Cp: Suasan diskusi pemerintah kabupaten Nabire Bersama DPRP John Gobay-(Ugiwiyai/SM)

 

Jayapura, Suarameepago.com —Pembangunan jalan yang menghubungkan Enarotali, pusat Kabupaten Paniai-Desa Dagouto, pemicu air Kali Weya meluap hingga menenggelamkan rumah dan kebun-kebun, bahkan berdampak buruk bagi kelangsungan kehidupan warga yang bermukim di sekitar lintasan aliran air Kali Weya.

Tokoh Pemuda Kabupaten Paniai, Fransiskus Xaverius Magai, mengatakan, proyek pemerintah yang menelan biaya miliaran rupiah pada tahun anggaran 2006 dan dikerjakan oleh PT Modern Widya Tecnical (MWT) itu disinyalir tidak mengantongi ijin AMDAL serta pembangunannya tidak memerhatikan aspek lingkungan.

“Pembangunan jalan yang menghubungkan Enarotali-Dagouto itu tidak memiliki ijin AMDAL dan tidak memerhatikan aspek lingkungan. Pihak kontraktor hanya mengejar keuntungan semata tanpa melakukan uji kelayakan untuk memastikan apakah pembangunan jalan tersebut dapat berdampak buruk dari aspek lingkungan terhadap kelangsungan hidup masyarakat atau tidak,” katanya.

Fransiskus Xaverius Magai mengatakan, akibat dari pembangunan jalan itu, ketika musim hujan, arus Kali Weya dan kali-kali kecil yang bermuara ke Danau Paniai terhalang oleh badan jalan yang memeleh jalan air hingga air meluap dan menggenangi kebun-kebun, jalan dan rumah-rumah warga di daerah Kopo, Timida, Papato sampai Distrik Bibida. Begitupun yang terjadi di Desa Uwamani. Hal ini disampaikan pada Public Hearing Anggota DPR Papua, John NR Gobai, berthema ” Mencari Solusi Banjir di Sima Nabire dan Pendangkalan Danau di Paniai, di Jayapura, 12 Maret 2019.

Dalam Public hearing ini hadir juga Kasatker Pembangunan Jalan Nasional Nabire, Yanto Sirait yang hadir mewakili Kepala Balai Jalan Jembatan Nasional PUPR Wilayah Papua.

Hal yang sama pernah diakui Kepala Suku Mee Distrik Paniai, Agus Gobai, kepada Media Suarameepago.Com pada tahun 2012,Ia menyebut dampak yang dirasakan masyarakat saat ini akibat salah pemerintah dalam menentukan pembangunan jalan Enarotali-Dagouto.

”Daerah itu danau, rawa-rawa, dan kali yang dibendung dengan dibuatnya jalan. Pada musim hujan, air mengalir lewat kali, tetapi karena deras, meluap keluar. Dampaknya kita lihat, kebun dan rumah-rumah terendam,” katanya.

Ia juga menuding akibat dari pembangunan jalan tersebut, pada musim hujan seperti saat ini, arus Kali Weya dan kali-kali yang bermuara ke Danau Paniai menjadi terhalang hingga air meluap dan menggenangi kebun-kebun warga terutama yang bermukim di kampung-kampung seputaran Kali Weya.

“Hal ini telah merusak hasil kebun, menjadi busuk, rusak terendam air. Terus, rumah-rumah warga dan jalan umum juga tergenang air hingga masyarakat hidup dalam kesengsaraan,” ungkapnya. “Dampak berikut, warga gagal panen karena hasil kebun busuk terendam air,” katanya.

Ini dibenarkan Kepala Kampung Papato, Amatus Gobai, air kali meluap hingga menenggelamkan kebun-kebun dan rumah warga. Bahkan berdampak pada kondisi keluarga. “Air Kali Weya naik sampai sebagian kampung kami. Saat ini warga ada yang sakit, dan makanan sulit dapat karena kebun sudah terendam,”

Sementara itu  Anggota DPR Papua John N.R Gobay mengatakan, solusi yang didapat adalah segera menormalkan kembali aliran sungai Weya. Artinya Kontraktor segera menormalkan kembali air aliran air leluasa masuk ke Danau Paniai, Angkat sedimen ecenggondok di Danau Paniai dan muara muara sungai.

“Untuk jangka panjang Ruas Jalan Enarotali ke  Dagouto yg dikerjakan dengan APBD Propinsi Papua agar dihentikan dan dengan APBN ditetapkan sebagai jalan nasional ENAROTALI – SUGAPA – ILAGA kmudian jalan itu dialihkan melalui Timida, Papato, Bibida serta Kampung Toko, Badauwo serta satu ruas tembus melalui kodeitaka, Distrik Bibida tembus di Distrik Topiyai,” katanya. (Ugiwiyai/SM)

 

Sumber: tabloidjubi.co.id

 

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *