Foto dok. Pribadi Mikael Kudiai

 

Oleh: Mikael Kudiai

Di tulisan sebelumnya saya sedikit menjelaskan soal pentingnya pembangunan pasar khusus untuk Orang Asli Papua (OAP). Tetapi saya menyadari keterbatasan saya dalam menjelaskan dengan tidak begitu detail. Tetapi saya rasa maksudnya jelas: pasar bagi OAP adalah sebuah kebutuhan yang paling penting saat ini.

Nah, tulisan kali ini lebih menjelaskan bagaimana hubungannya dengan pengembangan pangan lokal, pengembangan seni dan budaya.

Tak sebatas memiliki hubungan, pasar bagi OAP sebenarnya memiliki beberapa manfaatnya. Selain tempat interaksi jual beli, juga tempat pengembangan pangan lokal dan pengembangan seni dan budaya.

Interaksi Jual Beli

Dalam proses pasar, produksi, distribusi, dan konsumsi adalah hal yang tak terpisahkan. Dan ini interaksi ekonomi yang dipahami dan selalu dijalankan oleh masyarakat umumnya.

Nah, pembangunan pasar bagi OAP, memiliki manfaat dalam hal interaksi jual beli yang teratur. Artinya, pasar tidak lagi akan menjadikan pedagang Papua, dalam hal ini mama-mama pasar untuk berjualan di pinggir-pinggir jalan, atau di tempat-tempat yang tidak layak.

Di Nabire, dialektika terbentuknya pedagang sekarang semakin kreatif. Mama-mama tidak lagi hanya berjualan bahan-bahan pangan, tetapi juga sekarang ada pernak-pernik budaya, seperti noken dengan berbagai motif, bahkan pakaian jadi dengan bahan dasar kulit kayu “bebi” (dalam bahasa Mee). Kondisi mereka tidak terorganisir dengan baik, terutama dalam hal distribusi dan konsumsi.

Persoalan paling utamanya karena belum dimiliki pasar permanen bagi OAP. Pedagang OAP terasing karena interaksi jual dan beli kebanyakan didominasi oleh para pengusaha dan pedagang migran kelas menengah.

Interaksi jual dan beli bagi OAP tidak berjalan seimbang. Akhirnya masyarakat asli merasa terasing dan tercipta sebuah ketergantungan ekonomi. Saya pikir disini letak persoalannya.

Pengembangan Pangan Lokal

“Dulu kita makan sagu, ubi, keladi, tapi sekarang kita makan nasi. Padahal ubi, keladi yang banyak proteinnya dibandingkan nasi.” Ini yang sering muncul dalam setiap diskusi-diskusi mengenai pangan lokal.

Lantas, dimana letak masalahnya? Yang perlu disadari, bahwa yang dulunya makanan pokok adalah sagu, ubi, keladi, dan sekarang adalah nasi, adalah konsekuensi dari kolonisasi. Dan ini tak bisa dipungkiri.

Apa pun alasannya, sekarang makanan pokok rakyat Papua adalah nasi. Ya, paling kalau ada yang mau berusaha tidak makan nasi, tapi paling hanya bertahan satu dua bulan saja.

Tapi bukan itu. Disini yang mau saya sampaikan adalah pasar OAP dan pengembangan pangan lokal.

Seperti yang sudah saya bilang, pedagang asli Papua, terbukti belum mampu mengelola usaha sembako dengan baik. Mereka lebih banyak menjual pangan lokal dan pernak-pernik seperti noken.

Kondisi mama-mama pasar belum memiliki pasar OAP, sampai saat ini menjual pangan lokal adalah salah satu hal yang paling penting untuk dilihat.

Mama-mama melawan arus modernitas, dalam kondisi keterasingan dan ketergantungan, di pinggir-pinggir jalan sampai pasar, yang mereka jual tentu adalah pangan lokal. Pangan lokal yang dibangga-banggakan oleh setiap orang Papua sebagai pangan sehat.

Pemerintah bahkan beberapa kali menetapkan pangan lokal sebagai pangan yang harus dikembangkan, tetapi dalam realitasnya masih belum.

Kondisi ini akan lebih baik, kalau dikbangkan dengan dibangunnya pasar OAP.

Pasar OAP akan menjadi pusat sentral pengembangan pangan lokal, uni, keladi, singkong, sayur mayur, daging, dan lain sebagainya.

Saya pikir pentingnya itu disitu. Dan memungkinkan akan semakin menjadi kebudayaan yang baru, untuk rakyat bersama bekerja mendorong pengembangan pangan lokal, baik generasi dulu, generasi kita, dan kedepan.

Pengembangan Seni dan Budaya

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Selain pangan lokal, pernah pernik budaya juga saat ini sudah didominasi oleh pedagang OAP, terutama mama-mama pasar.

Pasar OAP penting akan menjadi pusat penghangat muatan lokal, dan bisa juga tempat pengembangan seni.

Pernak pernik budaya diatur sedemikian rupa, dan menjadi pusat bagaimana orang Papua menjaga kelestarian budaya mereka.

Kesimpulan

Pasar bagi OAP adalah rumah untuk mereka berlindung dari badai kapital.

Mereka susah mengikuti arus kapital, maka harus dibangun dunia mereka sendiri. Dunia mereka untuk bisa menunjukan bahwa mereka juga bisa mengatur diri mereka sendiri.

Ekonomi adalah jantung maju mundurnya sebuah bangsa.

Papua hari ini didominasi oleh ekonomi kapital. Papua harus dibangun dunia mereka sendiri. Dunia mereka tak lain, dan sebuah solusi kecil adalah pasar OAP.

Tempat untuk menunjukan bahwa orang asli Papua tidak terasing dengan ekonomi kapital. Tempat untuk orang asli Papua membangun ekonomi kerakyatannya.

 

Mikael kuduai adalah: Aktivis kemanusian tinggal di Papua

 

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *