Jayapura, Suara Mee – Ketua Badan eksekutif mahasiswa fakultas ilmu sosial dan ilmu politik universitas cenderawasih kiri keroman mengatakan ruang demokrasi di Papua benar benar di bungkam oleh aparat TNI dan Polri .

Melihat Aksi yang di lakukan solidaritas Mahasiswa papua pada Selasa 27 Oktober 2020 kemarin adalah aksi yang bermartabat Mahasiswa mau menyampaikan aspirasi penolakan otonomi khusus jili II kepada majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai lembaga reprentatif orang papua.

Namun kata Keroman, Tidak ada ruang satupun di berikan, aparat keamanan sangat refresif Kepada masa aksi, kami di bubarkan dengan paksa oleh Aparat keamanan (TNI-POLRI) dengan membuang water Canon, menembak gas air mata bahkan membuang peluru,” katanya kepada Suara Mee Rabu ( 28/10/2020)

Demi mengamankan masa aksi agar bisa pulang dengan aman, sebagai penanggung jawab kami sudah menyerahkan diri kepada pihak aparat, namun pihak keamanan tidak mau,” katanya.

Maka kata keroman, kami menilai bahwa pihak keamanan sudah merencanakan untuk menembak masa aksi,” ujarnya.

“Pada pukul 12.00 siang selagi masa aksi di bubarkan, kesempatan itu aparat keamanan manfaatkan untuk menembak Matias suu di bagian lengan kanan, selain itu Notianus belau umur 21 tahun Kena peluru api di bagian betis, Matias soll umur 22 tahun kena peluru api di bagian tanggal kanan,” katanya.

Kata keroman, Jadi saat ini mereka sedang menjalani perawatan di rumah bersama keluarga,” katanya.

Sementara itu koordinator umum Manu varaiyaba mengatakan, Mahasiswa yang gelar ini terbagi di tiga titik di perumnas 3, expo Waena dan di Uncen bawah,” katanya.

“Pada pukul 9.00, Aparat keamanan dengan pakaian dinas lengkap menangkap 13 Mahasiswa yang sedang melakukan orasi di depan gapura Uncen bawah, di antaranya, Apniel Doo, Jhon F Tebai, Doni Pekei, Yabet Likas Degei, Meriko kabak, Orgis Kabak, Carles Yap, Ones Sama, Yanias Mirin, Arkilaus Lokon, Kristianua Degei, Laban helukan, selanjutnya di bawah ke Polsek Abepura,” katanya.

Sementara masa aksi di perumnas 3 di bubarkan Secara paksa oleh Aparat gabungan TNI-POLRI dengan pukulan dan membuang tembahkan kearah masa aksi, lalu masa aksi lari mengamankan diri menuju arah kampus Uncen,” ujarnya.

“Maka Aparat (TNI-POLRI) juga mengejar masa aksi sampai masuk di dalam kampus Uncen, hal ini tidak wajar polisi sudah melangar undang-undang,” katanya.

Lanjut Manu, pada hari ini Rabu 28-10-2020 Melalui lembaga bantuan hukum (LBH) Papua, 13 Mahasiswa yang di tahan sudah di bebaskan dari polsek Abepura,” Pungkasnya.

Reporter : Benedict Agapa

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *