Foto Ist: Danau Sentani

 

Oleh: Alfonsius Febryano Ade Putra, OFM

Berbincang tentang bencana memang semua merupakan siklus alam yang seharusnya mau tak mau harus kita hadapi atau mungkin diadaptasi sedemikian rupa agar terhindar efek samping dibaliknya.  Bencana bagi kaum intelektual merupakan isyarat bahwa alam punya sudut epistemik untuk dipahami dan dimengerti dalam kerangka logika, bagi kaum spiritual ini adalah keputusan Allah agar manusia berbalik untuk berharap pada pangkuan kasih-Nya, dan bagi kaum sekular semuanya nampak biasa saja, sebab adanya fenomena alam amat begitu lumrah dalam kehidupan manusia di bumi ini, bukan karena manusia berziarah ditengah ruang kosong yang tidak lain tidak bukan adalah cara berada mereka, melainkan hidup sebagai bagian dari semesta, di mana ada terdapat organisme serta seluruh siklus teratur di dalamnya.

Adanya ini mengingatkanku akan penjelasan Al-Farabi salah seorang filsuf Persia di abad pertengahan, ia menjelaskan semesta adalah letusan dari Sang Ada dan seluruh kehendak Sang Ada itu sendiri merupakan sebuah siklus menuju sebuah harapan bila adanya kesadaran manusia untuk secara tahu dan mau hidup harmonis dengan semesta (https://www.britannica.com/biography/al-Farabi). Menurutku memang demikian adanya harapan dari semesta kepada manusia

Kadang muncul persoalan apakah musibah dewasa ini merupakan kehendak Allah atau bukan? Mungkinkah sebegitu kejamnya Ia hingga mengakhiri jiwa manusia malang yang pernah ingin menggariskan sejarah di dunia indengan cara sedemikian rupai? Jawabannya pun berbeda pastinya tegantung dari sudut mana dapat ia mengemukakan pendapat yang mudah diterima oleh khalayak.

Namun aku bukan ingin menjawabnya, tetapi mengajak pembaca bermeditasi tentang hal ini, bahwa di balik semua fenomena ini masih terdapat kekosongan kita untuk menjaga harapan alam atas kita. Sesungguhnya mari berbalik pada bencana di Sentani 17 maret 2019 pada pukul 22.00 WIT, tepat saat tangisan keluarga korban mencari sanak saudara yang termakan arus banjir bandang.

Di manakah anakku? Bagaimanakah kabar saudariku? Dan masih banyak lagi pertanyaan untuk kejelasan dari semua akibat dari serangkaian perjalanan alam ini, hanya sungguh disayangkan bahwa kebanyakan doa dan harapan supaya sanak saudari dan kerabat ataupun keluarga mereka dapat selamat justru pada pagi harinya ditemukan tak bernyawa di dalam kantong jenasah. Kemalangan ini menjadi sorotanku, yakni saat raga benar-benar merasa begitu kehilangan dan merasa bahwa ada kekosongan dalam diri hingga mengakibatkan Tuhan menjadi sasaran bahwa Ia seolah-olah mengatur alam sesuka-Nya.

Sesungguhnya bila bermenung sejenak dan berdiam diri di tengah perjalanan hidup ini, Allah itu senantiasa memberi kebaikan di setiap waktu dan selalu tanpa pernah menutup mata menyaksikan seluruh tutur laku kita di dunia. Bagi-Nya seluruh keseharian dan kontak kita dengan semesta adalah tanggung jawab kita untuk menanggapi panggilan kasih-Nya secara konsekuen. Namun apakah refleksi itu? Kita menyatakan bahwa ini merupakan kehendak-Nya, sungguh amat menyedihkan bahwa kita lebih melihat ini sebagai ketetapan dari Allah untuk menyingkapkan rencana-Nya untuk manusia beralih menuju keterarahan pada Allah. Pernah kita membaca amanat Kristus, ‘berjaga-jagalah sebab kedatangan Anak manusia tak dapat diduga’ bagaimana kita mengerti hal ini? mungkinkah terbersit dalam pikiran bahwa bencana adalah rupa dari seluruh kehendak Allah menyingkapkan diri-Nya dan perlahan menghakimi kita?

Untaian Derita

Seluruh elemen masyarakat di bumi Cendrawasih sontak kaget mendengar kabar banjir bandang di Sentani beberapa hari lalu. Layaknya dentuman nan keras, hati public di tanah ini dilanda pilu dan rasa duka akan bencana tersebut, pasalnya memang Sentani cukup dikenal, karena menjadi pintu landasan penerbangan yang cukup dikenal oleh maskapai-maskapai local.

Apalagi mengingat ibu kota provinsi Papua berpusat di Jayapura, maka mau tak mau Sentani seperti labuhan awal bagi para wisatawan serta para oknum ‘berkepentingan’ dapat juga merupakan labuhan akhir bagi para traveller yang kian tak mau melepaskan kenangan indah sebab telah menikmati alam serta corak khas dari sekian banyak keaslian dari daerah ini.

Hanya mungkinkah keindahan bagi mata mereka saat ini dapat tetap memunculkan kekaguman saat lepas dari bandara Sentani dan melihat bahwa perbukitan sudah tak tampak hijau saat berada di daratan? Juga bagaimana tanggapan kaum berkepentingan, saat mereka memandang dari kaca pesawat perbukitan cyclop kian tak berbedntuk dan banyak mengakibatkan nestapa bagi wilayah pemukiman sekitar? Sungguh adanya hal ini memang tersembunyi dan bahkan lepas dari seluruh daya inderawi kita sehari-hari, karena semuanya terjalin secara sempurna, tetapi untaian ini seakan menjadi derita bahwa semangat penghijauan tinggal menjadi ruas penghayatan fakultatif belaka.

Satu minggu sebelum bencana aku teringat akan kiriman video dari WA grup saudara muda yang berisi tentang rekaman suara Mgr. Jhon Philip, Saklil. Pr di mana dirinya menandaskan pada bidang harkat manusia dalam menghidupi generasi baik kini maupun nanti. Kebersamaan dengan Allah untuk menata dan menjaga alam dan ciptaan adalah rupa amanat yang disalurkan oleh beliau dan sungguh menjadi titik tolak agar manusia semakin mengalami dunia bukan hanya diabdikan hanya demi kekuasaan, melainkan untuk menjaga dan merawatnya agar tetap begitu asri. Namun pretensi awal dalam suara prapaskah dari Mgr. John lebih kembali kepada manusia dan polemic di dalamnya, baik berupa kemiskinan, kemalangan, dan perlakuan yang kian membuat manusia semakin menjadi terpuruk.

Maraknya kenyataan itu memang kerap menjadi fenomena di mana lebih mengungkapkan pada upaya kapitalis masih begitu mendarah-daging di setiap prinsip hidup manusia. Bisa jadi bukan oleh karena gagasan revolusi seperti polemic komunis dan kaum kapitalis pada abad akhir abad-19 dan awal abad-20, melainkan lebih pada pemenuhan kebutuhan namun amat minim dengan keberlanjutan bagi anak cucu yang kini kian menjadi ilusi. Di tambah lagi akibat kemiskinan hal-hal yang dahulu masih dapat ditolerir melalui tahap rehabilitasi, namun kini dianggap sebagai criminal, contoh saja anak seorang petani miskin harus mendekam dalam penjara, lantaran hanya karena mengambil mangga di pekarangan rumah tetangganya.

Akibat kemiskinan pula manusia mau tak mau harus melakukan illegal loging kayu dan bekerjasama dengan oknum-oknum ‘white collar’ bukan karena ingin terlihat miskin, tetapi demi menafkahi hidup serta mensyukuri akan hari esok bahwa akan terjaminnya sesuap nasi. Untaian derita ini memaksa manusia menjadi 100 persen bersalah dan juga bisa jadi lemah untuk memandang sesama yang berkekurangan. Disinilah refleksiku, bahwa sesungguhnya persislah apa yang di katakan Immanuel Levinas bahwa ‘moral adalah tertawaan saat manusia sedang bergumul untuk memenuhi dirinya’ (Der Weij;2008).

Kejuran nalar dan untaian harapan

Lalu dimanakah letak alam dan harapan manusia dapat diletakkan? Setelah membaca salah satu artikel yang dimuat pada media Tifa.com berisi tentang surat salah seorang penduduk di wilayah BTN Gajah Mada dengan tembusan kepada pak presiden, individu tersebut mengemukakan duka bahwa daerah yang ia tempati terendam banjir bandang dan ia menyatakan Kami tidak marah dengan Bapak, kami hanya sedih kenapa rumah kami dibangun di atas lahan yang merupakan daerah resapan air, daerah permukiman sagu.

Dibangun dengan izin yang tidak jelas. Rumah kami dibangun oleh PT Agung Kusuma Jaya (AKJ). Kami tidak tau developer ketika membangun rumah kami mengantongi analisis dampak lingkungan (Amdal) atau tidak, yang menjadi salah satu syarat untuk mendapat izin dari Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk membangun. Kami tidak menyalahkan Bapak.

Hanya kami kecewa Kami kecewa juga dengan Pihak Bank Tabungan Negara (BTN) bank yang berpelat merah, BUMN di mana tim analisisnya harus menyelidiki terlebih dahulu keadaan di mana tempat pembangunan perumahan kami. Bentuk kekecewaan ini menjadi sebuah momok bagi pembelajaran makna, bahwa manusia dalam menentukan hidupnya bagi generasi kini dan nanti amat begitu lemah.

Developer seperti kurang begitu ikhlas dalam mengampu pekerjaannya, juga tak begitu terbuka memaparkan letak resiko rumah bersubsidi tersebut dari dampak yang akan terjadi ke depannya. Apakah mungkin hanya karena makan riba sikap demikian terpelihara hingga merugikan banyak pihak? Sebab bila dipandang oleh karena aspek ekonomi tentunya memberi sebuah anomali yang kian tersembunyi dan mengakibatkan banyak kontroversi.

Maka baiklah kita mengutip catatan abad pertengahan (medieval age) karangan Aquinas yang memang banyak membicarakan dan mengkaji bidang ketuhanan, tetapi ada sedikit point penting terkait kaidah ekonomi di dalamnya, yakni ‘keberatan pertama: penjual tidak harus menyatakan cacat barang yang dijual, karena penjual tidak mengharuskan pembeli untuk membeli. Penjual hanya cukup memberikan pembeli yang menilai sendiri.

Keberatan kedua: penjual tidak berkewajiban menyatakan cacat barang yang dijual, karena hal demikian dapat mencegah tradisi jual-beli….. Keberatan ketiga: bila penjual menyatakan cacat barang yang dijual itu, hanya akan menurunkan harga.. (namun) saya menjawab bahwa tidaklah sah membahayakan dan merugikan siapapun.. maka bila cacat itu tersembunyi dan penjual tidak menyatakannya, penjualan tersebut haram serta curang, dan penjual harus bertanggung jawab dan memberikan kompensasi atas kerugian yang terjadi.’’ (Summa Theologica. S. Medema dan W. Samuels, The history of Economic, hlm 21-22).

Demikianlah untaian harapanku terhadap kelaziman manusia dalam menentukan harkat relasinya dengan kosmos (arkhe), bahwa sesungguhnya kita ditakdirkan untuk mengatur alam ini sesuai konteks panggilan terciptanya manusia bagi alam semesta ini. Dan memang tulisan ini cukup berantai dan diambil dari banyak notifikasi yang masuk dari akun gmail.com dan setelah membacanya banyak menimbulkan cacat cela bahwa sebenarnya kita masih kurang untuk mempedulikan alam sebagaimana ia ingin hidup damai bersama kita dalam eksistensi ruang dan waktu. Maka harapanku jangan mengejar keuntungan dari alam tetapi hargailah ia dalam modenya sebagai sama-sama ciptaan seperti kita, dan pandanglah ia bahwa jiwanya akan tetap bermekaran bagi dunia dewasa ini maupun generasi berikutnya.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *