Cp: Direktur LPI Papua Samuel Tabuni saat berbincang dengan para medis di salah satu rumah sakit di papua (Wiyai/SM)

 

Jayapura, Suarameepago.com – Direktur LPI Papua Samuel Tabuni mengatakan, untuk bagun Papua harus membangun aspek  kesehatan dan pendidikan yang utama dan terutama.

“Selama beberapa hari saya ada di sini, saya mendengar langsung dari hamba-hamba Tuhan bawah satu hari selalu ada yang meninggal, yang dibawah keluar dari rumah sakit, sementara pendidikan pun saya mendengar hal yang sama, oleh sebab itu pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas,” kata Samuel, di depan kantor Bupati Selasa, (26/03/2019).

Semuel mengatakan, untuk membangun Papua secara umum di Papua banyak yang kurang, kekurangan itu adalah pendidikan dan kesehatan.

“Kalo manusianya sudah dibangun dengan baik dia akan sehat, kalo sehat dia akan cerdas, dan kalo cerdas, maka dia akan berguna di mana saja, sehingga kita di Papua umumnya dan khususnya di kabupaten Yahukimo kita harus benahi rumah sakit dan pendidikan itu sendiri,” ujarnya.

Samuel mengatakan, program pendidikan sendiri sudah menjalani di Papua di mana hal tersebut sudah mengirim orang asli Papua ke luar negeri untuk belajar, sekarang tahap selanjutnya yang akan keluar mengikuti beasiswa Rusia pada bulan Agustus.

“Jadi masalah pendidikan dan kesehatan ini kami sudah memulai, untuk memperbaiki itu tidak bisah dari bupati dan gubernur saja, itu akan lebih bagus kalo orang Papua ada di Senayan dengan posisi yang cukup untuk Ambil keputusan,” Pungkasnya.

Lanjut Samuel, untuk duduk di Senayan menurutnya, sudah saatnya untuk memilih orang asli Papua pada pemilihan umum  tanggal 17 nanti. “Lebih bagus memilih orang yang bisah merubah tanah ini, saya sendiri sudah maju dari partai Nasdem no 10. saya punya konsep pembangunan tentang kesehatan dan pendidikan yang layak. sebelum nya sekarang hal itu saya sudah mulai lakukan,” tambahnya.

Setela melihat langsung di Dekai dia harapkan, untuk anak dan orang tua harus ajar dan didik anaknya dengan tata kelola yang baik dan benar.

“Selalu biasakan anak untuk pergi ke sekolah dan siapkan sarapan ubi dan keladi karena ubih dan keladi makanan kita orang Papua, begitu juga dengan kesehatan,” Ujarnya.

Sementara, Panuel Maling mengatakan, sudah lima bulan berjalan pedagang yang menjual nasi kuning kepada anak anak sekolah di Kl 3  Jl Sarada sudah melarang keras.

“Awalnya sebelum melarang, banyak pedang yang bawah nasih kuning tiap pagi. saya amati dan lihat anak yang makan itu mereka punya muka pucat, sakit, dan dalam kelas selalu mengantuk,  makanya pada bulan November saya larang keras agar pedagang tidak bawah lagi,” Bebernya.

Panuel mengatakan setelah melihat perbedaan sebelum larang dan sesudah larang katanya, ada perubahan dulunya siswa yang mukanya Pucak macam sakit sekarang berbeda dan dalam kelas tidak pernah mengantuk.

“Sehingga masalah pendidikan ini harus bapa dan ibu yang punya anak, tidak boleh dikasih sarapan dengan makanan berminyak, nanti akan terpengaruh juga dengan kesehatan fisik,” jelasnya. (Wiyai/SM)

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *