Oleh : Hendrikus gobai kadepa

Dipelosok bumi Papua lebih khususnya wilayah Meepago, nilai kebudayaan dan kekerabatan melalui perspektif kelestarian adat semakin ketinggalan, dampak pengaruh lingkungan sosial, budaya dan doktrin luar, maka nilai kultural orang MEE yang sebenarnya telah dipunah didepan mata kita sendiri.

Jati diri sebagai orang “MEE” merupakan pelindung dalam konteks budaya untuk memaknai hidup lebih sejahtera, sehingga kini generasi muda dituntut untuk memperkokohkan tanpa menghalangi dari sistim kepentingan sosial dan budaya apapun yang bukan dari lazim kebiasaan orang Papua.

Hanya karena egoisme atau kepentingan hidup privat menonjol tanpa memperhatikan dan memandang kehidupan di lingkungan sekitarnya, maka terjadi perubahan penyimpanan dendaman sosial dan doktrin luar untuk menghacurkan lingkungan hidup orang Papua.

Kepentingan diri pribadi bukan budaya yang seutuhnya melekat pada orang MEE, tapi salah satu pengaruh yang berdiri dengan kejam dirasakan oleh lingkungan kehidupan orang MEE dengan tujuan untuk menghancurkan nilai kehormatan, kekerabatan dan kekeluargaan yang seutuhnya.

Dengan adanya wacana pemekaran kabupaten bahkan provinsi, hanya membawah malapetaka bagi orang Papua lebih khusus wilayah Meepago. Sebab kelestarian budaya sebagai anak adat, semakin hari runtuh dan telah punah dengan berbagai perspektif.

Kehidupan orang Papua tidak tergantung pada sistim pendidikan politik halus, tujuan menuju pada sasaran keseluruhan Orang Papua, selain ada rasa harga diri budaya dan kerabat itu sendiri.

Sistim politik halus merupakan salah satu perubahan budaya dan relasi antar keluarga, sehingga dapat membahayakan dan akan membangun karateristik tanpa adanya rasa keabadian hidup.

Salah satunya untuk perubahan yang bukan mensejahterakan masyarakat, ketika interaksi dibangun di tingkat dimana lingkungan hidup kaum masyarakat melalui sistim pemekaran Daerah Otonomi Baru [DOB].

“Adanya Pemekaran Daerah Otonomi Baru [DOB] tiada perdamaian antara sistim pengetahuan dan sistim kekerabatan, tetapi mengundang perpecahan rakyat, suku, marga, keluarga, kampung dan distrik di papua, demi memusnahkan manusia papua oleh orang papua yang pro kolonialisme,” kata, Daud Awipode Agapa, seorang intelek Papua.

Sehingga perubahan antara budaya dan kepribadian dalam konteks proses pewarisan budaya aslinya akan punah. Kasihan, kehidupan kaum yang lemah atau rakyat jelata kedepan.

Karena kini terjadi perubahan yang pengaruhnya luas akibat adanya perubahan yang mendasar bukan sesuai harapan, sehingga dampaknya mempengaruhi banyak aspek kehidupan di lingkungan masyarakat sekitarnya.

Kehidupan orang asli Papua kedepan, akan terpengaruh dengan doktrin budaya luar yang merupakan proses penyebaran atau perembesan kebudayaan dari pihak yang satu ke pihak yang lain, bukan budaya kita yang sebenarnya.

Oleh karena itu, pemekaran bukan perubahan untuk mengsejahterakan masyarakat jelata, melainkan pemekaran adalah kepentingan bagi para elite politik.

Dimana kita bertahan hidup berdasarkan budaya, supaya tidak ikut arus dengan doktrin budaya luar, yang selalu membangun budaya kejahatan dalam kehidupan orang Papua.

Penulis: Mahasiswa aktivis Fisip Uncen

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *