Dua Orang Papua dan Fashion Style Kondisi Tropis

Oleh George Saa

Kondisi Papua hari ini menjadi catatan penting kami anak muda Papua. Hari ini di sekitaran kota Sentani, saya melihat beberapa kondisi yang membuat saya ingin mencatatnya. Siang ini, saya melihat seorang Papua yang usianya tidak belia lagi jalan dengan pakaian yang agak kusut dan kondisi tubuh yang tidak terawat. Susah bagi saya untuk mengatakan apakah orang tersebut dalam kondisi yang memiliki ganguan kejiwaan ataukah itu memang penampilannya yang sebatas ini.

Muncul dalam benak saya, kita perlu punya sendiri clothing factory khusus untuk Papua. Papua ini panas dan rata-rata postur badan kami ini besar dan keringatan saat berjalan. Adakah fashion baju dengan bahan yang serap keringat dan kainnya halus di badan dan menolak panas? Adakah baju di desain khusus dengan size yang besar dan mengakomodasi postur tubuh kami? Adakah sebuah fashion style yang cocok untuk kita yang sering tabrak panas di jalan? Selain ini, saya pikir adakah suatu public policy yang mana kita memiliki akses untuk menyediakan segala bantuan kepada sosok yang saya sebutkan di atas? Saya pikir begini: saya bisa bertanya dan mencari tahu lebih dalam sosok tadi namun saya sendiri tidak punya rancangan solusi konkrit ketika saya tahu kondisi ril dari sosok sesama orang Papua ini.

Saya memang terbiasa untuk cari tahu dan bertanya kepada sesama orang Papua tanpa memiliki rasa kuatir akan balasan atau response dari orang yang saya tanya. Rasa ingin tahu tinggi memang sudah ada sejak kecil. Untuk kali ini, memang saya tidak mencari tahu lebih dalam tentang sosok orang muda yang saya temukan di jalan ini karena posisi saya dalam sebuah tugas yang di “di atur” oleh waktu yang sudah di commit. Mungkin ini menjadi seruan kepada kita yang ada di Papua untuk tidak ragu untuk mencari tahu kondisi sesama orang Papua saat mendapatinya di jalan atau di mana saja.

Sosok kedua yang saya temukan adalah seorang bapak yang saya temukan di Hawaii, Sentani. Ketika saya mengikat pohon natal di atas atas mobil, beliau mendekati saya untuk membantu saya. Setelah membantu, saya sampaikan terima kasih dan sedikit berbincang dengan beliau yang langsung jalan ketika saya hendak masuk ke dalam toko untuk membelikan air dingin sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya. Dari jauh, saya lihat sosok ini jalan menuju ke arah SMK Sentani atau ke arah hotel Suni Garden. Sepertinya beliau jalan tanap tujuan yang jelas. Sosok beliau dalam perhatian saya adalah seorang orang tua di atas 45an tahun. Terlepas dari ini, saya hanya pikirkan sebenarnya bapak ini sedang apa atau sedang ingin kemana. Mungkin di lain pertemuan saya akan lebih detil cari tahu tentang siapa saja yang saya temukan secara kebetulan di jalan dan melakukan apa saja yang dapat membantu. Saya rasa kecewa kepada diri sendiri karena pada saat itu tidak menanyakan kepada bapak tersebut dan memberikan bantuan kepadanya sebisa mungkin.

Secara umum, saya lihat kita di Papua ini sangat terbatas dalam cara berpakain. Kita di batasi dengan ukuran baju all-size yang di produksi dari luar Papua. Bahan kainpun saya rasa tidak disesuaikan dengan cuaca di Papua yang panasnya minta ampun dan kalau hujanpun, deras dan lama sekali baru berhenti. Mungkin kita yang muda ini perlu menjalakan suatu revolusi baru dalam dunia fashion di Papua. Saya menjadi tertarik untuk melihat adanya sebuah pabrik khusus yang spesialisasinya membuat baju dari bahan atau kain khusus yang nyaman untuk kita orang Papua.

Saya rasakan baju yang kita Pakai di Papua ini tidak nyaman dan penjahitannya tidak sesuai dengan postur badan kami. Juga, kadang tidak serap panas atau tolak panas. Kadang juga jahitannya tidak di sesuaikan dengan perut kami yang kadang lebih dari ukurang normal. Maaf maksudnya, untuk kami yang perutnya buncit karena kelebihan asupan lemak, karbohidrat dan kurang berolahraga. Ini belum lagi kalau bicara kain celana yang kadang di jahit dengan hasil membuat kami yang memakainya terlihat seperti badut (clown).

Saya kadang lihat orang kulit hitam di Amerika ini yang badannya melar, besar dan buncit kadang memakai baju yang sesuai dengan ukuran badannya dan sangat keren atau fashionable. Mereka memiliki penampilan yang enak di lihat. Dari pengalaman pribadi saya, yang pernah tinggal di Amerika, memang banyak dari ukuran baju yang size atau ukurannya benar-benar bervariasi dan sangat cocok untuk segala bentuk dan ukuran badan. Entah badan kurus dan atletis atau gemuk dan perut buncit, ada saja ukuran pakaiannya yang cocok untuk mereka.

Kalau di Papua, ini bisa di dapat kalau kita ukur sendiri ke tukang jahit atau penjahit. Baju hasil jahitan sesuai ukuran badan kita ini memang harganya di atas Rp. 300.000 untuk satu baju. Mahal di bandingkan dengan baju yang sudah available di toko-toko ritel. Ini membuat saya ingin sekali mengajak siapa saja di Papua ini untuk melihat peluang ini lebih khusus dan bisa merancang sendiri usaha baju atau pakaian yang ukurannya dapat dan cocok untuk badan kita orang Papua. Kalaupun pesan khusus, tetap saja ukurannya cocok dengan ukuran badan besar atau super size dengan harga yang terjangkau dari bahan kain yang ringan di pakai namun tidak tipis-tipis amat.

Intinya, wajah dan penampilan kita orang Papua, entah yang jalan di panas atau pergi bekerja di kebun, dapat kita ubah menjadi lebih keren dengan style yang khusus. Orang di benua lain khususnya negara dengan industri maju ini saya perhatikan saat kerja di kebunpun mereka terlihat sangat keren-keren. Kita di Papua juga mustinya bisa untuk hal ini. Ini sangat menantang dalam benak saya dan harus di mulai.

Kembali lagi ke topik awal. Sangat ingin sekali lihat kita orang Papua, entah itu orang dengan gangguan kejiwaan atau difabel ataupun yang jalan di panas atau bekerja di kebun bahkan yang mencari ikan di danau dapat memiliki akses ke pakaian dengan fashion yang stylist dan juga nyaman untuk kondisi tropis Ini.

situs
suarameepago

suaramee

Print Friendly, PDF & Email

admin

Berjuang dan berkarya untuk Tanah dan manusia Papua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

'Yo Miye' (Istri-Istri) Kepala Sukudan juga ikatan-ikatan Perempuan di Kampung Yakonde yang akan Siapkan Menu Lokal untuk Peserta Sarasehan KMAN VI (Irfan/Lintas Papua)
Berita Mamta Tanah Papua

‘Yo Miye’ Kampung Yakonde Siapkan Menu Lokal untuk Peserta Sarasehan KMAN VI

SENTANI Suara Mee – Ondoafi Kampung Yakonde, Nicolas Daimoe melalui juru bicaranya, Kepala Suku Douge Imea, Donald Tungkoye, kepada Tim Media Center dan Publikasi KMAN VI menyampaikan, masyarakat di Kampung Yakonde sangat bersyukur bisa menjadi salah satu titik lokasi atau kampung yang dipilih sebagai tempat serasehan dan tempat penginapan sebagian peserta KMAN VI 2022. “Kami […]

Print Friendly, PDF & Email
Read More
Berita Lingkungan Meepago Penkes Tanah Papua

Distrik Tigi Barat Melakukan Penanaman Papan Nama Larangan Perjudian Dan Masalah Sosial

Deiyai, SUARA MEE .com – Pemerintah Distrik Tigi Barat Melakukan Penanaman Papan nama Larangan Perjudian dan Masalah Sosial di Pertabatasan Distrik dan Perempatan Jalan Pada Senin, (06/06/2022). Kepala Distrik Tigi Barat Demianus Badii, Amd.Sos Mengungkapkan Menindak lanjuti Kesepakatan Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan bersama Intelektual Tigi Barat, Pada Tanggal, 19 […]

Print Friendly, PDF & Email
Read More
Berita Perempuan & Anak Tanah Papua

Group Ester akan Gelar Seminar dan KKR Pemulihan Tanah Papua

Jayapura, Suara Mee – Ketua Umum Aliansi Woman Papua Group Ester, Herlina Murib mengatakan, Doa Puasa menjadi target usai melaksanakan seminar sehari dan Kebangkitan Kebangunan Rohani (KKR) untuk Pemulihan Tanah Papua.Tujuan dilaksanakanya kegiatan ini guna pemulihan di Tanah Papua. “Panitia penyelenggara seminar dan KKR pemulihan tanah Papua memasung tema yang diambil dari perikop, (Matius 17:21) […]

Print Friendly, PDF & Email
Read More