Jayapura, Suara Mee – Koordinator Komunitas korban tragedi 16 Maret 2006 Selpius Bobi mengumumkan bahwa tragedi 16 Maret 2006 yang di peringati 15 tahun silam sebagai hari matinya demokrasi di Tanah Papua.

“Karena apabila dicermati dengan baik dinamika sosial politik, hukum dan HAM di tanah Papua khususnya dan Indonesia pada umumnya yang tidak mencerminkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, Konstitusi NKRI, Deklarasi umum PBB, Kovenan-kovenan internasional serta peraturan terkait lainnya, tidak relevan di Tanah Papua,” kata Bobii dalam release yang diterima Suara Mee Kamis (3/18/2021).

Saat itu tanggal 16 Maret 2006, kira-kira pukul 12.25 WIT. Aksi demo telah berlangsung tiga hari lamanya, yakni; sejak tanggal 14 Maret. Massa pendemo menamakan diri dari Parlemen Jalanan dan Front Pepera PB. Intinya, mereka menolak keberadaan PT Freeport Indonesia di tanah Papua.

Mereka tetap duduk dan bertahan di jalan raya, tepat depan Kampus Universitas Cenderawasih, Abepura, Jayapura. Dengak sigap massa pendemo dibubar paksakan. Mereka dipukul. Dihajar hingga babak belur. Tidak pandang, laki-laki atau perempuan. Bahkan ada anak-anak kecil disekitar tempat para pendemo turut menjadi korban kebrutalan polisi.
Tidak terima dengan perlakuan aparat, mahasiswa balik serang. Polisi terus dihujani batu dan lemparan kayu. Tiga anggota polisi meninggal di tempat. Penganiayaan terhadap wartawan, Masa aksi juga meniggal dunia, penyiksaan, penahanan tersangka.Dari semua rangkaian peristiwa itu mengorbankan pihak pendomo dan pihak aparat dan masyarkat sipil.

Bobi mengatakan, tragedi 16 Maret 2006 diskenariokan oleh kaki tangan NKRI untuk mempertahankan PT. Freeport Indonesia. Sehingga Bobi meminta Negara Indonesia harus secara berani, Jujur dan terbuka kepada publik mengakui skenario mematikan di balik tragedi 16 Maret 2006 yang di rancannya dan meminta maaf kepada para korban 16 Maret 2006;
“Kami mengutuk keras tragedi kemanusiaan 16 Maret 2006 dan tragedi kemanusiaan lain yang selama ini terjadi di tanah Papua sejak 1 Mei 1963 hingga kini. Sehingga saya umukan bahwa tanggal 16 maret merupakan hari matinya demokrasi,”katannya.

Bobi mengatakan, PT.FI HARUS DITUTUP dan mari kita BERUNDING antar Amerika serikat, Indonesia, dan Papua sebagai pertanggung jawaban dan konpensasi bagi bangsa Papua yang di korbankan karena perjanjian kerjasama Secara pihak terkait exploitasi tamban.

“Sehingga kami menilai penting untuk pemerintah Indonesia dan Papua harus duduk bersama difasilitasi pihak ketiga yang netral untuk berunding mengakhiri penindasan,” katanya.

Bobi mendesak kepada presiden Jokowi agar segera membuka ruang demokrasi secara menyeluruh, membuka akses bagi wartawan asing masuk ke Papua untuk meliput berita yang berimbang, serta segera memberi akses bagi komisaris Tinggi HAM PBB berkunjung ke Tanah Papua;

“Presiden Jokowi segera hentikan kekerasan, hentikan operasi militer, hentikan pengiriman TNI, POLRI, hentikan penculikan dan pembunuhan, hentikan stigmatisasi dan diskriminasi, hentikan penangkapan dan pemenjaraan sewenang-wenang bagi aktifis HAM Papua, serta segera menarik pasukan non organik dari tanah Papua; cabut UU OTSUS Papua dan hentikan pemekaran Papua di Tanah Papua,” katanya.

Bobi mengatakan, Pendekatan keamanan dan pendekatan pembangunan kesejahteraan yang bias pendatang tidak akan pernah selesaikan masalah-masalah Papua, khususnya distorsi sejarah Bangsa Papua.

“Mari kita berunding antara dua bangsa (Indonesia dan Papua) yang setara, difasilitasi oleh PBB atau pihak ketiga yang netral. Disampaikan kepada semua komponen Bangsa Papua mari konsolidasi bersatu dan menggelar themu Akbar untuk membahas dan menentukan ‘masa perkabungan Nasional Papua’ selama 40 hari, 40 malam sebagai “masa tenang” merenung kembali perjalanan bangsa Papua Selama 59 tahun dan berkonsolidasi diri untuk pemulihan bangsa Papua,” katanya.

Reporter : Elhy Madai

Print Friendly, PDF & Email

By admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *