Oleh : Amoye Pekei

Saya mengajak kita ke belakang saat – saat kemeriahan perayaan pesta pelantikan gubernur dan Bupati di Papua beberapa periode sebelumnya. Kemeriaan pertama saat berkampanye selanjutnya saat pertama kali dilantik di lapangan terbuka penuh dengan lautan manusia.

Mereka berkumpul sambil berpesta bakar batu dengan mempersembahkan ratusan Wam ( Babi). Hal ini sering terjadi di beberapa kabupaten kota. Kita banyak melihat dalam acara – acara diatas itu para pemimpin mencari dukungan rakyat yang banyak mengeluarkan biaya dan cukup menguras banyak sumber daya.

Semangat awal dari euforia itu menggemah sampai ke seluruh masyarakat di pelosok Papua. Seakan ada harapan baru menuju Papua baru menggemah di setiap kabupaten dan kota. Banyak masyarakat hadir dalam acara -acara itu dan hal ini telah membudaya. Ada banyak harapan besar masyarakat yang dibawa pemimpin kepada masyarakat, masyarakat ingin perubahan yang berdampak dalam tatanan kehidupannya mereka.

Ternyata untuk mewujudkan harapan itu harus berhadapan dengan tantangan yang lebih besar. Tantangan tersebut antara lain adalah tantangan internal dan eksternal. Tantangan internal antara lain menyatukan perbedaan baik itu menguragi kekurangan daerah dengan mengembangkan kemampuan dengan menggali dan mengembangkan potensi daerah baik itu SDA dan SDMnya dalam mewujudkan visi bersama.

Tantangan eksternal misalnya kebijakan pemerintah pusat yang tidak kontesktual serta menghadapi perubahan sosial budaya yang cepat akibat globalisasi. Tantangan internal yang disebutkan diatas yang paling rumit dihadapi adalah bagaimana memulai kerja dengan kesepahaman visi dari berbagai latar belakang.

Visi itu akan menentukan apakah semangat euforia itu akan berubah menjadi gerakan atau hanya sekedar ceremonial momentum yang melahirkan monumen. Banyak kegagalan pembangunan terjadi karena banyak kita hanya berkumpul dengan tujuan “keramaian”, tetapi tidak berpikir berkumpul untuk melahirkan dampak yang besar.

Kesatuan yang dibagun dengan kepentingan para politikus tidak akan melahirkan dampak akibat kesepahaman visi pembangunan. Upaya membangun visi adalah hal yang paling fundamentalis. Kita tidak butuh jumlah orang dan material yang berkumpul tetapi kita butuh kesepahaman visi dengan semangat yang tidak berubah dari semangat awal yang bermula dari kesatuan pikiran rakyat.

Tantangan diatas tidak cukup hanya dihadapi dengan sekedar euforia sesaat, tetapi butuh pikiran, tenaga, biaya dan waktu dan proses yang lama untuk mewujudkan harapan itu. Tantangan ini tidak saja menuntut semangat sesaat saja tetapi butug strategi yang baik di semua lini bersama mempunya satu visi yang menggerakan semangat awal itu berubah menjadi gerakan.

Kita telah melihat lambatnya capaian kita selama ini di Papua. Hal sama juga yang terjadi disetiap kabupaten kota yang berada di atas lima wilayah adat. Pembangunan tidak banyak menghasilakan apa – apa karena semuanya sibuk dengan banyak euforia – euforia sesaat tanpa acuan yang sistematis pembangunan yang berkelanjutan yang konsisten menjalankan rencana sesuai dengan aktifitas yang memberikan dampak langsung pada visi daerah.

Semua konsentrasi kita banyak mengurusi kegiatan pilkada hanya pada masa pilkada semua energi dihabiskan. Kemudian menebus pengorbanan hasil kontrak politik masa pilkada antara masa politik dan masa perayaan kemenangan politik. Cara – cara ini suda menjadi kebiasaan di masyarakat.

Kita terlalu pusing dengan kegiatan kegiatan kecil yang tidak ada hubungannya dengan visi kita akibatnya visi kita tidak berjalan dalam suatu garis lurus menjadi pedoman tatapi visi itu menghilang dimakan kegiatan euforia belaka.

Ada hal lain yang lucu semua Organisasi Perangkat Daerah ( OPD) tidak banyak berbuat banyak karena banyak menjadi pemain juga dalam kegiatan – kegiatan yang berhububgan langaung dengan politik. Banyak sumber daya yang digunakan dalam mensukseskan kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan visi yang perlu dikerjakan.

Hal ini terjadi ketika kita melihat banyak program prioritas yang menggema saat aeal aeal kemudian tidak lagi menggemah . Artinya ada banyak mereka berkumpul tetapi tidak memahami visi yang perlu dikongkritkan yang mengferakan sumber daya untuk membangungerakan mencapai visi pembangunan.

Kita saat ini butuh transformasi OPD menjadi ujung tombak kongkritkan visi dalam RENJA dan RENSTRA yang diimplementasikan menjadi RKA tiap OPD. Kita butuh orang-orang profesional bukan siapa yang berkontribusi dalam masa PILKADA atau siapa teman kita.

Seusai pilkada yang dipikirkan adalah bagaimana menyatukan perbedaan dalam satu visi. Kita satukan potensi dari kawan dan lawan kita. Karena di kubuh lawan ada rakyat kita dan di kubuh kawan juga ada rakyat kita. Habis PILKADA adalah membangun Rakyat.

Beberapa kabupaten kota saat ini telah selesai mempertanggungnjawabkan konsep visi dan misinya masyarakat telah menilainya melalui kegiatan debat dan kampanye – kampanye para calon. Saat ini masyarakat harus bisa mewujudkan akuntabikitas dari setiap upaya mencapai visi, dan upaya ini sangat berat karena harus siap menerima gugatan masyarat apakah yang direncanakan sesuai fakta, atau yang direncanakan lain hasilnya lain. Hanya pemimpin yang berkomitmenlah yang dapat dapat mewujudkan janji – janjinya dalam gerakan – gerakan yang searah dengan visi dan misinya. Tuhan memberkati.

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *