Oleh: Victor Yeimo

Theys H. Eluay menjadi tumbal Otsus. Jadi, apakah menamai Bandara Dotheys H. Eluay adalah Otsus membayar kepala Theys? Artinya, ini bukan bentuk penghargaan, tetapi ini penghinaan terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa Papua.

Karena memang Theys tidak berjuang agar Otsus lahir; ia menolak Otsus dan berjuang untuk kemerdekaan. Lehernya dicekik TNI atas perintah Presiden Megawati karena perjuangan kemerdekaan Papua Barat. Theys bukan pahlawan Otsus tetapi tumbal dari Otsus.

Theys sedang bicara. “Kau bunuh saya demi Otsus, setelah kau nikmati hasilnya, hingga di penghujung dana Otsus kau taru nama saya. Bukankah seharusnya kau namai Bandara Megawati atau Letkol Hartomo, pembunuh saya? Merekalah yang pantas diberi nama bandara Sentani” kata Theys dari liang kubur.

Setiap saat di pendopo, saat Theys hidup selalu bilang, “apapun, bahkan nyawa pun sudah saya pertaruhkan untuk kemerdekaan Papua”. Bukan untuk pembangunan, apalagi untuk bandara tempat akses masuk keluar kolonial. Lantas, apa hubungan bandara dan misi perjuangannya?

Apakah agar setiap penumpang mengenang, mengheningkan dan memperingati kejahatan kolonialisme? Atau sebagai pajangan dari hasil kenikmatannya diatas darah mendiang Theys H. Eluay? Maka, tidak pantas sebuah Bandara dijadikan lambang kejahatan dan penghinaan perjuangan bangsa Papua.

Bayar kepala Theys H. Eluay tentu bukan dengan penamaan fasilitas akses kolonialisme: bandara. Indonesia harus bayar kepala Theys H. Eluay dengan meluruskan sejarah politik bangsa Papua; memenuhi hak penentuan nasib bangsa Papua.

Theys Eluay harus dihargai sebagai martir perjuangan kemerdekaan Papua, bukan sebagai pahlawan pembangunan kolonial Indonesia di West Papua. Maka, di akhir Otsus yang trada guna ini, darah Theys menuntut keadilan dan kemerdekaan bagi bangsa Papua.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *