Oleh: John NR Gobai

Pengantar

Pada tempat keramat biasanya bersemayam tokoh leluhur yang semasa hidupnya memiliki karisma. Tokoh ini dimitoskan oleh pendukungnya dan dijadi-kan sebagai panutan perilaku kelompok orang. Mitos itu sendiri memberikan arah kepada kelakuan manusia. Lewat mitos ini manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian sekitarnya dan menangggapi daya-daya kekuatan alam (Van Peursen, 1992:37; J. Van Baal, (1987) mengartikan mitos adalah kebenaran religius dalam bentuk cerita yang menjadi dasar situs. Mitos ini merupakan bagian dari suatu kepercayaan yang hidup di antara sejumlah bangsa.

Agama dan Budaya

kehidupan manusia, agama dan budaya jelas tidak berdiri sendiri, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dalam dialektikanya; selaras menciptakan dan kemudian saling menegasikan. Agama sebagai pedoman hidup manusiayang diciptakan oleh Tuhan, dalam menjalani kehidupannya.

Sedangkan kebudayaan adalah sebagai kebiasaan tata cara hidup manusia yang diciptakan oleh manusia itu sendiri dari hasil daya cipta, rasa dan karsanya yang diberikan oleh Tuhan.

Agama dan kebudayaan saling mempengaruhi satu sama lain. Agama mempengaruhi kebudayaan, kelompok masyarakat, dan suku bangsa. Kebudayaan cenderung berubah-ubah yang berimplikasi pada keaslian agama sehingga menghasilkan penafsiran berlainan.

Berbagai ritual yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, sejalan dengan jumlah umat yang melaksanakan ritus-ritus tertentu dengan khidmat adalah sebuah perwujudan terhadap suatu keyakinan dan interaksi antara manusia (umat) dengan entitas tertentu yang mereka sebut dengan suatu yang sakral. Sakral sendiri menurut etimologi adalah sesuatu yang dianggap “suci; keramat”

Tempat Keramat adalah Budaya
Keanekaragaman warisan budaya tersebut memilki keunikan tersendiri, baik yang tumbuh dilingkungan budaya tertentu, maupun hasil percampuran antar budaya baik diwaktu lampau, saat ini maupun nanti, yang menjadi sumber inspirasi, kreativitas dan daya hidup.

Warisan budaya atau lazimnya disebut sebagai pusaka tidak hanya berbentuk artefak saja tetapi juga berupa bangunan-bangunan, situs-situs, serta sosial budaya, dari bahasa hingga beragam seni dan oleh akal budi manusia.

Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa “negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010, tentang Cagar Budaya, pasal 1 angka Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan :Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan karena memilki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Hal hal yang keramat di Meepago
Beberapa bagian yang merupakan keramat di Meepago selaian Tokoh Spritual adalah Daaokogo (Bahasa Mee; Mbaimaipa (Bahasa Moni); Daabuba (Bahasa Wolani);Tanah Keramat :Daamaki (Bahasa Mee; Mbaimaipa (Bahasa Moni); Daamaki (Bahasa Wolani);Gunung yang keramat :Daabago (Bahasa Mee; Mbaipigtt(Bahasa Moni); Daabutuguto (Bahasa Wolani); Sungal Keramat :Daaone (Bahasa Mee; Mbaidu (Bahasa Moni); Daauwo (Bahasa Wolani);Kayu yang keramat: Daapiya (Bahasa Mee; Mbaibo (Bahasa Moni); Daapiya (Bahasa Wolani);

Terkait dengan Tokoh Spritual dan juga tempat tempatnya maka dapat dikembangkan adanya Wisata spiritual sebenarnya sudah dipraktekan sejak dahulu kala, orang-orang dahulu melakukan perjalanan guna mengunjungi tempat-tempat yang dianggap suci dan keramat, serta melakukan konsultasi kepada para orang-orang dianggap suci menurut keyakinan mereka, tujuannya adalah untuk mendapatkan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang kadang sulit untuk dijawab. Pertanyaan yang berkaitan dengan jiwa, spiritualitas ataupun kepercayaan atau agama menjadi motivasi mereka melakukan perjalanan.

Masyarakat berkewajiban untuk melakukan Pelestarian dan perlindungan Tempat Keramat dengan merayakan upacara-upacara adat, memagari, melakukan pelarangan serta membuat Papan Informasi bagi umum tentang Larangan dan Perintah bagi berbagai pihak terhadap Tempat-tempat Keramat tersebut: Masyarakat berkewajiban untuk membuat peraturan dan mentaati peraturan yang dibuat dalam rangka perlindungan dan pelestarian Tempat-tempat Keramat;

Penutup

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010, tentang Cagar Budaya maka, terdapat kawasan yang Sakral, Yang berarti adalah sesuatu yang dianggap “suci; keramat” suatu waktu di tempat keramat dijadikan pusat kegiatan religious dan Wisata Spritual, yakni upacara persembahan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang dapat juga dibangun Rumah Ibadah sehingga terjadi Inkulturasi Budaya, sama halnya dengan berbagai tempat dan Upacara di Bali dan Jawa.

Pemerintah berkewajiban memfasilitasi Pelestarian dan Perlindungan Tempat-tempat Keramat dengan memberikan legalitas untuk Pengakuan dan perlindungan atas Tempat-tempat Keramat sebagai Cagar Budaya; Pemerintah berkewajiban untuk dalam melaksanakan pembangunan tetap memperhatikan Tempat-tempat Keramat Marga/Suku untuk tidak melakukan aktivitas Pembangunan, Pengelolaan Sumber Daya Alam.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *