Jayapura, Suara Mee- Melihat masalah sosial yang harusnya menjadi prioritas pemerintah kabupaten Deiyai, seperti penanganan luapan danau tigi yang melanda masyarakat tigi barat, dan masih banyak penyakit sosial lain yang harus di selesaikan.

Hal itu ditegaskan Fred tekege dalam jumpa pers yang digelar mahasiswa Deiyai kota studi Jayapura, diMega futsal Jumat (6/11/2020)

Menurut tekege, pemekaran 10 distrik dan 109 kampung menjadi Mala petaka bagi masyarakat Deiyai, hal ini pemerintah kabupaten Deiyai harus jelih melihat, jangan asal mekarkan saja,” katanya.

“Pemekaran itu hadir bukan kemauan dari rakyat itu sendiri, sebab saat ini masyarakat Deiyai tidak membutuhkan pemekaran, namun membutuhkan kesejahteraan dalam berbagai bidang kehidupan,” katanya.

Kata tekege, hanya 5 distrik saja pemerintah kabupaten Deiyai tidak mampu membangun dan memajukan Deiyai, kenapa harus mekarkan distrik dan kampung baru lagi,” ujarnya.

“Harusnya, pemerintah fokus membangun distrik dan kampung yang ada.

Selain itu Yulius Takimai, badan pengurus FKMD Jayapura, mengatakan pemekaran 10 distrik dan 109 kampung tidak sesuai dengan mekanisme dan tidak memenuhi syarat untuk memekarkan suatu distrik dan kampung, jumlah penduduk sangat tidak memungkinkan untuk mekarkan,” katanya.

Maka, kami mahasiswa deiyai tolak pemekaran itu, pemerintah harus membatalkan pemekaran 10 distrik 109 kampung,” tegasnya.

Sementara itu Gerson Pigai, salah satu mahasiswa Deiyai mengatakan, situasi kita ini masyarakat tidak membutuhkan pemekaran satupun baik kampung, distrik kabupaten maupun provinsi,” katanya.

“Maka, pemekaran kabupaten Deiyai harus membatalkan pemekaran 10 distrik dan 109 kampung yang sudah di sahkan dalam sidang ABT beberapa hari lalu,” tegasnya.

Pemerintah harus fokus, memberdayakan masyarakat Deiyai, dari semua bidang baik pendidikan, ekonomi kesehatan dan lainya,” katanya.

Selain itu kata Pigai, masih banyak masalah yang harus diselesaikan pemerintah secara serius seperti pelanggaran HAM di oneibo yang sampai saat ini belom ada titik penyelesaiannya,” ujarnya.

Reporter : Benedict Agapa

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *