Oleh Selekage Wita

Saya masih ingat. Sewaktu saya kecil, kalau tidak salah pada 2005 atau 2006. Semua gereja di keuskupan Jayapura, termasuk kring, sebuah gereja kecil di kampung saya dapat sebuah kalendar. Di dalamnya ada foto dari Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM dan orang-orang penting di keuskupan Jayapura saat ini.

Foto-foronya sangat banyak. Hingga saat ini di kapela santo Simon Sagesalo masih tersimpan dan tertempel di dinding gereja tua itu. Dalam foto itu dapat menunjukkan bahwa bapa Uskup ini melewati sungai, kali, bukit dan berjalan bersama anak-anak kecil sambil tersenyum dan terkesan sangat suka ria.

Selain memperkenalkan diri, sepertinya bapa uskup hendak mempromosikan visi misi gereja katolik Keuskupan Jayapura, yaitu: gereja yang mandiri dan visioner. Kemudian ini diganti lagi menjadi gereja visioner yang mandiri pada 2017 lalu.

Saya hanya sebatas membaca visi misi gereja katolik Keuskupan Jayapura. Tapi saya tidak membaca apalagi memahami isi dari pada buku kuning yang berisi tentang arah gerak keuskupan ini dibawah kendali Leo Laba Ladjar OFM pada waktu itu. Nantinya, saya baca buku kuning itu dari cover depan sampai belakang pada 2017.

Mulanya, saya belum tahu bapa Uskup ini baik. Tapi lihat dari foto. Dari foto itu kelihatan macam orang asli Papua. Makanya dari dulu saya kira uskup ini berasal dari orang katolik asal pesisir Papua, seperti di Keerom, Fak-Fak, Timika dan lainnya. Ternyata saya salah. Smoga sekarang kita smua tahu siapa sebenarnya.

Mulanya, hanya dengan melihat kesamaan warna kulit dan rambutnya, saya bangga dan penasaran. Hal itu ditambah lagi dengan senyuman yang nampak manis, tulus dan ikhlas. Kesan ini membuat saya meyakini bahwa bapa uskup ini sangat baik, akan lebih bersahabat dengan orang Papua sendiri, terutama mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam gereja katolik.

Tentu saja itu mungkin benar atau salah. Hehe

Pengalaman Di Masa SMA
Semenjak SMA, saya menjadi seorang pewarta di kapela santo Yohanes Yogonima, paroki ‘Kristus Gembala Kita’ Pugima, Dekenat Pegunungan Tengah, Keuskupan Jayapura. Kalau mau dibilang aktif, saya termasuk orang yang sangat aktif dalam kegiatan gereja maupun memimpin ibada pada setiap hari Minggu.

Dari kelas I sampai kelas III SMA saya habiskan waktu dengan pelayanan di gereja saya, yang jaraknya kurang lebih 50 km dari kota dingin, Wamena, kabupaten Jayawijaya, provinsi Papua. Setiap hari Jumat pagi atau sore saya ambil bahan bacaan dan renungan di paroki, yang dari kota Wamena berkisar 20 km.

Saya punya pengalaman hidup mengereja sejak saya lahir, besar hingga dewasa ini. Saya itu selalu ikut-ikut apa yang disampaikan bapa Paus, Uskup, pastor dan lainnya. Bersama teman-teman pewarta lebih banyak mengikuti pesan-pesan penting dari pimpinan kami, termasuk untuk merayakan hari-hari besar dalam tradisi gereja katolik.

Setiap hari Sabtu naik ke kampung dan pulang ke kota untuk sekolah pada Minggu sore. Kadang kala tidur di kampung karena main bola dan mengisi kegiatan lain. Lalu pergi ke kota untuk sekolah dari sana. Sebagian besar di masa SMA saya habiskan waktu seperti itu. Terakhir meninggalkan kampung pada 2012.

Kegiatan Natal, Paskah dan lainnya saya sering ikuti. Kegiatan orang muda katolik, dari kapela (sekarang disebut Komunitas Basis Gerejawi/KBG) hingga antara wilayah yang terbagi dalam wilayah I-IV di paroki, saya pun sangat aktif. Saya sering membawah lagu di gereja, memimpin perayaan Natal, Paskah di kampung dan masih banyak lagi.

Karena saya kuliah di Jayapura, saya tinggalkan pekerjaan gereja itu sama adik-adik yang putus sekolah atau sedang mengenyam pendidikan di SMP, dan SMA/SMK, antara lain; Ferius Hisage, Marsel Itlay dan dibantu lagi bapak Marselius Molama.

Pengalaman Di Jayapura
Pada tahun 2017 ini barulah saya baca buku kuning, termasuk bukunya Mgr. Herman Munninghof OFM tentang “KITA ADALAH GEREJA”. Saya sudah baca, bahkan kembali mereview buku tersebut sampai kini sudah tercatat lebih dari 100 halaman.

Saya lihat, isinya sangat bagus. Apalagi di dalamnya menyinggung tentang inkulturasi, yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Papua. Saya juga sudah membaca SK dalam buku itu. Tim perumus, dan tim inti rata-rata dari saudara/i kita dari non Papua.

Mereka sangat mendominasi ketimbang orang Papua. Orang Papua, terutama imam asli Papua palingan alam. Neles Tebai, dan Yan You. Hironimus Hilapok, mungkin saat itu masih aktif sebagai pengurus PMKRi cabang Jayapura St. Efrem. Hilapok hanya urus transportasi yang tidak terlalu penting bagi semua peserta sidang sinode keuskupan ini (2005).

Sedangkan kedua Pater tadi walaupun sudah senior, dan orang katolik asli Papua, mereka tidak berperan penting selain menjadi ikut-ikut, peninjau, pengamat dan lainnya. Piets Maturbongs, yang punya pengalaman dengan Herman Munninghoff OFM sekalipun tidak dilibatkan. Justru mengaku kecewa karena Sidang Sinode itu pakai konsep musyawarah pastoral dan mendikte dari bukunya Munninghoff.

Setelah membaca buku ini, saya mulai memahami keluh kesah umat katolik asli Papua pada belakangan ini. Banyak orang mengeluh karen nilai-nilai kearifan lokal Papua tidak nampak di dalam hirearki gereja Katolik Papua, khususnya keuskupan Jayapura. Pokoknya ada banyak kasus-kasus mengenai ini.

Beberapa kali, anak-anak gladi rohani, sebuah komunitas anak muda katolik dari Baliem di kota Jayapura membawah tarian di gereja-gereja atau pada hari-hari besar gereja katolik di kota/kabupaten Jayapura. Tapi bapa Uskup mengecam penampilan yang menggunakan busana tradisional itu.

“Kamu pakai koteka ini bikin malu saja. Tidak usah pakai koteka dalam acara gereja karena itu sangat memalukan”, kata Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM yang dikutip dari O. Itlay.

Namanya orang katolik asal Lembah Baliem pasti tahu tentang cerita ini. Kecil besar dominan, terutama orang yang pernah tinggal di Jayapura pasti semua tahu. Kami sebagai anak adat yang beriman sangat terpukul dengan larangan ini.

Kami merasa aneh ketika merefleksikan kecaman bapa Uskup dengan “gereja yang bercorak khas Papua” dalam buku kuning tadi. Kami merasa lain dan amat sedih. Karena kami kira busana tradisional itu sudah ada lama sebelum gereja dan bapa Uskup ada di Papua.

Kami rasa Tuhan, alam semesta dan leluhur kami tidak marah. Karena kami tahu kami tidak melakukan dosa. Kami rasa itu sebuah syarat sederhana untuk memuliakan Tuhan dan memastikan identitas kami yanv serupa dan segambar dengan Allah asal Papua, suku Hugula.

Tapi kami sangat sedih hanya karena angkat nilai-nilai kearifan lokal, bukan menarik sensasi seksualisme, busana tradisional kita dikecam oleh pimpinan klerus kami yang tercinta.

Kami rasa ini luka yang sangat mendalam. Karena kami kira pakai busana tradisional sesuai dengan nilai isu buku kuning: “gereja yang bercorak khas Papua”. Ternyata tidak. Justru membuat kami bertanya-tanya: lalu gereja yang bercorak khas Papua itu seperti apa?

Bukan kami sendiri saja yang alami. Teman-teman di Dekenat Pegunungan Bintang, keuskupan Jayapura mengalami hal serupa. Saya dapat informasi dari M. Almung, seorang wanita Katolik yang cukup aktif dalam kegiatan gereja di kampung halamannya, Dabolding.

Dia cerita kepada saya. Pada sebuah kesempatan, mereka memakai busana dan menyanyikan lagu-lagu rohani dalam perayaan misa menggunakan bahasa ibu. Tapi seorang pastor non Papua yang memimpin misa, meminta supaya umat tidak menyanyikan lagu menggunakan bahasa ibu.

Sebaliknya, ia menyarankan agar umat sana menyanyi saja dari Madah Bakti. Ketika ditanya kenapa, Alumung meniru pernyataan pastor: “bapa uskup larang. Bapa uskup minta supaya umat membiasakan [lebih sering] menggunakan lagu dari Madah Bahkti ketimbang lagu bahasa daerah, baik yang diangkat secara spontan ataupun dengan guitar”.

Saya tidak tahu di keuskupan lain terjadi seperti ini atau tidak. Tetapi kami rasa secara umum di Papua sama. Bahwa nelai-nilai kearifan lokal Papua dalam gereja katolik mulai terasa asing, jauh dan tidak nampak lagi. Semua nilai kearifan lokal semakin terkucil dari daminasi nilai-nilai heterogenitas dalam hirearki gereja katolik Papua.

Disini membuat saya merasa aneh, aneh dan aneh. Kenapa diatas kertas nampak indah, tetapi dalam realitas jauh dari buku kuning tadi?

Di kota Jayapura saya pernah aktif di KBG Gregorius, paroki Gembala Baik Abepura. Saat ini saat paling sering ikut misa di Paroki Kristus Terang Dunia Waena. Sering juga ikut di Paroki Santo Penebus Sentani, Katedral Jayapura, Kristus Juruselamt Kotaraja dlsb.

Bahkan sering pergi ke kapela, paroki di Keerom Kota, Pir IV, dan Senggi Waris sana. Di paroki kota, saya itu paling anti duduk di belakang. Selalu duduk di depan. Selama 8 tahun saya habiskan waktu di Jayapura, saya sudah terbiasa dengan cara seperti ini.
Disini saya duduk di depan bukan untuk cari perhatian, mencari popularitas dan lainnya. Tetapi saya duduk karena sangat penasaran dengan fenomena degradasi partisipasi umat katolik asli Papua. Saya telah lama mengikuti mulai dari pastor altar dan umat di bawahnya.

Saya itu dulu sangat aktif di kapela saya di kampung. Paroki juga saya aktif. Sampai pertama datang ke Jayapura sini, saya sangat aktif. Di celah-celah aktivitas kuliah, setiap hari Rabu saya ikut ibada keluarga di KBG yang saya tah bergabung.

Saya sudah tanya beberapa orang Papua, bahkan tenaga katekis non Papua yang rata-rata dari Key, Tanimbar, Ambon dan Maluku yang sangat berjasa besar bagi orang Papua, khususnya umat katolik Papua, yakni: di Keuskupan Agung Merauke, keuskupan Jayapura, Manokwari-Sorong, Agats, dan Timika

Banyak orang, umat katolik asli Papua dan non Papua yang tidak mau sembahyang karena beberapa hal, antara lain sebagai berikut: 1). karena nilai-nilai kearifan lokal dikecam, dilarang dan tersingkir; 2). peran strategis orang Papua dan non Papua di segala bidang karya pastoral dicoret, dipecat, dan banyak yang kecewa lalu mengundurkan diri secara tidak terhormat.

Bahkan ada yang katanya, malas pergi ke gereja katolik kalau yang pimpin Misa adalah pastor non Papua, atau pastor orang asli Papua tapi hotbanya tidak kontekstual dengan realitas hidup di tanah Papua. Rata-rata, semua tempat didominasi oleh non Papua, jadi orang Papua justru memilih untuk tinggal di rumah ketimbang ke gereja.

Mereka merasa nyaman tinggal di rumah tapi membaca Firman Tuhan, merefleksikan kehidupan sehari-hari dan berdoa kepada Allah dalam nama Tuhan dalam komunitas paling sederhana: satu atau dua orang yang berada dalam nama Tuhan ketimbang pergi ke gereja tapi bicara Firman di luar konteks, tidak mendoakan orang sakit, miskin, tertindas dan tidak membuat mereka tersentuh.

Baru-baru ini saya pergi ke Waris. Sembahyang di paroki Santo Mikhael Waris, Dekenat Keerom, Keuskupan Jayapura pada awal Desember 2020. Di hari Minggu Adven I itu dipimpin oleh Pater Hilarius Pekey, salah seorang pastor senior Papua.

Waris itu kampung bersejarah dalam konteks sejarah gereja katolik Papua, khususnya keuskupan Jayapura. Gereja katolik di keuskupan ini termasuk mulai bergerak dari sini, hingga menyebar di daerah pegunungan tengah Papua.

Saya sembahyang di kampung bersejarah tapi tidak ada satupun anak Waris atau Keerom pada umumnya yang menjadi pastor Katolik di keuskupan Jayapura selama 50 tahun belakangan ini. Hari Minggu itu saya duduk di tengah-tengah umat.

Di dalamnya ada orang asli Papua dan non Papua. Tapi lebih banyak anak-anak ketimbang orang-orang tua. Orang tua saya hitung tidak sampai 3 orang. Hanya bapa ketua Dewan Paroki dan satu orang yang malamnya menemani kami di Pastoran (saya lupa nama dari orang tua yang suka makan pinang dengan modal Gigi di samping atas bawah itu).

Dari lagu pembukaan sampai lagu penutup ini dinyanyikan dari Madah Bakti. Tidak ada satupun lagu bahasa daerah yang saya sangat rindukan diam-diam di samping seorang guru dan istri asal Flores, NTT yang lama bertugas di SD YPPK Waris dan mengangkat lagu rohani dari Madah Bakti semua.

Saya rasa Waris itu walaupun dekat ibu kota provinsi Papua, kota Jayapura, mernurut saya masih dalam kategori kampung. Misalkan, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat lebih banyak bicara bahasa daerah ketimbang bahasa Indonesia. Saya rasa umat masih ingat lagu-lagu daerah untuk menyanyi di gereja.

Tapi saya heran, kenapa dari pembukaan sampai penutup, lagu-lagu daerah tidak mendapatkan kesempatan? Saya sampai saat ini bingung dan tidak bisa menjawab. Tapi saya rasa ada fenomena yang sangat serius.

Sebelumnya, saya harap ada orang-orang tua yang tahu sejarah gereja katolik ikut misa. Tapi tidak hadir. Saya kaget ketika bapak DPP itu mengeluh karena ketidakhadiran tokoh-tokoh penting dalam paroki itu.

Saya cari tahu setelah misa selesai. Apakah karena tanggal 9 akan melakukan pesta demokrasi serentak jadi orang-orang tua tidak ikut Misa? Ternyata tidak sama sekali. Orang-orang kunci di gereja ini sudah tidak ikut sembahyang sangat lama. Tanggal 25 Desember sekalipun mereka tidak ikut.

Saya rasa dan sangat yakin, situasi ini persis sama untuk 5 keuskupan di tanah Papua. Pada belakangan ini orang katolik asli Papua tidak aktif dan jarang terlibat dalam kegiatan gereja. Hari ini mereka menyimpan misteri sebuah fenomena degradasi partisipasi umat katolik asli Papua.

Orang asli Papua itu identik dengan pondasi gereja katolik di tanah Papua. Orang Papua ada baru gereja katolik ada. Gereja hadir setelah orang Papua hadir terlebih dahulu. Gereja katolik Papua tumbuh, berkembang dan kokoh diatas pundak/pondasi orang Papua.

Pertanyaannya: apa yang akan terjadi ke depan apabila orang-orang kunci, sejarahwan gereja dan orang asli Papua yang menjadi pondasi gereja katolik Papua tidak aktif dalam kegiatan gereja?

Semoga itu bukan sebuah fenomena serius tentang marginalisasi orang asli Papua dalam hirearki gereja katolik di tanah Papua. Semoga pula bukan fenomena besar yang perlu dipahami sebagai persoalan fundamental tentang degradasi partisipasi umat katolik Papua.

Penulis adalah umat katolik Keuskupan Jayapura

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *