara, dijalan-jalan dan yel-yel NKRI Harga Mati diatas Tanah Papua.

 

Jika hal -hal diatas tidak diperhatikan, lanjut sampai dengan para jenderal dan para perwira aktif diatas purna tugas sebagai anggota TNI/Polri. Disaat yang sama tidak ada re-generasi didalam internal institusi dan minim keterlibatan orang Papua sebagai Dicision Maker maka sudah pasti ketidakpercayaan semakin menebal, ketidak sukaan semakin meningkat dan kedua institusi tidak ada ruang dihati masyarakat Papua. Suatu saat akan terjadi situasi dimana masyarakat Papua dan kedua institusi saling lawan, saling baku adu kekuatan untuk menunjukan eksistensinya diatas Tanah Papua. Semoga kedepan kita tonton kesuksesan Negara Indonesia, bukan kegagalan negara Indonesia diatas Tanah Papua.

 

Jayapura, 20 Maret 2019

 

Salam Damai dalam Kasih

Kristus Jesus Tuhan kita.

 

Samuel Tabuni M, Gebze

(Anak kampung dari Nduga)

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *