Jayapura, Suara Mee – Mahasiswa Tolikara di Jayapura melakukan aksi unik terkait dengan Penolakan Implementasi Undang-Undang 21 Tahun 2001 Jilid II. Mereka melakukan pemakaman, peti dan mereka memotong uang lalu menguburkan peti mayat bertuliskan almarhum Otsus di halaman asrama Pemerintah Kabupaten Tolikara di Yoka, Kelurahan Waena. Otsus sudah almarhum Rakyat Papua dimanapun harus mengetaui bahwa Undang-Undang 21 Tahun 2001 telah mati dan telah dikuburkan.

Hal itu disampaikan Koordinator Umum Mailes Towolom kepada wartawan usai menggelar mimbar bebas dan berakhir dengan pembacaan stetmen di Asrama Pemerintah Kabupaten Tolikara di Yoka, Kelurahan Waena, Rabu (29/7/2020).

Towolom mengatakan, alasan mahasiswa tolikara menyobek uang dan menguburkan peti mati tersebut unuk menolak rencana Pemerintah Republik Indonesia untuk memperpajangan implementasi Undang-Undang 21 Tahun 2001 Jilid II karena 20 Tahun Implementasi Otsus rakyat Papua tidak merasakan dampak dari implementasi Otsus.

“Kami saksikan di media massa, bahwa masyarakat Papua sedang menolak. Gelombang penolakan ini terlihar dari seluruh daerah di Papua. Sehingga kesempatan ini perwakilan rakyat kami menguburkan peti mati sebagai simbolis bahwa Otsus sudah mati dan kini kami sebut otsus Papua almarhum,” katanya.

Lanjut Towolom, amanah Undang 21 Tahun 2001 dari aspek ekonomi kerakyatan, pendidikan, kesehatan, Infrastruktur secara legal kewenangannya tidak diberikan kepada Pemerintah Provinsi Papua.

“Sehingga bagaimana pemerintah mau melakukan afirmasi kepada orang Papua sementara kewenagan tidak diberikan. Dampaknya hari ini orang Papua melarat di tananya sendiri,” katanya.

Mahasiswa menilai apabila otsus diperpajang justru akan memperpenajang penderitaan rakyat Papua yang menderita, melaratan di Tanahnya sendiri selama 20 Tahun Implementasi Undang-Undan Otsus.

“Kami sudah mengetahui bersama bahwa Otonomi khusus diberikan karena ada tuntuan kemerdekaan. Sehingga ketika rakyat menyatakan otsus gagal Pemerintah Republik Indonesia segera menggelar Referendum untuk merdeka dari Penjajahan Indonesia,” katanya.
Mailes Towolom menyatakan, aksi penolakan Otsus digelar lantas, undang-undang Produk Klonial sudah almarhum.

“Kami belum merasakan baik manfaat dari Pendidikan Ekonomi Infrastruktur, Kesehatan karena otsus dinikmati oleh elit. Sehingga kami mendesak untuk Refrendum untuk mredeka dari Klonialisme Indonesia,” katanya.

Ditemat sama Aktivis Pemuda dari Tolikara Ronal Wanimbo mengatakan, mengatakan, gelombang penolakan Otsus lantas, OAP tidak ada masa depan bersama Indonesia.

“Kami tidak butuh jaminan dari indonesia. Sebab Amerika indonesia menggeruk habis kekyaan alam kami, bahakan OAP dibunuh lalu kekayaan dirampas kami bukan pengemis di indonesia,” katanya.

Perwakilan Perempuan Tolikara, Dilera Towolom dengan tega menyatakan bahwa meskipun otsus sudah berjalan sselama 20 Tahun tetapi lihat mama-mama Papua masih berjulan di pinggiran jalan.

“Dari aspek ekonomi selama 20 tahun ini gaga total, karena mama-mama masih menjula di atas emperan-emperan Tokoh, di atas tana. Otsus sama sekali tidak memberikan manfaat bagi kami orang asli Papua,” tutupnya.

Reporter : Admin
Editor :-

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *