Oleh: Gembala Dr. Socratez S.Yoman (Ap Ndumma Nagawan Owaganak)

A. Pendahuluan

“Pengetahuan adalah kekuatan senjata saya. Iman kepada Tuhan adalah kaki saya. Pengalaman adalah kompas dan nafas hidup saya. Kebenaran sejarah adalah cahaya hatiku dan tongkat dalam hidupku”.

KARENA ITU, saya mau mengetuk nurani sesama manusia dengan MENULIS, demi penghormatan martabat kemanusiaan, kesamaan derajat dan keadilan. TULIS tentang penderitaan bangsaku. DIDIK penguasa Indonesia dan aparat TNI-Polri dengan MENULIS sebagai jalan bermartabat dan terhormat.

TULIS untuk MENGUBAH cara berpikir dan penilaian seluruh rakyat Indonesia yang sudah dicemarkan watak dan hati nurani mereka dengan berita HOAX tentang Orang Asli Papua yang diproduksi penguasa Indonesia dan TNI-Polri selama bertahun-tahun lima dekade ( 50 tahun) sejak 1969.

KARENA, dengan menulis kebenaran-kebenaran tentang bangsaku, setiap orang membela harkat, martabat dan kehormatan bangsaku Melanesia yang tertindas dan teraniaya.

Saya TULIS dan NYALAKAN cahaya kasih, kebenaran dan keadilan seperti sinar matahari di hati dan pikiran setiap orang yang bernurani suci.

Dalam tulisan ini, penulis mengumpulkan beberapa pendapat dan komentar dari para pembaca tentang artikel, opini, bahkan buku-buku yang saya tulis selama 19 tahun sejak tahun 2000-2019.

Artikel, opini, buku-buku dan pernyataan-pernyataan yang saya abadikan selama 19 tahun dan terus saya lakukan merupakan pertanggungjawaban iman saya, ilmu pengetahuan saya, dan itu satu keharusan dan kewajiban saya untuk rakyat dan bangsa saya rumpun dan ras Melanesia yang sedang mengalami penindasan dari penguasa Indonesia selama 58 tahun sejak tahun 1961.

SEBAB, SELAMA INI, saudara-saudara kami non Papua di seluruh Indonesia mendapat berira-berita dan informasi dari berbagai media hanya sepihak yang diproduksi dan disebarkan oleh penguasa Indonesia atas kepentingan pendudukan dan penjajahan di West Papua. Kebanyakan beritanya hampir 80% berita HOAX.

Karena itu, pengabadian dan penyebaran tanggapan-tanggapan positif dari orang-orang yang berbudi luhur dan bernurani suci ini sangat penting dan suatu keharusan bahkan hal yang MENDESAK. Supaya kebohongan penguasa yang sudah berjalan telanjang ini tidak merusak bangsa yang besar, yaitu Indonesia. Karena, Indonesia bukan milik penguasa, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia.

Saya meminta maaf dari sahabat-sahabat lain yang berkomentar dan sambutannya tidak diabadikan dalam karya ini. Karena terlalu banyak tanggapan, saya memilih berapa saja sebagai representasi dari keseluruhannya. Tuhan Yesus Kristus memberkati Anda semua.

B. Apa Kata Mereka?

  1. JM (Kamis, 21/11/2019)

“It is a beautiful article and very clear. I will send it to some children of Missionaries who I know”.

  1. CP (3 Oktober 2019)

“Bagus sekali artikelnya bapak. Sepakat dan mendukung pandangan Bapak Pendeta Dr Socratez S Yoman. Tulisan Bapak merupakan berkat. Semoga gereja Baptis selalu menjadi penerang dan sumber energi keadilan untuk Papua.
Terus membaca untuk menyuarakan kebenaran. Kalau yang Minta referendum orang Papua dituduh makar, kalau orang Aceh dibiarkan saja.”

  1. JM (Kamis, 21/11/2019).

“Mungkin dengan bahasa begini baru orang bisa mengerti. Kalau tidak, jadi malas tahu. Sobatku, tetaplah berjuang demi keadilan dan kebenaran.”

  1. FK (20 November 2019).

“Indonesia harus mengakui sejarah dalam buku-buku dan artikel bapak Socrates ini. Perlakuan tidak demokratis yang dilakukan oleh Indonesia terhadap Papua 50an tahun silam sampai sekarang bahkan menjadikan negara yang mengaku DEMOKRATIS menjadi negara non-demokratis.”

“Pengakuan demokratis hanya berlaku bagi sebagian wilayah di Indonesia dan bukan di Papua. Perlakuan demokratis hanya berlaku bagi seluruh etni di Indonesia kecuali Papua.”

“Papua yang seharusnya merdeka 50an thn lalu dibuat bergabung dengan Indonesia dengan cara yang tidak manusiawi, cara yang tidak beradab, dengan kecurangan yang dibuat dimana 1025 org asli Papua dipilih oleh ABRI (TNI)) utk mewakili keseluruhan org Papua.”

“Tidak hanya itu, mereka dipilih, lalu diancam oleh tentara utk memilih bergabung bersama Indonesia. Pepera dlm bahasa Inggris Act of free choice menjadi act of no choice.” (Sumber: Yoman: Kami Berdiri Di Sini, 2015 ).

“Selanjutnya, Papua yang seharusnya merdeka, diintimidasi oleh militer dengan cara membunuh, memenjarakan, disiksa, dianiaya agar supaya mereka tunduk pada pemerintah.”

“Satu kesaksian dari Piter Sirandan mengatakan kepada Pdt. Socrates saat membaca bukunya “Pemusnahan Etnis Melanesia” bahwa “kami benar-benar menipu orang Papua. Kami benar-benar menindas orang Papua. Kami benar-benar merugikan masa depan orang Papua. Kami benar-benar tidak menghargai hati nurani orang Papua untuk benar-benar mau merdeka.” ( Sumber: Ndumma Socrates Sofyan Yoman, Kami Berdiri di sini, hal. 78-79).

“Selanjutnya saya kutip satu kisah mengharukan yang dicatat Willem Campschreur kisah Victor Kaisiepo(alm) “Satu Perspektif untuk Papua Cerita Kehidupan dan Perjuanganku”
bahwa:

“Keseluruhan 1025 orang itu hanya ada satu orang, Eduard Hegemur yang berani berbicara. Di dalam rapat di Fakfak ia mengakhiri deklarasinya dengan kata-kata: ‘saya tidak dapat mengkhianati saudara saya Saul Hindom, saya tidak dapat mengkhianati saudarsaudara saya Nicolaas Jouwe, saya tidak dapat mengkhianati saudara saya Markus Kaisiepo, saya tidak dapat mengkhianati saudara saya Herman Wayoi dan kawan-kawan lain. Di sini saya tidak meminta kepada orang asing, tetapi kepada Republik Indonesia hak yang kami miliki.’ Tidak lama kemudian ia ditangkap dan dianiaya dengan kejam.” (Hal. 96).

“Pertanyaan saya, inikah bangsa demokratis? Inikah bangsa yang menggunakan PANCASILA sebagai dasar negara? Di mana keadilan sosial? Dimana kemanusiaan yang adil dan beradab? Yang ada hanya perlakuan tidak BERADAB!

“Pesan saya sebagai anak muda orang Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila Indonesia di mana di dalamnya ada kemanusiaan yang adil dan beradab, untuk Ndumma Socrates Sofyan Yoman agar supay terus memperjuangkan keadilan bagi rakyat Papua. Keadilan dalam segala bidang! Dalam kelas pemuridan waktu saya masih kuliah, dosen saya pernah mengatakan bahwa jika kita melihat ketidakadilan terjadi dan kita hanya diam saja, maka kita mendukung ketidakadilan terjadi.

“Pesan terakhir, saya ingin mengutip satu quote: Today I’am alone, you can kill me, but tomorrow there will be millions like me.

Salam bapak Socrates Sofyan Yoman. Tuhan melindungi dan memelihara bapak selalu.” Wa wa wa.

  1. VB ( 8 November 2019)..

“Terimakasih bapak karena share artikel-artikel. Saya jadi terus mendapat perspektif lain soal Papua, dibanding yang selama ini pemerintah Indonesia katakan.”

“Jahat sekali mereka memata-matai hamba Tuhan. Untuk apa mereka melakukan itu. Semoga bapak, selalu dalam keadaan baik dan tidak mempengaruhi pelayanan.” ( 6 Oktober 2019).

  1. SBD ( 8 Oktober 2019).

“Saya sering baca tulisan bapak di Facebook. Sangat berimbang, Karena saya yakin bapak membuat tulisan dengan fakta dan sesuai riset.”

“Selama ini, Saya dan mungkin orang lain yang kebanyakan tinggal diluar Papua hanya mendapat berita dari satu arah saja.”

“Sekarang saya sangat beruntung bisa berteman dengan bapak dan dapat menerima berita terbaru dan kondisi Papua.”

“Tindakan yang sangat tepat sekali, saya sangat setuju sekali kalau kita semua bertindak atas dasar kemanusiaan walaupun keyakinan dan keimanan kita berbeda.”

  1. S (2 November 2019).

“Napuluk waa (anak) kamu termasuk ahli sejarah dan rajin membaca baik sejarah Papua/Indonesia maupun dunia/Afrika.”

“Bapak sampe cape baca tulisanmu karena sangat banyak.”

“Bpk juga lihat di youtube diwawacakan oleh seorang wanita non Papua. Good!!!

Tulusan George Saa juga bagus. Munculkan anak-anak yg pintar-pintar seperti Socrates,George Saa dan lain-lain ini untuk diskusi tentang Papua.”

“Ini sudah saya tonton sampe habis. Bapak juga nonton wawancara Oktovianus Mote itu kakakmu cerdas (kamu lebih cerdas).

  1. A (8 November 2019)

“Terharu sekali membaca surat bapak… Maaf tanpa minta ijin saya sudah share…Kami terus mendoakan rakyat Papua.”

“Terima kasih pak Yoman, saya membaca dengan hati yg bergetar… Kami dapat merasakan sejak penambahan pasukan TNI & Polri, penangkapan, penganiayaan & pembunuhan tejadi di banyak tempat di West Papua….Ya Tuhan… Berikanlah kepada sdr/i ku West Papua kesempatan bebas menentukan nasib masa depan mereka yg terbaik. Agar anak cucu mereka dapat bersuka cita karena kekayaan tanah yg Engkau anugrahkan… Amiin…”

  1. KM (25 Oktober 2019).

“Saya selalu ikuti bapa punya opini lewat buku, artikel, dan youtube. Sayang sekali, buku yang bapak tulis tidak semua dijual di toko buku. Saya ingin kasih ke anak-anak murid biar mereka baca juga.”

“Saya bisa merasakan ratapan dan jeritan hati bangsa West Papua melalui rangkaian kalimat yang ada dalam artikel bapak.”

“Tuhan dengar. Tuhan dengar. Tuhan Allah tidak tinggal diam.”

“Rata-rata yang dishare, mereka dapat banyak informasi baru dari bapsk. Tidak banyak yang berkomentar lebih. Hanya memberikan beberapa emoticon tanda terima kasih karena sudah baca banyak informasi penting yang bapak tulis dalam artikel itu.”

  1. AP ( 31 Oktober 2019).

“Terima kasih sudah share surat terbuka tersebut, Pak Socratez. Sungguh berguna.”

“Terima kasih banyak utk penjelasannya yang komprehensif. Saya perlu mendalami agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan teman-teman saya di luar Papua supaya ikuti perkembangan di Papua. Mohon info. Apakah program transmigrasi Pemerintah Pusat ke Papua masih terus berjalan? Ada info yang bilang sudah dihentikan. Ternyata masih berlanjut ya.”

“Mohon maaf sekali atas jatuhnya korban selama ini. Saya sedih dan malu sebagai bagian dari Bangsa Indonesia. Saya (seperti juga mungkin Gus Dur dulu) sangat berharap masalah-masalah Papua bisa diselesaikan.”

“Saya pribadi memiliki pandangan bahwa orang Papua itu saudara saudari saya yang perlu dihormati dan tidak layak didiskriminasi dalam wujud apapun.”

“Orang-orang yg telah berlaku rasis dan mendiskriminasikan saudara saudari Papua harusnya merasa sangat berdosa dan malu melihat bahwa saudara saudari Papua yang sudah dihina ini malah membalas hinaan dengan dengan menyelamatkan ribuan warga pendatang, kebanyakan warga Muslim ketika pecah kerusuhan di Wamena. Terima kasih banyak untuk saudara saudari Papua dan mohon maaf sebesarnya atau tindakan rasis sebagian orang selama ini.”

  1. PT ( 2 Januari 2019).

Kesan pribadi saya: Ndumma sebenarnya pribadi yng BAIK HATI. Selalu mau membantu orang termasuk bantu Indonesia dan TNI. Tetapi….. jika itikad baik Ndumma itu dimengerti salah oleh orang yang dibantu dan mereka “menyerang” Ndumma..Maka..pada detik itu juga Ndumma berbalik “menyerang” mereka dengan MEMBONGKAR semua KEBENARAN dari awal sejarah Papua hingga detik ini utk selama-lamanyanya…..” Amin!

“Luar biasa. Saya justru ditelepon banyak orag tentang artikel ini. Kesan positif. Karena sumber penulisannya sangat kuat dari berbagai literatur berbobot.”

C. Kesimpulan

John McCain bersama Mark Salter dalam buku: Karakter-Karakter yang Mengubah Dunia mengabadikan 34 Kisah Orang-orang Berkarakter Mulia yang patut diteladani. Salah satu dari 43 tokoh mulia ini ialah Mahadma Gandhi.

John McCain bersama Mark Salter mengabadikan tentang nilai-nilai luhur yang diperjuangkan Gandhi sebagai berikut.

“….kebenaran yang menurut keyakinannya ada Tuhan di dalamnya. Ia tak membenci musuhnya. Ia berusaha mengubah mereka. Ia melihat kebaikan dalam diri mereka, meski kita mungkin hanya bisa melihat sedikit—dan berniat jadi contoh anti kekerasan serta persaudaraan dengan semua manusia untuk membangkitkan nurani moral penindasnya.” (2009, hal.18).

Keyakinan iman Gandhi yang dikutip ini dan pengalaman perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda menjadi inspirasi dan pelajaran sangat berharga hari ini bagi rakyat dan bangsa West Papua.

“Sukmatari, kau sudah melangkah. Jangan mundur. Tulis sebanyak-banyaknya tentang bangsamu. Bangsa tertindas yang selama berabad-abad membisu. Tulis, umumkan, jangan sampai tak melakukan perlawanan. Ingat gadis Jepara itu, ingat Mutatuli, ingat Hatta, ingat Suwardi Suryoningrat, Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, semua menggoncangkan sendi-sendi pemerintah kolonial dengan tulisan. Ya, dengan TULISAN! Menulis dan menulis sangat berbeda, ada orang menulis untuk klangenan, ada orang menulis untuk memperjuangkan sesuatu. Dan semua patriot yang kusebut, mereka menulis untuk memperjuangkan asas. Menulis hanya sebuah cara! Tulis Sukma.Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara. …” (Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Sukarno, Roman Zaman Pergerakan: hal. 201).

Saya sudah SEKOLAH. Karena itu,tugas dan kewajiban saya mengubah cara pandang dan berpikir orang Melayu Indonesia, terutama penguasa, TNI-Polri yang menduduki dan menjajah bangsaku hanya dengan jalan MENULIS.

Akhirnya, mari, kita sama-sama bernyanyi:

“Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-sia kan waktu yang Tuhan b’ri
Hidup ini harus jadi berkat.”

“Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat.”

Doa dan harapan saya, supaya tulisan ini menyadarkan rakyat dan bangsa West Papua, bahwa kita tidak sendirian dalam memperjuangkan hak hidup dan martabat kami di atas tanah leluhur kami.

Ita Wakhu Purom, Kamis, 21 November 2019

Penulis: Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *