Oleh : John NR Gobai

Pengantar
Masyarakat adat Papua mempunyai cerita cerita tentang perjalanan dan tempat tempat yang mempunyai ikatan spritual atau pengalaman spritual oleh para tokoh yang menjadi panutan atau tokoh utama dalam pembebasan yang mendapat kekuatan dari Tuhan Sang Pencipta untuk melakukan karya karya keselamatan bagi banyak orang.

Yesus berkata dalam Matius 5:17 ” Jangan kamu sangka aku dtang ke dunia untuk meniadakan hukum taurat, aku datang ke dunia untuk menggenapi Hukum Taurat”
Sehingga jangan ada pikiran bahwa adat dan spiritualnya adalah kafir.

Gua Maria Sendangsono

Jika kita tengok sejarah Gua Maria Sendangsono di Yogyakarta, kita mesti ketahui bahwa
Sendang Sono dinamai berdasarkan letaknya. Sendang berarti mata air, sementara Sono berarti pohon sono, sehingga nama itu menunjukkan bahwa sendang ini terletak di bawah pohon sono. Sendang beserta pohon sono dapat dijumpai dengan berbelok ke kanan dari pintu masuk, sayangnya anda tak bisa melihat sendang dengan leluasa karena bilik sendang kini ditutup dengan kotak kaca.

Sebelum tahun 1904, sendang ini lebih dikenal dengan nama Sendang Semagung, berfungsi sebagai persinggahan para bhikku yang ingin menuju daerah Boro, wilayah sebelah selatan Sendang Sono. Namun, sejak 20 Mei 1904 atau kedatangan Pastur Van Lith dan pembaptisan 173 warga Kalibawang menggunakan air sendang, tempat ini mulai berubah fungsi sebagai tempat ziarah umat Katholik.

Hal yang sama juga dikembangkan di Bali dengan Pura Pura serta upacara upacara yang mempunyai hubungan spiritual dengan Sang Pencipta dan masyarakat adat Bali.

Penutup
Dalam masyarakat Papua mempunyai Tokoh Tokoh mesianis yang mempunyai kisah spritual dan mempunyai ikatan spritual dengan sebuah masyarakat adat di Papua. Dan itu bukan kafir sama dengan pengalaman di Yogyakarta dan Bali, jika itu kafir apakah mereka di Bali dan Yogyakarta itu kafir, tentu tidak dan jangan kita berpikir agama kita paling benar,dan nilai nilai budaya dan adat salah, tentu anda salah karena Yesus sendiri datang untuk menggenapi Adat yang baik.

Untuk itu diperlukan adanya upaya mendorong perlindungan Tempat tempat keramat tersebut sebgai bentuk perlindungan budaya dan juga dikembangkan wisata spritual dan tempatnya dikembangkan sebagai cagar budaya agar ada zonasi yang baik agar tidak merusak kesakralan tempat.

Perlu juga dibangun rumah ibadah agar terjadi inkulturasi agama dalam budaya kemudian yang menjadi tugas pemerintah daerah adalah membuat regulasi daerah.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *