Oleh :Louis Kobak

Adakah Seruan Kidung pujian hari ini di Puncak ndugama. Adakah Natal di gunung Nduga seperti di daerah papua lainnya juga. Mereka juga mau merayakan natal Dan rasakan Natal biarkan mereka juga sambut sang raja di tanah yang sama tanah Papua. Kita mencoba untuk merasakan apa yang dong rasakan kami hanya bisa melakukan apa yang menjadi kewajiban Kami yaitu berdoa. Sebuah tangisan letubang menjadi sebuah kisah menyakitkan bagi warga Papua dan ndugama. Tanah Papua sedang tidak baik saja jikalah semua mabuk menjadi Raja, bintang timur akan segera tunjukan iringi doa Natalan anak Papua.

Sebuah kisah piluh dan teriakan batin terdengar dimana mana di seluruh Papua terlebih di daerah operasi militer seperti nduga dan bahkan Papua.
Tak di pungkiri operasi demi operasi militer di lancarkan di tanah ndugama sejak 1977, 1996, 2000 dan 2018-2020. Banyak orang nduga meninggalkan tanah leluhurnya dan di paksa pergi oleh timah panas, peluru dan deru tembakan. Bahkan ratusan penduduk mengungsi di daerah daerah bahkan kabupaten lain sejak operasi militer di lancarkan atas nama keamanan nasional. Tindakan tindakan militer indonesia menyebabkan generasi muda Ndugama mengalami fisikologi yang mengerikan di bidang Pendidikan, sosial budaya dan lainnya.

Dalam operasi milier Indonesia di Nduga-Papua selama 2 tahun dan 14 hari sejak 2 Desember 2018- Desember 2020, orang asli Papua telah meninggal 261orang. Jumlah ini ada yang ditembak TNI, meninggal di hutan karena kelaparan dan meninggal di tempat pengungsian.

Latar belakang operasi militer di Nduga.
Pada 2 Desember 2018 dimulainya operasi militer di Nduga. Perintah operasi militer dari Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo setelah 16 orang karyawan PT Istaka Karya ditembak mati pada 2 Desember 2018 oleh pasukan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) pimpinan Egianus Kogeya di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, West Papua.

Untuk mengejar pelaku penembakan ini, Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo mengeluarkan perintah operasi militer di Nduga. Perintah Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo sebagai berikut:
“Tangkap seluruh pelaku penembakan di Papua. Tumpas hingga akar” (Sumber: DetikNews/5/12/2028).

Perintah Presiden didukung oleh Wakil Presiden H.Jusuf Kalla dan ia memerintahkan: “Kasus ini ya polisi dan TNI operasi besar-besaran, karena ini jelas mereka, kelompok bersenjata yang menembak.” (Sumber: Tribunnews.com/6/12/2018).

Sejak 2 Desember 2018 Operasi militer di ndugama pecah banyak orang menjadi korban bahkan jurnal nasional dan berita tentang papua tersebar di mana mana. Kisah yang terjadi waktu itu sampai saat ini adalah luka busuk yang tak ada nilai di muka bumi. Dalam peristiwa Ndugama banyak orang mati baik itu anak kecil, orang dewasa bahkan yang sudah lanjut usia.
Pendeta Geyimin Nirigi adalah salah satu tokoh Gereja yang di siksa dan di suruh menggali kuburannnya sendiri serta menembak mati atas insiden operasi militer yang baru saja terjadi tahun kemarin.

Orang Papua di anggap rendah terbelakang dan tidak Mampu memimpin dirinya oleh Pasukan militer dan elit jakarta. Babak demi babak mereka gunakan dan rancang untuk mengkekalkan pemusnahan ras melanesia secara terstruktur dan masif. Kita di justifikasi sebagai tameng dan dalil atas setiap peristiwa tragedi yang terjadi yang sengaja di ciptakan oleh negara.

Kita benar benar ada di bawah kebrutalan TNI /POLRI yang menekan dan mengancam dengan moncong senjata. Di hakimi dengan cara yang tidak benar serta di hadiai oleh peluru dan timah panas. Hidup memang pahit rasanya banyak orang Papua yang di giring dan di tembak mati atas nama keamanan nasional. Mereka di kejar dan di adili di atas tanah leluhur dan bangsanya selama 58 tahun.

Negara semakin membuat genosida berskala nasional di tanah air west Papua, sejak 1 Desember 1961 sampai detik ini (2020) masih menguasai tanah hutan gunung dan semua hak hidup kami sebagai orang papua. Negara datang dengan kekuatan Militer berwatak memusnahkan dengan tipu daya yang kredibel. Kekuatan militer indonesia begitu besar sehingga hampir 30-an operasi militer bergulir sejak 1961.

Operasi operasi militer yang terjadi di tanah melanesia west papua memakan jutaan penduduk pribumi. Tak di pungkiri begitu cepat militer mengambil alih kekuasaan dan menghadirkan tanah penuh darah dan air mata. Dan merubah nama Pulau emas di ganti pulau yang penuh tetesan air mata.

Jantung persoalannya ialah pada pelaksanaan Pepera 14 Juli -2 Agustus 1969 penduduk orang asli Papua berjumlah 809.337 jiwa. ABRI (sekarang: TNI) pilih hanya 1.025 orang. ABRI menyiapkan penyataan dan peserta. Pelanggaran Ham yang terjadi beruntun juga menjadi persoalan yang rumit dan menyakitkan dalam sejarah orang west Papua.

Kesimpulan
Hari Natal telah tiba dan sejak misionaris hadir di tanah ndugama sampai dengan sebelum operasi militer berlangsung tanah nduga baik baik saja. Natal menjadi bulan penting bagi setiap orang, anak anak kota akan merasa merindukan kampung dan merasakan natal bersama orang tua di setiap dusun di tanah air melanesia west Papua. Namun sulit sekali bagi anak anak ndugama untuk merasakan natal seperti dulu, karena tanah air mereka di huni dan di ambil oleh mereka yang punya kekuasana, moncong senjata dan beda warna kulit dan ras.

Tradisi natal bersama yang sudah di bangun dari tahun ke tahun terpaksa harus terhenti akibat luka busuk dan luka batin yang di berikan oleh pemerintah RI. Di saat yang bersamaan pemimpin terbaik daerah itu telah pergi untuk selamanya kepada Allah bapa di surga beberapa bulan lalu di akhir tahun 2020. Hidup ini memang warna warni karena kebiadabaan TNI POLRI yang menguasasi tanah ndugama, intan jaya dan Papua semakin memperparah luka bernanah dan luka busuk di hampir 6 dekade terakhir.

Selamat merayakan Natal saudaraku Ndugama dan West Papua. Refleksi Natal tahun ini akan di jadikan ingatan tiada henti bagi generasi Papua turun temurun untuk mengenang dan memperingati sajarah kebiadaban yang di lakukan bangsa ini. Selamat membaca dan merefleksikan bulan natal yang penuh dengan darah dan air mata sebagian bumi west Papua pasifik barat daya ini. Henalabok!

Penulis(Louis Kobak) adalah :
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih Jayapura Papua.

Port Numbay, 13 Desember 2020

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *