Oleh: Alexander Gobai

Mesti dan harus belajar dari pengalaman dan dari buku-buku pemimpin Dunia tentang Manajemen diri dan menjadi seorang Pemimpin yang professional. Apa kata Dunia, “Belajar dari Pengalaman adalah Guru Terbaik,” Pepatah kata itu menunjukan makna sebagai ungkapan nilai yang mendalam, bahwa sesungguhnya pengalaman merupakan senjata masa depan yang lebih cemerlang.

Masa depan pun, juga dapat dipahami sebagai pengalaman hari ini. Apa yang hari ini ditanam, besok akan dituai. Artinya pengalaman menjadi satu tolak ukur hari ini, menuju masa depan yang lebih baik.

Pengalaman Buruk menjadi batu loncatan agar menjadi baik. Dan Pengalaman baik menjadi pegangan untuk masa depan, karena dunia berubah, ketika diri pribadi berubah. Konsisten diri pribadi akan diuji dalam berbagai persolana hidup. Apakah, siapa menghadapi atau menyerah dalam persoalan. Diri pribadilah yang menentukan.

Sama hal, menjadi seorang pemimpin, mesti diuji di dalam diri pribadi. Apakah, diri pribadi siap untuk menghadapi persoalan?, Karena pemimpin mesti mampu merangkul, Konsisten dan Dipercaya. Amanah dan berkat yang diberikan orang, mesti dipertanggungjawabkan kepada, Alam, Manusia dan Tuhan.


Dalam bahasa Indonesia “pemimpin” sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, ketua, kepala, penuntun, raja, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah Memimpin digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara.

Istilah pemimpin, kemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang
sama “pimpin”. Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda.

Pemimpin adalah suatu lakon/peran dalam sistem tertentu; karenanya seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu mampu memimpin. Istilah Kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan ketrampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang; oleh sebab itu kepemimpinan bisa dimiliki oleh orang yang bukan “pemimpin”.

Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan – khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan. (Kartini Kartono, 1994 : 181).

Menjadi seorang pemimpin tidaklah muda. Banyak hal yang mesti disiapkan, diantaranya, Sikap, Etika, Moral, Pengetahuan, Religius dan lain sebagainya. Sebab, di dalam kepemimpinan, sesungghnya akan berhadapan dengan berbagai masalah yang datang dari berbagai mata angin. Siap menerima Kritikan, Caci Maki, Fitna, hingga pada kekerasan dan terror dan lainnya sebagainya. Dalam situasi itu akan diuji keberadaan keperibadian dalam menghadapi berbagai masalah.

Dalam konteks itu, Pemimpin mestinya mampu merangkul berbagai suku, ras, etnis dan agama. Tidak ada perbedaan dalam membangun sebuah daerah. Membangun sebuah daerah mesti juga memiliki sikap konsistensi. Sikap Konsisten menujukan sikap yang yang tidak bisa dikompromi dengan macam tawaran dan masukan-masukan yang melemehkan sikap konsistensi. Karena dalam sikap konsisten adapun kepercayaan yang timbul. Karena sebuah kepercayaan mesti dijaga dan dipupuk dalam kepemimpinan. Kepercayaan yang diberikan datang sekali dan harus dijaga dan dihargai kesempatan yang datang sekali itu.

Dalam wawancaranya, Bupati Paniai, Meki Nawipa setelah meloloskan CPNS 100 Persen di Live Noken, Nawipa berkata, Pemimpin harus menujukan sikap Konsisten dan dipercaya. Dan Pemimpin itu harus menjadi Quality Control. Artinya, meski berbagai persoalan dari berbagai mata angin, Meki telah menunjukan sikap konsisten sebagai putra daerah Paniai, Suku Mee dan itu berarti bicara soal Harga Diri Orang Mee.

Pernyataan yang disampaikan Bupati Paniai itu telah mengajarkan kepada generasi muda saat ini, agar belajar dari sebuah pengalaman dan dari orang lain. Karena 60 Persen, pengalaman adalah proses cara pandang seseorang menuju masa depan yang lebih baik. Pengalaman orang lain, mesti menjadikan pengalaman dan pembelajaran untuk diri pribadi dalam rangka mencapai masa depan yang lebih baik.

Selain itu, pemimpin-Pemimpin Papua, Lukas Enembe, juga merupakan Putra Papua yang selalu mengedepankan nilai konsistensi dalam mengambil kebijakan. Kebijakan yang berpihak bagi orang Papua. Hampir semua pemimpin-Pemimpin Papua, baik yang sudah meninggal dan yang masih ada.

Kelebihan yang dimiliki oleh pemimpin-pemimpin Papua adalah berkat dan itu amanah yang harus dikerjakan sebagai perpanjangan tangan dari Yesus, dimana hadir membela kebenaran dan keadilan bagi seluruh rakyat Papua di tanah Papua.

Akhir dari tulisan ini, Mari kita belajar dari Sang Pemimpin “YESUS”. Selamat Bermenung!

Penulis Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura Tinggal di Jayapura.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *