Oleh : Antonius Ukago

Pemekaran 10 distrik dan 109 kampung oleh pemerintah kabupaten Deiyai yang disahkan melalui sidang ABT, itu bukan kemauan seluruh komponen dan lapisan masyarakat dan alam Deiyai.

Namun itu hanyala kepentingan sepihak atau segelintir orang yang dimainkan demi mencari popularitas dan sensasi pribadi di masyarakat. Mengapa rakyat harus dipolitisir agar kepentingan pribadinya lolos dan berjalan dengan mulus. Maka perlu ada klarifikasi terkait Distrik dan Kampung yang di mekarkan.

Mengapa harus demikian karena selama kabupaten deiyai dibawa 5 distrik saja kuota penduduk tidak banyak Sehingga data masyarakat pun tidak fair.

Maka hal yang sangat penting untuk dilakukan adalah pemekaran yang disahkan pemerintah Deiyai ini, perlu tinjau kembali dalam hal, kuata penduduk dari setiap distrik dan kampung yg dimekarkan.

10 distrik di antaranya yaitu :
1. Distrik Bomou
2. Distrik Kibito
3. Distrik Waiyai
4. Distrik Kobobubugi
5. Distrik Debei
6. Distrik Deiyai
7. Distrik Bou
8. Distrik Butuma
9. Distrik Topapini
10. Distrik Membowa, dan 109 Kampung lainnya.

Sedangkan kalau kita kembali ke syarat untuk mekarkan sebuah kampung/desa, sangatlah clear, bahwa menurut UU nomor 06 tentang pemerintahan desa sangatlah jelas, syarat pembentukan desa khususnya pada poin : 1 dan 2. Jika kita konteks kan Kedua poin ini sangatlah tidak relevan dengan beberapa kampung/desa yang dimekarkan.

Jika kita melihat dengan data statistik penduduk Deiyai saat ini, maka sangatlah tidak memungkin untuk dimekarkan karena tidak memenuhi syarat.

Data data penduduk dari 10 distrik dan 109 kampung yang di mekarkan saat ini oleh pemerintah, itu hanyalah manipulasi yg dirancang oleh segilintir elit politik yang kerjaannya hanya senang mengotak atik se-keluarga, se-marga, se-suku, demi kepenting kelompok nya.

Masyarakat deiyai , jangan kita menipu diri dengan memanipulasi data penduduk, karena realita disetiap Distrik dan kampung yang ada saja, jumlah penduduk sangatlah minim. Jangan kita berkoa-koar dan nafsu tinggi untuk memuluskan kepentingan pribadi maupun kelompok.

Lantaran pemekaran, sisa manusia dan alam sebagian akan hilang. Hal semacam ini bisa kita buktikan, bahwa selama 5 distrik saja tidak ada kesejatraan dan perkembangan perubahan yang dirasakan oleh masyarakat. Justru menambah pelanggaran HAM dan masalah sosial lainnya yang terus terjadi.

Para intelektual deiyai yang berdiri indenpendent dan berbicara sesuai hati nurani masyarakat, harus membangun pemahaman yang lebih komprehensif artinya melihat semua dari kaca mata umum dulunya dan kedepan kehidupan masyarakat akan seperti apa agar tidak terjadi kecolongan. Dan harus memberi pemahaman dan pandangan tentang pemekaran itu seperti apa kepada masyakat, agar dengan pemahaman yang dimilikinya dapat menentukan pilihan yang tepat apakah menerima atau menolak pemekaran.

Intelektual itu harus berpikir yang panjang, dalam hal bagimana harus selamatkan manusia dan alam deiyai. Jangan kita buka jalan untuk pihak tertentu, masuk dengan terbuka, karena tidak lama lagi manusia dan alam deiyai akan dikotak kotakan hingga punah dari negerinya.

Dinilai dari induk kampung sampai distrik saja pembangunan belum sejatera dan kuota penduduk masih sangat minim, lalu pemekaran yang dimekarkan itu untuk siapa? para intelektual deiyai harus ketahui sistem yang sedang dimainkan elit politik demi kepentingan pribadi.

Dengan adanya pemekaran 10 distrik dan 109 distrik, ABRI masuk desa itu akan muncul untuk menutup ruang gerak masyarakat deiyai dari setiap aktivitas sehari hari. Maka pelanggaran HAM pun mulai merajarelah disana sini diseluruh pelosok kampung kampung yang ada saat ini.

Para intelektual anak negeri deiyai, kepintaran yang dimiliki harus kelola dan dimanfaatkan dengan baik-baik, karna terkadang dengan kepintaran, kita bisa mengorbankan masyarakat dan membawa malapetaka bagi kita sendiri.

Kemungkinan menutup tulisan ini, apakah kabupaten deiyai dibahwa 5 distrik selama ini mampu menuntaskan seluruh pelanggaran HAM berat yang terjadi dari tahun ke tahun, dan masalah sosial lainnya yang ada di deiyai, baik itu aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dan buadaya. Dan apakah deiyai dibahwa 5 distrik mampu mensejaterakan masyarakat dari kemiskinan dan keterbelakangan?

Kami menyadari bahwa, deiyai dibahwa 5 distrik margas-is, suku-is, egosentris dan iri hati semakin tumbuh subur, apalagi dengan adanya Pemekaran 10 distrik dan 109 kampung. Maka semakin lebar jalan untuk merusak keharmonisan dan kekearabatan keluarga, marga, kampung dan suku setempat untuk merusak budaya hidup benar yang sudah lama tertata.

Penulis adalah Mahasiswa uncen pada fakultas Teknik.

Editor Jheff Badii

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *